Buka Bimtek, Roni Muhtar: Perpustakaan Sangat Penting

PUBLIKSATU, BAUBAU - Bimbingan Teknik (Bimtek) pengelola perpustakaan yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Baubau, kemarin diikuti 60 orang pengelola perpustakaan kelurahan. Bimtek juga dihadiri sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Saat membuka Bimtek, Sekretaris Kota (Sekot) Baubau, Dr Roni Muhtar mengungkapkan perpustakaan sangat penting. Apalalgi pengembangan perpustakaan di daerah selaras dengan program Gubernur Sultra, Ali Mazi. Kedepan, di Sultra akan dibangun perpustakaan bertaraf internasional.
“Artinya Baubau harus ikut serta dalam pengembangan perpustakaan ini. Kita harus kompak, bersatu dan membangun visi bersama. Kita harus terus optimis bahwa kita bisa dan mampu,” pintanya.
Cuma saja, Roni akui perkembangan perpustakaan di Baubau agak sedikit terkendala. Paling tidak ada dua masalah yang melatarbelakanginya. Dua kendala tersebut, yakni infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM).
“Pertama itu masalah infrastruktur. Kita masih butuh gedung perpustakaan yang memadai,” kata Roni.
Meski begitu, Roni optimis kendala infrastruktur akan segera teratasi dengan adanya penyerahan aset Kabupaten Buton yang ada di Kota Baubau. "Opsi pertama pembangunan gedung perpustakaan ini di belakang Lapangan Lembah Hijau. Opsi kedua di gedung eks Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buton di Jalan Dr Wahiddin," tutur Roni.
Sedangkan masalah sumberdaya manusia, lanjutnya, bisa diatasi melalui Bimtek. "Jadi Bimtek ini penting diadakan. Sehingga persoalan terkait dengan pengembangan perpustakaan bisa teratasi," ungkap Roni.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sultra, Ir Hj Wagola MSi, sangat mengapresiasi Bimtek yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Baubau. “Ini suatu upaya untuk meningkatkan budaya baca kota baubau khususnya dan Sultra pada umumnya,” tutur Wagola.
Dia mengungkapkan, salah satu program Pemerintah Provinsi (Pemprov) adalah Sultra Cerdas. Pihaknya merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan SDM tenaga pengelola perpustakaan.
“Sehingga pada saatnya nanti perpustakaan menjadi pusat informasi untuk mengakses informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Untuk itu, kita usahakan perpustakaan kelurahan menjadi wadah untuk pertemuan masyarakat saling berbagi bagaimana meningkatkan literasi tentang kesejahteraan itu,” tukasnya.
Literasi kesejahteraan, menurut dia, menjadi referensi masyarakat untuk membaca, berhitung, berdiskusi memaknai bacaan. Lalu kemudian masyarakat dapat mengambil keputusan dan mempraktekkan bacaan itu.
“Sehingga nanti menghasilkan produk bernilai ekonomi. Dengan produk yang bernilai ekonomi tentu mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.
Ia mengaku, saat ini pengelola perpustakaan desa dan kelurahan masih sangat minim. Sementara disisi lain pihaknya sudah membutuhkan tenaga pengelola perpustakaan yang paham mengoperasikan Informasi dan Teknologi (IT).
“Tapi sampai pada saat ini hal itu belum semua perpustakaan mempunyai tenaga pengelola yang menguasai IT. Jika ada jaringan perpustakaan di kelurahan, tentunya itu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengakses informasi.
Wagola menambahkan, di era industri 4.0 ini semestinya sudah harus dibarengi dengan terobosan serba digital. “Kita harus berusaha menguasai keadaan, kita harus mengendalikan keadaan dengan meningkatkan SDM itu,” tandasnya. (an/jun)