Menggali Potensi Siswa yang Ramah Lingkungan

UPAYA meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya dari segi kompetensi akademik siswa yang terus diperhatikan. Melainkan kualitas kondisi siswa menjadi faktor pendukung utama peningkatan kualitas sekolah. Apalagi dalam penerimaan siswa baru, tidak melalui seleksi akademik. Mengingat lokasi sekolah tersebut berada di luar Kota Rembang dan program KB berhasil di desa sekitar sekolah. Sehingga, terwujud lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran yang sehat, nyaman, dan membentuk siswa yang kreatif yang bisa diandalkan di sekolah tersebut.
Dalam kegiatan masa jeda semester I ini, sekolah memanfaatkannya untuk menggali potensi siswa guna mewujudkan kreativitas. Kreativitas yang bisa menjadikan anak-anak punya rasa percaya diri akan kemampuan atau keterampilan yang ada pada dirinya masing-masing.
Saat ini, sampah merupakan masalah serius di negeri ini. Dengan kreativitas, sampah yang tadinya menjadi masalah sebagai barang buangan, kotor, berbau, menimbulkan penyakit, dan mencemari lingkungan dapat menjadi barang yang bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Di sekolah banyak sampah plastik bekas bungkus makanan, minuman kemasan, bongkaran dari bangunan kelas, dan kayu bekas bangunan. Sehingga, untuk menguranginya harus mencari cara bagaimana agar dapat diperoleh kerajinan/keterampilan daur ulang dari barang-barang bekas yang ada di sekolah. Sekaligus memprosesnya menjadi kerajinan tangan, berupa sesuatu yang menarik, dan memiliki nilai jual.
Adakalanya keterbatasan memberikan ruang bagi lahirnya sebuah kreativitas. Seperti pada penggunaan kembali barang-barang yang telah tak terpakai, sebuah kreativitas dapat menuntun untuk memanfaatkan barang-barang tersebut sebagai fungsi yang baru.
Dalam prinsip daur ulang yang dikenal dengan istilah recycle atau reuse. Prinsip reuse ini memberikan kontribusi bagi lingkungan dengan menghemat energi yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang.
Reuse dalam sebuah hunian dapat berupa pemakaian kembali material konstruksi, seperti pecahan batako/bata, maupun penggunaan arsitektural seperti pintu, kusen, dan sebagainya. Barang-barang bekas yang sudah tidak digunakan lagi sering kita buang dengan cuma-cuma. Padahal di mata orang yang cerdas, barang-barang tersebut masih mempunyai nilai manfaat dan nilai ekonomis.
Maka dari itu, pada kesempatan masa jeda selama empat hari, sekolah mengagendakan lomba pojok literasi kelas, taman kelas, dan seni menyelipkan kain perca (kimekomi). Di samping itu, juga ada lomba yang menggali bakat dan minat siswa seperti menyanyi, khithobah, membuat poster, cipta puisi, dan cipta cerpen. Dengan harapan, lomba antarsekolah bisa terealisasi dengan cepat dan tepat.
Dalam lomba pojok literasi kelas penggunaan arsitektural, diutamakan dengan prinsip reuse untuk dekorasi dan hiasan-hiasan furniturnya. Kantong plastik bekas dibuat kerajinan bunga untuk mempercantik penampilan pojok literasi dan buku-buku bacaan bekas dikemas rapi guna mendukung Gerakan Literasi Sekolah. Lomba taman kelas berupa pemakaian kembali material konstruksi bangunan untuk dibuat kolam ikan dan pernak-perniknya. Botol bekas minuman mineral atau soft drink dibuat pot gantung. Sedangkan lomba menyelipkan kain perca (kimekomi) untuk hiasan dinding yang nantinya dapat digunakan untuk melengkapi pajangan hasil karya siswa. Di samping poster dalam rangka persiapan lomba perpustakaan sekolah.
Semoga kegiatan masa jeda di sekolah dengan tujuan menggali potensi siswa untuk menumbuhkembangkan minat dan bakat siswa di bidang nonakademik bisa meraih asa. Sehingga menjadi ajang publikasi sekolah menuju ke sekolah Adiwiyata Sadar Lingkungan yang telah ditargetkan tiga tahun mendatang. Selalu bergerak langkah demi langkah karena sekolah ini termasuk sekolah kecil yang sumber dana masih minim.
Harapan sebagai salah satu pendidik di sekolah bisa mewujudkan kreativitas siswa yang ramah lingkungan. Sehingga bisa dijadikan lahan pekerjaan setelah tamat sekolah karena masih ada yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA. (radarkudus/jp)