Berita Terkini
Kepton

Amirul: Kepton Dimekarkan

Oleh Redaksi Publiksatu / Andre · Senin, 17 Februari 2020 11:22 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Amirul: Kepton Dimekarkan
LOKOMOTIF: Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo diapit Senator Sultra, Amirul Tamim, dan Gubernur Sultra, Ali Mazi.(IST)

PUBLIKSATU, JAKARTA -Sultra jangan dilihat sebagai propinsi, tapi dilihat sebagai kawasan. Untuk diperkuat sebagai lokomotif, usahakan dimekarkan jadi dua provinsi, plus Kepulauan Buton (Kepton).

"Kepton dimekarkan, sehingga dua mesin lokomotif. Itu kata kuncinya," ujar anggota DPD RI, Dr H MZ Amirul Tamim melalui telepon selulernya pada koran ini, akhir pekan lalu.

Senator asal Sultra ini menghubungi koran ini usai menjadi pembicara pada acara Sultra Economic Breafing 2020-2024 bertema: Menuju Sultra Sebagai Lokomotif Ekonomi Baru di Kawasan Timur Indonesia, dibilangan Jakarta Selatan, Jumat (14/2) lalu.

Acara yang digagas Abdul Rahman Farisi (ARF) tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, diantaranya Syahrul Yasin Limpo (Menteri Pertanian), Dirjen Tangkap Kementerian KKP, Gubernur Ali Mazi, Wali Kota Kendari Sulkarnain, Bupati Buton La Bakry, dan Wali Kota Baubau AS Tamrin.

Mantan anggota DPR RI ini mengatakan, Sultra berada di kaki depan Sulawesi dan masuk dalam teluk Bone yang memiliki SDA yang besar.

Tahun lalu Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengidentifikasi setidaknya ada 10 potensi cadangan gas raksasa yang ada di Indonesia, salah satunya di Buton (Buton Offshore). Potensi Ini kita perlu maksimalkan, untuk kesejahteraan masyarakat sultra.

Kita juga, kata Amirul, harus menyambut dinamika ekonomi yang terjadi di Morowali (Sulteng), ini dapat di layani oleh kota Kendari. "Untuk itu saya meminta kepada pak Gubernur sultra untuk segara memikirkan jalan yang masih rusak yang menghubungkan sultra dan Morowali, sehingga kita dapat nilai positif dari dinamika tersebut," ujarnya.

Lebih detail, terang Amirul, soal jalan Toronipa, akan potensial. Setelah melihat dari Google Map, kalau Kendari merubah RTRW, memindahkan pusat kegiatan kawasan barunya di Batu Gong, kemudian di-konekkan dengan Morosi dan Toronipa. Dengan begitu, Toronipa menjemput masa depan. "Kalau dilanjutkan dengan menyiapkan kawasan baru di Teluk Batu Gong. Ikat dengan Morosi, dan sekaligus ikat dengan Morowali," terangnya.

Mantan Wali Kota Baubau dua periode ini menegaskan kita punya alasan untuk jadi lokomotif baru di kawasan timur. Lima tahun kedepan SDM kita sudah memadai untuk menggerakan lokomotif ini. Segera kita petakan mimpi ini, Sultra bisa.

Dikatakan, kemajuan suatu wilayah bukan ditentukan oleh potensi wilayah tersebut dalam kategori SDA. Tetapi aspek kewilayahan, didukung SDM yang bisa membuatnya eksis. Itulah optimisme melihat Sultra dari aspek kewilayahan dibagi tiga orientasi kewilayahan.

Kedepan, lanjut pria berkacamata ini, tidak menutup kemungkinan peran Sulsel diambil. Tahap pertama, mengambil kejenuhan sulsel. Keunggulan kita dibanding Sulsel dari sisi daerah belakang yang beririsan darat dan laut. Sulsel irisannya Sultra, Sulbar, Sulteng. "Kita, Maluku, Maluku utara, NTT, Timor Leste, Sulteng, Sulsel sendiri. Ini bisa kita lihat dari orientasi pergerakan orang, komoditi, sarana laut maupun darat," ulasnya.

Tantangan lain Sulsel kedepan dengan ibukota baru Indonesia sebagian diambil Balikpapan karena bersamaan di ALKI II. "Peluang ini besar

kita sebagai lokomotif kawasan timur. Sulsel kawasan tengah, saya kira ini tantangan kita yang dicoba oleh ARF memulai mengajak kita semua, peluang ini juga bisa memberi sumbangan pemikiran pada Pak Gubernur. Masih ada waktu," kuncinya.(iwn)

Bagikan