Berita Terkini
Opini

Covid-19 dan Perdebatan Ekonomi, Kapan Wabah akan Usai?

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Sabtu, 11 April 2020 03:33 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Covid-19 dan Perdebatan Ekonomi, Kapan Wabah akan Usai?
Syaifullah Sanggala

Oleh: Syaifullah Sanggala

(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Ekonomi UHO)

Sudah lebih dari satu bulan penuh Indonesia menghadapi wabah pandemi Covid-19 sejak penemuan kasus pertama pada 2 Maret lalu, hingga hari ini lebih dari 3.000 orang terkonfirmasi positif.

Namun tanda-tanda dari grafik terkonfirmasi positif hingga meninggal nampaknya belum memberikan gambaran penurunan yang landai. Bahkan beberapa ahli pemodelan matematika menggambarkan prediksi riset yang mengkhawatirkan, jutaan orang di Indonesia bisa saja terkonfirmasi Covid-19.

Kita memang harus jujur berbagai macam paket kebijakan dan jurus yang dikeluarkan oleh pemerintah terbilang lamban dan patut mendapatkan kritikan, mulai dari stimulus pariwisata di tengah wabah, bersikap remeh dengan berbagai gestur aneh, koordinasi yang kurang akur, hingga alur kebijakan yang mentah.

Kocar-kacir kebijakan social distancing, darurat sipil, karantina wilayah, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menggambarkan betapa gagap dan lambatnya membaca fakta. Serta rapuhnya memahami pengalaman negara lain dalam menentukan dan memilah kebijakan yang tepat untuk diterapkan, itu semua terjadi karena pertimbangan dan perdebatan ekonomi.

Kalkulasinya bukan sekedar pertimbangan kebutuhan pangan, lebih dari itu di negara yang basis ekonominya disandarkan pada pasar uang (uang menjadi komoditas perdagangan). Maka akan mengkhawatirkan ketidakpastian ekonomi non rill (arus pasar uang), belum lagi dengan banyak nya transaksi yang spekulatif. Inilah yang menjadi poin berat dalam kelangsungan hidup ekonomi kapitalisme atau sering disebut dengan ekonomi balon (bubble economies).

Negara dengan kondisi ekonomi balon yang sensitif pada krisis dan tidak berbasis pada arus modal rill akan galau menghadapi pandemi maka tidak heran stimulus fiskal pun diberikan dengan berbagai bentuk termasuk obat pada sektor komoditas uang.

Bagikan