Lifestyle

Jangan KelamaanDuduk Saat WFH Bisa Picu Nyeri Punggung

Oleh Redaksi Publiksatu / Andre · Sabtu, 30 Mei 2020 21:28 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Jangan KelamaanDuduk Saat WFH Bisa Picu Nyeri Punggung

PUBLIKSATU – Sekitar tiga bulan terakhir, aparatur sipil negara (ASN) maupun pekerja swasta banyak yang memberlakukan bekerja dari rumah alias Work From Home (WFH). Bagi pekerja yang menjalani WFH mesti mewaspadai gangguan nyeri punggung akibat terlalu banyak duduk.

Dokter Spesialis Ilmu kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Siloam Semarang dr Marisa SpKFR menuturkan, pemberlakuan WFH merupakan langkah yang bijak. Sebab, perusahaan atau instansi yang memberlakukan WFH untuk karyawannya, ikut mendukung pemerintah mencegah penularan wabah Covid-19.

Marisa mengingatkan, di tengah pelaksanaan WFH para karyawan harus mengantisipasi gangguan nyeri punggung. ’’Nyeri punggung memang cukup sulit dihindari,’’ katanya Sabtu (30/5).

Gangguan nyeri punggung itu sejatinya tidak hanya berpotensi dialami oleh karyawan yang menjalani WFH saja, tetapi juga untuk karyawan atau pekerja yang di lapangan.

Potensi gangguan nyeri punggung bagi para pekerja yang menjalani WFH di antaranya dipicu karena pekerja duduk di tempat dan posisi yang sama dalam kurung waktu cukup lama. Kondisi tersebut memicu keram otot dan nyeri pada beberapa bagian punggung. Antisipasi nyeri punggu saat WFH sempat dibahas dalam Health Talk Online RS Siloam Semarang.

Marisa lantas menjelaskan, pada umumnya nyeri punggung saat WFH disebabkan oleh mekanik atau penggunaan otot secara berlebihan. Nyeri punggung bisa juga dipicu cedera yang menyimbulkan ketegangan pada otot. ’’Ini juga yang menjadi penyebab terbanyak atau 80-90% terjadinya nyeri punggung pada umumnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut Marisa menjelaskan, terlalu banyak duduk, inaktifitas, atau jarang bergerak, banyak mengangkat-angkat barang, merupakan faktor risiko terjadinya nyeri punggung bagian bawah. Selain itu, ada penelitian yang menyebutkan duduk selama 4 jam per hari dengan sikap membungkuk merupakan faktor risiko terjadinya nyeri.

Bagikan