Berita Terkini
Baubau

Sepenggal Cerita Relawan Baubau Bantu Bencana

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 19 Oktober 2018 12:50 WIB · 4 menit baca
Sepenggal Cerita Relawan Baubau Bantu Bencana
Tim Relawan asal Kota Baubau tiba di Pelabuhan Pantoloang Palu, Rabu pekan lalu

Sukarelawan Kota Baubau akhirnya kembali ke kampung halaman dalam keadaan utuh. Sepekan bertugas, tim sejumlah 25 orang itu memiliki kenangan tersendiri selama berjibaku di lokasi bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng).

Laporan-TEXANDI/BUTON POS

PARA relawan bertolak ke Palu, ibukota Sulteng dengan menumpangi KM Lambelu lewat pelabuhan Murhum, Jumat sore (10/10). Setelah melalui rute panjang Baubau-Makassar-Parepare-Balikpapa-Tarakan-Nunukan, relawan baru tiba di pelabuhan Pantoloang Palu pada Jum'at (5/10).

Mulanya, relawan berjumlah 28 orang. Namun, dua batal berangkat dan seorang hanya sampai di Makassar, tidak lanjut ke Palu. Mereka terdiri berbagai elemen, mulai dari unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), tenaga medis hingga mahasiswa.

"Dua hari setelah 28 September atau pasca bencana gempa dan tsunami di Sulteng, kita buka posko sambil mengumpulkan relawan di BPBD. Motivasi kita, pada intinya karena semangat kemanusiaan," kata ketua tim relawan Baubau, Mashuri, Rabu (17/10) malam.

Di dermaga utama Palu, relawan harus bersusah payah menurunkan berton-ton logistik dari atas kapal. Tak mengenal jenis kelamin, mereka bahu membahu menurunkan bantuan kemanusiaan itu selama 12 jam lebih.

"Kita turunkan logistik mulai jam sampa 10 pagi sampai setengah 11 malam. Saya sangat mengapresiasi semangat teman-teman relawan yang tak kenal lelah," ujar Kasubag Perencanaan BPBD Baubau ini.

Logistik dari Baubau itu kemudian ditampung di rumah jabatan (Rujab) Wakil Ketua DPRD Sulteng, Alimuddin Paada. Rupanya, pimpinan wakil rakyat dari partai Gerindra itu merupakan berasal dari tanah Buton. Atas kebaikannya pula, relawan Baubau diperkenankan tinggal di rumah Rujab tersebut.

Sehari dimanfaatkan istirahat, relawan mulai menjalankan misi kemanusiaan pada Jum'at (19/10) pagi. Ini pengalaman pertama, Kota Baubau mengutus relawan ke lokasi bencana. Mereka membagi diri menjadi tiga regu.

Regu I berjumlah enam orang bertugas dalam kegiatan Palang Merah Indonesia (PMI). Regu II terdiri dari 11 orang bergabung dengan Basarnas mencari korban yang belum ditemukan. Regu III berjumlah delapan orang bertugas menyalurkan logistik ke korban-korban selamat.

Sejak itu, relawan menjalani aktivitas kemanusiaan berdasarkan tugas masing-masing. Bangun persiapan mulai pukul 05.00 Wita, berangkat ke lokasi sasaran pemberian bantuan pukul 06.00 Wita dan kembali ke Rujab pukul 18.00 Wita bahkan terkadang sampai pukul 22.00 Wita. Pola hidup seperti ini dilalui setiap hari sampai berakhir masa tugas relawan.

Bukan berarti tanpa hambatan. Tidak jarang, relawan bagian pendistribusian logistik menghadapi korban yang enggan menerima bantuan beras per kilo, maunya per karung. Pembagian logistik, relawan memang terpaksa menggunakan formula 10 kilo beras, 20 bungkus mie instan dan satu dos air mineral untuk setiap Kepala Keluarga (KK)

"Rata-rata kita bagi logistik ke 200 KK setiap hari. Untungnya, beberapa yang sempat menolak beras kiloan bisa mengerti setelah kami beri penjelasan," ungkapnya.

Disela-sela rutinitas penanganan korban bencana, relawan juga kadang harus merasakan gempa-gempa susulan berkekuatan kecil. Tapi, fenomena mencekam itu tidak menyurutkan semangat membantu. Jiwa kemanusiaan inilah yang menuai pujian dari Alimuddin Paada dan Kepala Basarnas Sulteng, Basrano.

"Menjadi relawan bencana itu berarti kita sudah tahu konsekuensi. Memang selama ini hanya teori-teori saja. Sehingga meskipun ini praktek pertama kali, tapi kami tidak gentar melaksanakan tugas kemanusiaan," imbuhnya.

Kenangan berkesan juga dirasakan di waktu istirahat. Meski baru saling mengenal, namun bisa bercengkrama bak keluarga sendiri. Tidak mengenal status sosial, baik pejabat, tenaga medis maupun mahasiswa membaur bagai saudara.

"Diluar kebencanaan, kita seperti sudah saling mengenal lama. Mandi menggunakan satu kamar mandi, tidur melantai, makan malam kita lalui dengan canda tawa dalam suasana kekeluargaan," ceritanya.

Hingga tiba waktunya kembali ke Baubau, Selasa (16/10) pagi. Relawan menumpangi pesawat Hercules milik TNI AU dan mendarat di bandara Haluoleo Kendari. Kurang lebih satu setengah jam diatas pesawat, relawan melanjutkan perjalanan menuju Baubau menumpangi kapal cepat siang hari.

"Kami sangat berterima kasih kepada TNI AU mau memfasilitasi kepulangan kami. Di pesawat, isinya semua relawan dari Baubau. Waktu menatap Kota Palu, kami sedih bahkan ada yang meneteskan air mata. Tujuh hari berlalu, rasanya kami ingin tetap berkontribusi kepada saudara-saudara kami yang jadi korban bencana," katanya.

Kesedihan relawan, karena membayangkan keadaan korban yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian. Pun mengingat cerita anak-anak yang begitu dramatis.

Ternyata, seorang wanita kelahiran Kaobula Kecamatan Batupoaro ikut bergabung dengan kepulangan relawan. Namanya Siti, Ibu Rumah Tangga yang sudah lama berdomisili di Palu. Berkat koordinasi sesama relawan, Siti akhirnya bisa ikut pulang ke Baubau.

"Kita pulang ke Baubau bersama seorang warga Kaobula. Katanya dia (Siti) ingin memulihkan trauma di tanah kelahiran pasca tragedi gempa,"

Kepada, calon relawan Baubau gelombang kedua, Mashuri berpesan agar menjaga kesehatan, jaga kekompakan dan siapkan mental. "Karena yang kita bawa ini adalah nama Kota Baubau," pungkasnya. (***)