Berita Terkini
Buteng

Dispar Buteng Jajaki Desa yang Bakal Dijadikan Desa Wisata Berbasis Masyarakat

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 28 November 2019 17:03 WIB · 4 menit baca
Bagikan
Dispar Buteng Jajaki Desa yang Bakal Dijadikan Desa Wisata Berbasis Masyarakat
Kadis Pariwisata Buteng Safrin dan Ketua Asbakin Jakarta Hernamawaty, diterima Kades Kolowa Yasman, saat berkunjung di Hutan Desa Kolowa

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Setelah para kepala desa menggambarkan profil desanya yang bisa berpotensi menjadi desa wisata berbasis masyarakat, Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Buton Tengah (Buteng) bersama rekanannya Asosiasi Bapak Angkat Indonesia (ASBAKIN) Jakarta mulai menjajaki satu persatu desa-desa yang ada di Buteng.

Terhitung sudah lima desa yang dijajaki keduanya dengan melihat potensi wisata masing-masing desa tersebut untuk dikembangkan menjadi desa wisata berbasis masyarakat. Dua diantaranya turut diikuti wartawan media ini, yakni Desa Bantea dan Desa Kolowa, Kecamatan Gu.

Desa Bantea terdapat potensi wisata kawasan Hutan Jati Katondoki seluas 24 hektar. Didalamnya, ditemukan banyak bunga bangkai (Raflesia) yang tumbuh liar dan beberapa gua berair. Kawasan ini bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata seperti Wisata Pinus Samparona di Kota Baubau.

Sementara di Desa Kolowa, terdapat sekitar 200 gua air dan masih banyak memiliki rumah-rumah panggung papan seragam, serta keindahan teluk yang salah satu sudutnya sudah dibuatkan lokasi Wisata Lambalo dilengkapi dengan jembatan kayu untuk tempat tongkrongan.

Dibawah tongkrongan tersebut, sengaja dibudidayakan ikan bandeng yang nantinya bisa dipancing wisatawan. Hasil pancingan tersebut kemudian dibawah ke resto yang dikelola Bumdes untuk menjadi menu makan mereka dengan bayaran lumayan.

Ketua ASBAKIN Jakarta, Hernamawaty, mengaku tertarik dengan berbagai potensi Desa Kolowa ini dan masuk nominasi untuk dikembangkan menjadi desa wisata berbasis masyarakat. Rumah-rumah panggung yang berderet sepanjang jalan diminta dipertahankan agar bisa dijadikan home stay wisatawan nantinya, apalagi sudah dicat hampir seragam.

"Depan rumah tinggal dipercantik saja dengan pagar tanaman bunga yang kembangnya beraneka warna. Bahu jalan dibuatkan trotoar pejalan kaki yang dicat warna-warni. Teluknya yang indah dengan beberapa batu menjorok ke laut bisa dibuatkan home stay di atasnya. Bisa dibayangkan, akan banyak wisatawan yang datang menghabiskan akhir pekan atau hari liburnya ke Desa Kolowa ini," tuturnya.

Jika Kades dan masyarakatnya setuju, ASBAKIN siap membantu membuatkan konsep pengembangan desa wisatanya yang berbasis masyarakat. Karena kebanyakan, dari desa-desa yang dikunjunginya masih lemah di konsep dan tidak memahami sumber daya alamnya itu paling cocok untuk apa.

"Kebanyakan konsep yang dibangun itu cenderung mengikuti trend yang sudah ada di daerah lain, tanpa melihat

kondisi dan karakter alam lingkungan desanya maupun karakter penduduknya. Harus dipahami dulu karakter semua itu, baru dibuatkan konsep sebagai master plan," papar Hernamawaty.

Setelah itu, dirembugkan dengan masyarakat desa kemudian dikelola bersama-sama lembaga-lembaga yang dibangun oleh pemerintah desa. "Memang tantangannya ada pada kesadaran masyarakat desa itu sendiri. Sebab, rata-rata merupakan petani atau nelayan yang melihat pariwisata itu adalah sesuatu yang baru dan menilainya sesuatu yang mahal dan harus wah, padahal tidak seperti itu," tandasnya.

Hal ini sudah menjadi tantangan ASBAKIN yang bergerak pada pemberdayaan masyarakat dari hulu ke hilir. Sehingga ketika turun ke desa, maka pendekatannya diawali dari kepala desanya yang mau bekerja terlebih dahulu. Kepala desa juga harus diperkuat dengan kelompok masyarakat yang punya sadar akan wisata dan akhirnya membesar ke segala lapisan masyarakat.

Output dari pengembangan desa wisata berbasis masyarakat ini, diantaranya meningkatkan jumlah kunjungan wisata yang berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat di desa. Sehingga dengan sendirinya dapat menurunkan angka kemiskinan dan mengatasi pengangguran yang ada di di tersebut.

Plt Kadis Pariwisata Kabupaten Buteng, Safrin mengatakan target pihaknya memprogramkan desa wisata berbasis masyarakat ini adalah memberdayakan masyarakat desa agar bisa hidup dengan pariwisata. Karena desa wisata berbasis masyarakat ini karakternya adalah masyarakat. Masyarakat yang ada dalam desa, harus punya pemahaman yang sama dalam menjadikan desanya sebagai desa wisata.

Ketika bicara desa wisata, maka keseluruhan aktivitas masyarakat yang ada didalamnya berorientasi ke pariwisata. Mau membangun jalan pun harus memperhitungkan bahwa jalan tersebut akan dilalui wisatawan, sehingga di kiri kanan jalan harus dibuat menarik. Apakah dengan pagar seragam atau ditanami pepohonan sejenis yang unik.

"Mau buat kandang dan pelihara sapi pun orientasinya pariwisata. Sehingga wisatawan datang itu ingin juga belajar bagaimana beternak sapi yang benar, atau cara memerah susunya bagaimana. Sehingga ada edukasi yang didapatkan wisatawan ketika berkunjung ke desa tersebut. Begitu pula membangun landscap desa, arsitektur rumah, dan lain-lain semuanya berorientasi pariwisata," paparnya.

Ketika semua desa di Buteng bergerak seperti itu, maka akan mempercepat proses pembangunan pariwisata. Karena bicara mengatasi pengangguran dan pengenataskan kemiskinan, sektor pariwisata juga paling menjanjikan disamping sektor-sektor lainnya. "Dengan konsep pariwisata, sektor lain juga bisa ditarik. Seperti hasil-hasil perikanan di desa bisa ditarik untuk kebutuhan konsumsi wisatawan yang berkunjung. Begitu juga sektor pertanian dan lain sebagainya," timpalnya.

Menurut Safrin, wisatawan yang ingin masuk ke desa itu, selain menikmati panorama dan atraksi di desa, mereka juga ingin bagaimana agar bisa memahami budaya, pekerjaan, dan kehidupan masyarakat yang ada di dalam desa yang dikunjunginya tersebut. Itulah konsep desa wisata yang akan dibangun pihaknya bersama para Kades di Buteng.(uzi)

Bagikan