Tips Sunaryo

Catatan: Irwansyah Amunu
IMPIAN Buton Selatan (Busel) untuk menjadi lumbung padi baru di jazirah Kepulauan Buton (Kepton) rupanya bukan isapan jempol. Syaratnya, kelengkapan teknis mesti dipenuhi. Bahkan Sunaryo punya tips.
Ya, birokrat Kementerian PUPR, Dr Sunaryo Mulyo mengaku setelah membaca berita di Buton Pos yang berjudul: Bupati Busel Panen Perdana, membayangkan Busel sudah punya hamparan sawah setidaknya 10 hektar. "Kalau untuk sistem irigasi JIAT (Jaringan Irigasi Air Tanah) dengan sumber air dari sumur bor, atau hamparan sawah 50 hektar untuk sistem irigasi permukaaan non teknis. Kalau itu yang terjadi alhamdulillah. Luar biasa upaya untuk memulai jadi daerah sumber pangan di jazirah Buton," bebernya melalui pesan WhatsApp yang dikirimkan pada koran ini.
Tapi, lanjutnya, setelah membaca sampai selesai diberita Buton Pos, ternyata panennya di areal demplot demonstrasi plot di halaman kantor BPP Sampolawa seluas seperempat hektar dengan sistem padi ladang, dibantu dengan pompa air bersumber dari sumur. Meski agak berbeda dengan bayangannya, tetapi dia mengapresiasi upaya dan gagasan Dinas Pertanian untuk memperkenalkan pada masyarakat cara memanan padi. Ditambah upaya memanfaatkan lahan tidur yang penuh Komba-komba jadi lahan produktif.
Mantan Kadis PU Busel ini menjelaskan, menanam padi dapat dilakukan di lahan basah atau lahan kering, maka sering kita dengar istilah padi ladang, dan padi sawah. Untuk padi ladang biasanya tergantung musim. Mendapat air dari air hujan atau sumur dangkal.
Sementara padi sawah bisa mendapatkan dari air yang ditampung, namanya sawah tadah hujan. Ada yang bersumber dari sumur air tanah dengan sumur bor kedalaman 80 hingga 150 Meter dilengkapi pompa air, menggunakan sistem irigasi bernama JIAT.
Lebih teknis, mantan Kadis PU Kota Baubau di era Wali Kota Amirul Tamim ini menjelaskan, biasanya menjangkau 1 JIAT dan 1 sumur bor untuk 10 sampai 20 hektar areal padi sawah. Contohnya di Abuki, dan Rumbia Rarowatu.