Polima di Seminar Internasional
Bagikan

Catatan: Irwansyah Amunu
SENIN (21/12) saya dapat kiriman pesan melalui WhatsApp dari Amalia, Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Baubau terkait agenda Seminar Internasional secara virtual yang digelar Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Saya perhatikan acaranya berkelas. Menghadirkan pembicara dari beberapa negara. Pembicara dari tanah air, Drs H Alfedri MSi (Bupati Siak yang juga Ketua Presidium JKPI), Prof. Datuk Sri Al Azhar (MKA Lembaga Adat Melayu Riau), dan Dr H AS Tamrin MH (Wali Kota Baubau).
Pembicara asing, Ass. Prof. Dr. Janet Blake (Shahid Beheshti University, Tehran and Director of The Persian Garden Institute for Living Haeritage).
Entah karena faktor jaringan, saya kesulitan masuk dalam seminar internasional tersebut. Beruntung Lia -sapaan Amalia- mengirimkan saya materi powerpoint paparan Wali Kota Baubau dalam acara tersebut. Materi sebanyak 15 slide berjudul Penguatan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Kearifan Lokal Menuju New Normal Covid-19 di Kota Baubau.
Diungkapkan, Po-5 adalah serapan nilai sara pataanguna. Terdiri dari Popia-piara (saling memelihara, saling mengayomi), Pomaamasiaka (saling menyayangi), Poangka-angkataka (saling mengangkat harkat), Pomae-maeka (saling menghargai, saling menjaga rasa malu), dan Pobinci-binciki kuli (Filsafat rasa saling tidak menyakiti).
Polima sebagai identitas pemajuan kebudayaan di Kota Baubau, menjadi ciri khas karakter warga Baubau, menjadi nilai universal untuk kehidupan masyarakat secara regional, nasional, dan internasional, dan menjadi identitas dan kekhasan Kota Baubau di publik nusantara. Merupakan identitas karakter kebudayan.