Mendegar Cerita Pengungsi Soal Kengerian Tragedi Wamena
Bagikan

Warga Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mengungsi dari Kabupaten Wamena Papua ternyata jauh lebih banyak. Jumlah pengungsi susulan bukan hanya 87 orang, melainkan 111 orang terdiri dari dewasa dan balita.
Laporan: Texandy-- Buton Pos
MEREKA tiba di Pelabuhan Murhum Kota Baubau, Selasa (15/10) kemarin sekitar pukul 12.30 Wita. Para perantau yang terdampak tragedi berdarah Wamena itu menumpangi kapal milik PT Pelni, KM Dobonsolo.
Jumlah mereka 111 orang. Dari jumlah tersebut terbanyak warga Kota Baubau sebanyak 45 orang. Selebihnya, Kabupaten Muna 27 orang, warga Buton Tengah 22 orang, Buton Utara 7 orang, Muna Barat dan Buton Selatan masing-masing 3 orang, Kota Kendari 2 orang, serta Buton dan Bombana masing-masing satu orang.
Tak lama turun dari kapal, kesehatan mereka terlebih dahulu diperiksa oleh dokter. Satu persatu mereka diperiksa sebelum dingkut menuju rumah jabatan (Rujab) Wakil Wali Kota Baubau.
Hasil pemeriksaan dokter Pelabuhan Murhum, sebagian pengungsi terutama balita memiliki suhu tubuh yang tinggi, utamanya balita. Hanya, belum ada hasil saja diagnosa lengkap suhu tinggi tubuh tersebut.
Sama dengan 17 pengungsi sebelumnya, 111 orang tersebut juga disambut Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau di Rujab Wakil Wali Kota Baubau. Pengungsi juga diberi kesempatan berkeluh kesah kepada Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse.
"Anak-anak kita tidak boleh putus sekolah. Jadi, kalau mau sekolah dan ujian, laporkan ke kami. Begitu pun yang dari daerah lain, laporkan pada pemerintah setempat," jelas Monianse di hadapan pengungsi.
Sementara itu, pengungsi kelahiran Mandonga Kota Kendari, Arman mengaku sudah lama tinggal di Wamena. Dia bahkan sudah punya usaha bengkel sepeda motor disana. Malang, bengkelnya menjadi sasaran pembakaran dalam kerusuhan.
"Kejadian waktu itu malam-malam, banyak orang datang dan bakar rumah-rumah termasuk bengkelku. Untung saya dan beberapa orang lari dan bisa lolos," kenang Arman.
Kondisi Wamena, menurut dia, saat ini belum begitu aman. Terakhir, kerabat di Wamena mengabarkan bahwa ada lagi dua orang tewas ditikam pakai pisau.
"Kita belum akan kembali ke Wamena dalam waktu dekat. Kemungkinan nanti tahun 2020, itu pun kalau situasi sudah kondusif. Cuma, sekarang ini kita masih mencemaskan masa depan pendidikan anak-anak," pungkasnya. (***)