Baubau

Dikbud Baubau Harap Ada Persamaan Persepsi Dalam Pengisian Talang Haroa

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Sabtu, 9 Oktober 2021 02:37 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Dikbud Baubau Harap Ada Persamaan Persepsi Dalam Pengisian Talang Haroa

PUBLIKSATU, BAUBAU - Sebagai tradisi budaya dalam kehidupan masyarakat eks Kesultanan Buton, sangat lazim dilaksanakan ritual haroa atau doa bersama yang selalu diakhiri dengan prosesi makan bersama.

Ritual haroa ini melekat hampir di setiap perayaan, baik itu yang berkaitan dengan kehidupan maupun kematian. Misalnya haroa memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW atau tahlilan keluarga yang meninggal dunia.

Dalam ritual haroa, selalu dilengkapi dengan talang yang diisi aneka makanan tradisional. Dalam perjalanannya, pada beberapa wilayah memiliki tatacara pengisian talang yang berbeda-beda, misalnya masyarakat Wajo Lamangga, Melai, Wameo dan Kadolo.

Perbedaan itu meliputi tata letak/piranti saji maupun perbedaan jumlah kuliner, berdasarkan status sosial.

Menyadari adanya perbedaan ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau mencoba mencari titik temu dan menyatukan kesepahaman dengan menggelar pelatihan tata cara pengisian talang adat Wolio yang digelar belum lama ini.

“Harapanya kita bisa samakan semua persepsi. Bahwa untuk tata cara penyajian dan penyusunan isi talang yang paten itu seperti ini. Kita kembalikan pada nilai-nilai yang dahulu pernah dilaksanakan,” jelas Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Baubau, Ninik Gustianingsih Ahmad.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau, La Ode Aswad menyebutkan perbedaan kebiasaan adalah hal yang lumrah, namun jangan menjadikan sebuah pertentangan. Melalui kegiatan ini dia berharap akan mengerucut pada kesepakatan bersama antara lembaga adat dan pemerintah.

Bagikan