Berita Terkini
Ragam

Droplet Bisa Tembus Msker saat Batuk, Jarak Aman Solusinya

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 18 Juni 2020 16:16 WIB · 2 menit baca
Droplet Bisa Tembus Msker saat Batuk, Jarak Aman Solusinya

PUBLIKSATU – Pentingnya mematuhi seluruh protokol kesehatan diyakini akan efektif mencegah penularan Covid-19. Jadi bukan hanya cuci tangan saja, pakai masker saja, atau jaga jarak saja. Semuanya harus dilakukan satu kesatuan. Sebab jika hanya pakai masker saja tanpa jaga jarak, ternyata droplet (cairan saat seseorang bernapas, batuk, dan bersin) tetap bisa menembus dari balik masker. Maka dari itu penting untuk jaga jarak.

Dilansir dari Science Times, Rabu (17/6), University of Nicosia di Siprus melakukan penelitian tentang tetesan pernapasan dan masker wajah. Dalam peneletian itu menemukan bahwa masker menjadi kurang efisien saat seseorang itu batuk. Profesor Dimitris Drikakis mengatakan bahwa mengenakan masker saja tidak dapat mencegah tetesan air liur menyebar sepenuhnya. Bahkan bisa menembus dari balik masker sampai jarak yang cukup jauh.

“Banyak tetesan menembus pelindung masker dan beberapa partikel pembawa penyakit tetesan air liur dapat menempuh jarak lebih dari 1,2 meter,” katanya.

Pedoman WHO dan para ahli juga masih berdebat seputar jarak aman apalah 1 atau 2 meter. Sejak pandemi dimulai, pedoman umum yang harus dipatuhi adalah memakai masker wajah di depan umum untuk mengurangi kemungkinan penyebaran virus Korona. Namun, tidak cukup penelitian yang menentukan seberapa efektif penggunaan masker dan apa yang membuat masker tak efektif.

Studi ini menambah wawasan tentang penurunan transmisi tetesan di udara yang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Tidak mengenakan masker memungkinkan tetesan menular dua kali lipat berisiko daripada tidak memakai masker.

Hanya saja, batuk berulang kali di dalam masker akan membuat lebih banyak tetesan yang menembus. Dalam studi sebelumnya, tim menunjukkan bahwa ketika seseorang batuk, tetesan air liur dapat melompat 18 kaki atau lima meter hanya dalam lima detik ketika individu tersebut tidak mengenakan masker.

Dalam studi ini, model komputer digunakan dari seseorang yang batuk dengan masker. Peneliti juga memperhitungkan kemungkinan kondisi cuaca, turbulensi udara, dan bahkan suhu di dalam mulut seseorang.