Berita Terkini
Opini

Ogah Lockdown, Kesampingkan Kemanusiaan?

Oleh Redaksi Publiksatu / Andre · Selasa, 31 Maret 2020 01:17 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Ogah Lockdown, Kesampingkan Kemanusiaan?

Oleh: Sujarwadi Suaib SHI

( Sekretaris LBH Pelita Umat Korwil Kepulauan Buton)

PUBLIKSATU, Dalam sejarah kita dapati bagaimana rezim komunis di berbagai negara banyak menumpahkan darah rakyat. Adalah sikap seorang sekuler, menyelamatkan nyawa manusia baru akan jadi pertimbangan ketika kebijakan tersebut tidak mengancam kestabilan ekonomi.

Melalui opini ini, saya tidak akan menuduh rezim negeri ini adalah rezim komunis. Hanya sedikit menggambarkan bagaimana sistem sekuler ketika dijalankan.

Rezim negeri ini memutuskan untuk tidak menetapkan lockdown (karantina wilayah) saat wabah semakin mengancam. Kebijakan semacam itu wajar dilakukan negara sekuler yang lebih memikirkan keselamatan ekonomi dibanding keselamatan manusia.

Memang masih ada pemimpin baik di belahan bumi lain untuk persoalan wabah ini. Memberi angin segar lewat ucapannya dan bisa menjadi contoh untuk rezim negeri ini. Pidato Presiden Ghana, Nana Akufo Addo misalnya, saat mengumumkan lockdown di negaranya berujar, "Kami tahu bagaimana menghidupkan kembali perekonomian. Yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan kembali orang meninggal".

Hanya saja, terlepas dari ungkapan bahwa tidak ada kebaikan yang sempurna, demikian juga tidak ada keburukan yang sempurna. Apakah disaat kebaikan mudah dilakukan atau saat keburukan mendominasi, mencengkram, menggurita dan membudaya, watak asli negara sekuler tetaplah memisahkan agama dari urusan bernegara. Asas setiap perbuatan yang dilakukan adalah manfaat bukan wajib atau tidak.

Rezim yang tidak mengambil asas halal-haram/wajib tidaknya sebuah kebijakan adalah rezim sekuler. Mereka paham konsekuensi kerusakan ekonomi yang ditimbulkan jika melakukan karantina wilayah akan lebih besar dari tidak melakukannya. Walaupun hal tersebut adalah amanat UU.

Bagikan