Berita Terkini
Busel

Penari Albino Busel Meriahkan HPS

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 7 November 2019 15:25 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Penari Albino Busel Meriahkan HPS
Penari Albino Pukau penonton malam penutupan Hari Pangan Sedunia (HPS) di Kendari

PUBLIKSATU, KENDARI - Pemerintah Kabupaten Buton Selatan (Busel) kembali menampilkan keunikan pada perhelatan penutupan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang digelar di Kendari 2-5 November 2019. Pemkab Busel menampilkan penari albino. Hal ini memukau sejumlah pengunjung.

Antusias penonton semakin besar setelah penampilan menakjubkan dari penari Albino. Awalnya mereka dikira warga asing yang berpakaian adat Buton. Hal ini membuat penonton terpukau pada malam penutupan HPS di Kendari 5 November malam.

Warga Kota Kendari Ipul mengapresiasi kreatifitas Pemkab Busel dengan hadirnya penari albino ini, pagelaran seni tari di iven HPN pun jadi unik. “Unik sekali. Belum pernah saya melihat di daerah lain penarinya orang albino. Mungkin ini pertama kali di Indonesia,” ungkap Ipul.

Ia mengaku tak pernah kepikiran peserta penari tersebut merupakan warga Busel. Dalam hati ia mengira Pemerintah Busel menyewa bule untuk mempromosikan tariannya di HPS.

“Saya baru tahu sekarang bahwa itu orang albino dan ternyata banyak dari Busel. Hampir semua orang bilang ini penampilan yang paling unik,” akunya.

Ketua Sanggar Seni Hatibi Bula Maulana Jaya, La Ode Sarmam mengungkapkan, para penari ini dilatih oleh Sanggar Seni Hatibi Bula Maulana Jaya. Pihaknya juga bangga bisa mewakili Busel dalam event level dunia tersebut.

Ia menjelaskan, Sanggar Seni Hatibi Bula Maulana Jaya sejak awal mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu penari berkulit albino. Mereka selalu berprinsip bahwa di balik kekurangan pasti terdapat banyak kelebihan.

Salah seorang penari albino, Wa Ode Nur Idalifa mengaku dirinya hanya ingin memberikan penampilan yang terbaik di depan penonton. walau mugkin dianggap aneh karena warna kilit tidak seperti orang kebanyakan. Tapi dirinya juga adalah putra putri daerah yang bertanggung jawab untuk menjaga dan mengharumkan nama daerah dan leluhurnya.

“Alhamdulillah senang rasanya kami bisa memberikan penampilkan terbaik kami dan sangat bangga karena antusias penonton terhadap kami sangat besar. Semoga penampilan kami juga bisa memberikan sedikit inspirasi kepada orang-orang, bahwa kami pun yang berkulit seperti ini bisa membuat sesuatu yang membanggakan,” singkatnya.

Tarian penari Albino di event HPN diantaranya tarian linda yang merupakan tarian khas Kerajaan Buton di masa lampau. Tarian ini dimainkan oleh masyarakat di beberapa daerah Kerajaan Buton, khususnya di daerah Kabupaten Buton Selatan.

Di Busel tarian ini memiliki ciri khas selendang dan pemberian kasambu (uang yang di berikan ke kepala seorang wanita yang sudah berusia 17 tahun atau lebih). Tarian ini dimainkan tiap tahun di tempat pertamuan adat (baruga) untuk merayakan pesta adat masa lajang seorang wanita (pingitan). Selain itu tarian ini biasa dirangkaikan dengan Manca (Silat Kampung) dan Pomani.

Manca merupakan tarian seni bela diri (ilmu bela diri) yang menunjukkan kehebatan seorang laki-laki. Tarian ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang menggunakan beberapa gerakan (jurus) yang mana gerakan itu dikenal dengan nama Balaba.

Sedangkan tarian Pomani dengan ciri khasnya adalah tongkat dan perisai yang dalam bahasa daerahnya adalah ANI merupakan tarian dengan simbol pertahanan untuk membentengi diri dari serangan yang dapat membahayakan diri. Tarian pomani ini juga sering digunakan untuk acara penyambutan para tamu (tokoh pemerintahan) yang datang berkunjung. (aga)

Bagikan