Lifestyle

Tak Cuma Beli Brand Luar, Milenial Ditantang Cintai Batik Tulis

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Rabu, 18 September 2019 01:02 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Tak Cuma Beli Brand Luar, Milenial Ditantang Cintai Batik Tulis

PUBLIKSATU, Kain dan busana batik kini mulai diminati anak muda. Khususnya kaum milenial. Tak hanya dipakai saat acara resmi atau formal saja, tetapi juga mulai dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Hal itu tergantung cara padu padan busana batik yang digunakan.

Meski begitu, harga batik tulis dan batik cap masih dirasa tinggi oleh sejumlah kalangan termasuk milenial. Tingginya harga batik tulis dikarenakan prosesnya yang memakan waktu lama. Sehingga tak heran jika membuat harga kain batik bisa mencapai jutaan rupiah.

Tak jarang pula tingginya harga batik tulis membuat kaum milenial memilih produk import dengan motif yang di-print. Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengakui, harga batik tulis masih tergolong tinggi sementara berbagai kain printing dengan motif batik begitu murah di pasaran.

“Batik itu kan metode. Kita diserbu oleh produk luar negeri dengan tekstil bermotif batik. Komunitas sudah tahu permasalahan ini. Maka lakukan proteksi bahwa batik adalah batik tulis dan batik cetak, kalau printing itu bukan batik. Kondisi ini memukul industri batik dan nasional,” jelasnya dalam konferensi pers menyambut Hari Batik Nasional 2 Oktober bersama Yayasan Batik Indonesia di Jakarta, Selasa (17/9).

Triawan menyebut subsektor fashion menyumbang lebih dari Rp 20 triliun pendapatan negara. Maka jika sektor fashion terganggu oleh kain impor motif batik murahan, tentu memukul para perajin batik.

Solusinya, pihaknya bekerja sama dengan para perajin dan desainer untuk membuat batik Streetwear atau Daily Wear yang lebih bisa terjangkau oleh milenial. Selain itu, mempersingkat rantai penjualan kain batik agar harga yang dijual bisa terjangkau.

Triawan menilai banyak anak muda yang rela merogoh kocek baju mahal untuk label impor dan semestinya juga mampu menghargai para perajin batik. “Beli baju mahal saja mampu kok, masa beli batik produk dalam negeri enggak mau? Apalagi banyak yang dijual sangat murah sekali sarimbit cuma Rp 30 ribu, itu kan enggak benar,” tukasnya.

Sementara itu, pengenalan batik sebagai busana juga bentuk salah satu upaya pelestarian budaya. Menyambut Hari Batik Nasional 2019 dengan tema ‘Membatik untuk Negeri’, Yayasan Batik Indonesia pun terus menggaungkan semangat membatik.

Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Jultin Ginandjar Kartasasmita menjelaskan, untuk mempertahankan pengakuan UNESCO untuk Batik Indonesia sebagai warisan budaya diperlukan tindakan nyata. Yakni lewat preservasi, edukasi dan inspirasi kepada masyarakat terhadap aset yang dimiliki.

“Kami berupaya untuk menggaungkan terus semangat membatik melalui acara-acara dan serangkaian aktivitas yang dilakukan tahun ini. Upaya lainnya kami terus melakukan riset menggali apa sih tren warna batik atau gaya dengan kain batik yang sedang tren di kalangan anak muda,” tutup Jultin. (JP)

Bagikan