Manajemen Rekayasa Lalilintas ala Hado Hasina (2): Focal Point Dibangun, Betoambari Bisa Dilandasi Boeing

MANAJEMEN rekayasa lalilintas tidak hanya melihat darat, tapi luat dan udara. Berikut penjelasan Kepala Dinas Perhubungan Sultra, Dr H Hado Hasina MT untuk mewujudkan grand desainnya.
Laporan: Irwansyah Amunu
KOTA Baubau tidak bertambah luasnya. Pun lebar jalan. Yang akan bertambah manusianya.
Sehingga satu-satunya cara manata lalulintas. Disebut dengan manajemen rekayasa. Tidak mungkin membuat jalan tol, karena mahal. Satu-satunya cara mengatur.
"Penataan transportasi Kota Baubau baik dari udara, laut, dan darat akan seperti itu bentuknya. Jadi kota harus mengikutinya dengan buat lagi terminal. Terminal yang pertama dibuat di Waborobo dan Simpang Lima," beber Hado.
Diakui, areal dibilangan Pantai Nirwana sudah diserahkan ke propinsi. Yang belum bisa diwujudkan rumah di samping kiri kalau masuk di Pantai Nirwana. "Kalau mau, saya mau ganti rumah permanen, tinggal pilih. Sehingga tanahnya bisa ditimbun lagi untuk menjadi daerah yang luas menjadi terminal. Namanya terminal AKDP," terangnya.
Seperti diberitakan, pengaturan tersebut untuk mengantisipasi daerah selatan supaya masuk ke Kota Baubau tidak ke pasar. Nantinya pihak Pemprov akan menerbitkan izin bukan dari Busel ke Baubau, tapi dari Terminal Sampolawa, atau dari Terminal Wasaga ke Pantai Nirwana atau Waramusio.