Tahun Baru Hijriyah, Parade Tauhid di Negeri Khalifatul Khamis
Bagikan

PUBLIKSATU, BAUBAU - Ratusan massa Majelis Pencinta Rasulullah (MPR) Kota Baubau, menggelar Parade Tauhid dalam menyambut tahun baru 1441 H, Ahad (1/9). Mereka membentangkan bendera Ar-Rayah (warnah hitam) yang berukuran besar bertuliskan kalimat tauhid di jalan saat melakukan pawai keliling Kota Baubau.
Selain bendera besar tersebut, terlihat dari para peserta mengenakan penampilan muslim baik peserta laki-laki maupun perempuan sambil membawah atribut diantaranya bendera tauhid berukuran kecil.
Koordinator lapangan, Funarno mengatakan bahawa parade pawai tauhid digelar dalam rangka mengajak kaum muslimin agar menyambut masuknya tahun baru Islam 1441 Hijriyah.
Menurutnya, masuknya bulan muharam tidak sekedar memperingatinya secara seremonial, namun ada peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni hijrahnya Nabi Muhammad SAW, bersama sahabatnya dari Makkah ke Madina al Munawwarah.
"Hari ini kami gelar pawai bendera tauhid untuk menyambut tahun baru Islam 1441 H/2019 M. Di samping itu kami mengejak masyarakat agar menyambut momen tersebut apata lagi di dalamnya terdapat peristiwa penting bagi kaum muslimin," ujarnya.
Sementara itu, Hairudin saat menyampaikan orasinya menegaskan bahwa peristiwa hijrah Nabi SAW, dari Makkah menuju Madina adalah peristiwa paling menentukan bagi tegaknya Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem dalam intitusi negara ketika itu, yakni Daulah Islamiyah.
Sebelum, Nabi Saw membangun Daulah Islamiyah di Madinah, jelas dia, masyarakat Arab adalah masyarakat Jahiliah. Mereka bergelimang dalam kemusyrikan. Saat itu, kebanyakan orang-orang Arab berkeyakinan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, namun dalam praktiknya,
mereka membuat berbagai perantara untuk menyembah Allah. Ada yang menyembah malaikat dan menganggap para malaikat itu adalah putra perempuan Allah. Ada yang menyembah jin dan ruh terdahulu. Ada juga yang menyembah binatang, menyembah berhala.
Pada saat yang bersamaan, kebobrokan moral terjadi luar biasa. Mereka meminum arak, tukang mabuk. Pelacuran dan perzinaan di Jazirah Arab menajdi hal biasa. Pencurian, pembegalan dan perampokan juga menyeruak di mana-mana. Kekejaman dan kebiadaban bangsa Arab saat
itu bahkan sampai melampau batas kemanusiaan. Anak-anak perempuan yang baru lahir dibenamkan hidup-hidup ke dalam tanah. Mereka pun bergelimang dengan riba. Bahkan pinjaman dengan cara riba yang berlipat ganda (riba fadl) telah menjadi tradisi sehingga tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.
Dan secara politik, bangsa Arab saat itu bukanlah bangsa yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Dua negara adidaya saat itu,Persia dan Kristen Byzantium, sama sekali tidak melihat Arab sebagai sebuah kekuatan politik yang patut diperhitungkan.
"Namun setelah Hijrahnya Rasulullah dan para sahabatnya keadaan Arab perubahan total. Negara Islam yang dibangun Baginda Nabi SAW di Madinah berhasil menciptakan masyarakat Islam, dari sebelumnya masyarakat Jahiliah. Dengan sangat indah Rasulullah SAW menggambarkan Madinah al-Munawwarah saat itu dengan sabdanya, Madinah itu seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang kebaikan-kebaikannya,” mengutip hadir yang diriwatkan al-Bukhari.
Perubahan tersebut, jelasnya, dapat dilihat pertama dari sisi akidah yang dominan adalah akidah Islam. Bahkan akidah Islam menjadi satu-satunya asas negara dan masyarakat. Karenanya meski saat itu terdapat kaum Yahudi dan Nasrani, tapi aturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara keseluruhan adalah aturan Islam.
Kemudian dari sisi sosial penuh dengan kedamaian dan ketenteraman serta jauh dari berbagai ragam kemaksiatan. Perjudian diperangi. Perzinaan diberantas. Segala bentuk kemaksiatan dan kriminalitas dibabat habis melalui penegakkan hukum Islam yang tegas.
Dari sisi ekonomi, saat itu ekonomi berbasis riba benar-benar
dihapus. Penipuan dan berbagai kecurangan diberantas. Sebaliknya, cara-
cara yang diakui syariah dalam meraih kekayaan dibuka seluas-luasnya.
Dari sisi politik, pasca-Hijrah Islam dan kaum Muslim benar-benar mulai diperhitungkan bangsa-bangsa lain. Daulah Islamiyah yang dibangun Baginda Nabi SAW benar-benar disegani, bahkan ditakuti oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim.
Namun sekarang keadaan berubah menjadi sama dengan masyarakat Jahiliah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Wajar jika sebagian ulama menyebut kondisi sekarang sebagai ”Jahiliah Modern”. Apa yang terjadi di masa itu jahiliyah terjadi juga di masa sekarang ini, bahkan lebih parah dibanding masa jahiliah.
Karena itu, kata dia, sekarang kaum Muslim, bahkan dunia, memerlukan tatanan baru, yakni tananan yang dibangun berdasarkan ideologi dan sistem Islam. Alhasil, penting bagi kaum Muslim saat ini untuk mewujudkan kembali spirit hijrah.
"Di antara spirit hijrah yang paling penting adalah spirit penerapan syariah Islam secara kaffah. Spirit hijrah semacam ini sejatinya mendorong kita untuk segera meninggalkan sistem dan hukum
jahiliah, lalu menerapkan sistem dan hukum Islam," pungkasnya.
Pawai yang dimulai dari Pantai Kamali itu diakhiri dengan pembacaan doa di Pantai Kamali juga setelah melakukan jalan kaki keliling Kota Baubau.
Sehari sebelumnya, Majelis Pencinta Rasulullah juga menggelar Tablig Akbar di Khairul Ummah Kelurahan Kampeonaho. Dalam Tablig Akbar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, diantaran Ustadz Hamsah Abu Fatih, Ustad Saifullah, dan Ustad Adi Abu Bilal.
Dalam pemaparannya Ustad Saifullah menjelaskan, makna hijrah itu sendiri menurutnya hijrah yang berarti berpinda, apakah berpindah dari suatu kondisi atau berpindah dari suatu tempat.
Adapun makna secara syar'i, lanjut Saifullah, hijrah itu adalah berpindah dari keadaan yang tidak Islami menuju keadaan Islami. Kemudian berpindah dari tempat yang tidak Islami menuju ke tempat yang Islami. Hal ini kembali dicontohkan sebagaiman di zaman ketika Makkah saat itu masi jahiliyah mulai dari rusaknya moral, perzinahan, kejahatan kriminal, minuman khamar dan pembunuhan lalu kemudian Rasul mengakhiri semua itu dengan hijrahnya di Madina.
Lalu bagaimana dengan konteks hari ini, lanjut Saifullah, kondisi jahiliya saat itu masi dialami umat Islam saat ini bahkan lebih parah. Hal tersebut bisa dilihat tingginya angka aborsi yang mencapai 23 juta pertahunya begitu juga tingkat kejahatan lainya.
Sehinggah menurutnya harus ada kesadaran umat Islam untuk menghapus itu semua dengan tindakan hijrah sebagaimana Nabi SAW. Hal tersebut menurutnya diganti dengan kebaikan manakala ketika kaum Muslimin kembali kepada Islam secara menyeluruh.
"Mari kita cermati bersama kondisi hari ini mulai dari kerusakan moral pergaulan bebas dan perzinahan hingga berakhir pada aborsi, kemiskinan dan kejahatan lainya. Sehingga tak ada jalan lain, melainkan hijrah dengan penerapan islam kaffah," terangnya.
Sementara itu pembicara berikutnya Ustad Adikusiyut Abu Bilal menyerukan, solusi tuntas dari berbagai macam permasalahan manusia hari ini secara umum dan kaum muslimin secara khusus, tak lain hanyalah sistem pemerintahan Islam yang menerakan aturan pencipta secara menyeluruh.
"Sadar atau tidak, berbagai macam masalah, kezaliman, kemiskinan persekusi karena diterapkanya ideologi sekuler bersama kapitalisme dan sistem politik demokrasi. Sehinga yang dibutuhkan umat hari ini adalah dengan ditegakkan Khilafah sebagaiman ketika Nabi hijrah dari Makkah menuju Madina dengan ditegakanya Daula Islam," pungkasnya. (p5)