TMMD Buteng Bangun Masjid Mone yang Terbengkalai Tiga Tahun

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Pemerintah dan masyarakat Desa Mone, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah (Buteng) mengaku sangat bersyukur dengan adanya program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-103 di desanya dengan sasaran pembangunan Masjid Al-Miftahul Jannah dan pembuatan Deker.
Utamanya, pembangunan Masjid Al-Miftahul Jannah dengan ukuran 8x12 meter per segi yang sudah terbengkalai pembangunannya selama tiga tahun terakhir ini. "Masjid ini kita mulai bangun fondasinya 2015 lalu, tapi sampai 2018 ini baru terbangun dinding dan atap saja," ungkap Kades Mone Hamiru ditemui bersama Satgas TMMD dari Kodim 1413 Buton melakukan plester dinding masjid, Minggu (21/10).
Kades terpilih 2014 lalu ini menuturkan, terbengkalainya pembangunan Masjid Al-Miftahul Jannah di Dusun Topa ini, disebabkan pemerintah dan masyarakat Desa Mone masih fokus membangun Masjid Raya Desa Mone melalui swadaya yang sudah mencapai penyelesaian 90 persen.
-
Dandim 1413 Buton Letkol Inf Davy Darma Putra berbincang dengan Kades Mone Hamiru di luar masjid Al-Miftahul Jannah yang sementara direhab Satgas TMMD.
"Rencananya, nanti rampung dulu pembangunam Masjid Raya baru kita fokus lagi di Masjid Al-Miftahul Jannah ini. Alhamdulillah, ada program TMMD tahun 2018 ini yang mau menyelesaikan pembangunannya sampai 100 persen," syukur Hamiru.
Ia merincikan, bagian-bagian masjid yang akan dibangun TMMD diantaranya lantai menggunakan ubin atau tehel, plester dinding luar dalam plus dengan catnya, jendela kaca, pembangunan Mihrab Imam, plafon, tempat wudhu, dan tempat Mandi Cuci Kakus (MCK).
"Kami sangat bersyukur sekali dengan adanya TMMD ini, masuk ke desa kami membangun masjid dan deker. Justru masjid Al-Miftahul Jannah yang terbengkalai tiga tahun ini akan cepat rampung dari masjid raya Desa Mone yang sudah 90 persen penyelesaiannya," katanya penuh semangat.
Hamiru kemudian meriwayatkan, tempat berdirinya masjid Al-Miftahul Jannah ini dulunya merupakan sebuah bukit batu yang sama tingginya dengan masjid saat ini. Didalamnya ada lubang gua yang masyarakat setempat menyebutnya "Lia Ntade" atau gua yangb berdiri.
"Selesai dilantik menjadi Kades Mone 2014 lalu, pagi-pagi saya jalan-jalan di proyek jalan usaha tani yang masuk di desa kami. Saat itu ada alat berat yang masuk dan minta operatornya apakah bisa Li Ntade diratakan. Operator menyanggupi, terkecuali dibacakan dulu doa sama orang tua kampung," tuturnya.
Setelah dibacakan doa, Lia Ntade yang menjulang tinggi itu pun diratakan dengan alat berat. Setelah rata, Hamiru kemudian bersepakat dengan masyarakat untuk dibangunkan masjid. "2015 kita sudah mulai fondasi dan pelan-pelan dibangun sesuai dengan anggaran swadaya yang ada. Selama tiga tahun itu, baru dinding 8x12 dan atap yang baru terbangun," paparnya.(uzi)