Berita Terkini
Opini

Fenomena Budi Daya Tanaman Porang Yang Mulai Merambah Wilayah Buton Daratan

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 26 November 2021 01:29 WIB · 2 menit baca
Fenomena Budi Daya Tanaman Porang Yang Mulai Merambah Wilayah Buton Daratan
Sri Yuniati

Oleh : Sri Yuniati

SAAT ini tanaman porang terdengar sangat viral di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sejak diketahui memiliki banyak khasiat karena kandungan glukomannan mencapai 45% dalam tanaman jenis umbi-umbian ini, hingga akhirnya banyak dicari untuk dibudidayakan. Porang kini menjadi tanaman unggulan ekspor pertanian Indonesia. Padahal sebelumnya tanaman ini tidak dilirik karena dapat menyebabkan gatal-gatal.

Porang merupakan komoditas baru yang bisa diolah menjadi beras, mie shirataki, konyaku, dan campuran produk kue. Selain itu menjadi bahan baku industri pembuatan lem dan bahan perekat hingga produk kosmetik dan obat yaitu spons conjac dan cangkang kapsul. Sehingga nilai tambah bukan hanya bagi perusahaan pengolah porang tetapi juga bagi para petani karena harus selalu bisa menyiapkan bahan bakunya.

Jika menelisik data budi daya porang oleh Amiruddin Pohan selaku Direktur Akabi (Aneka Kacang dan Umbi) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (2021) bahwa sentra pengembangan porang di Indonesia, telah tersebar di beberapa daerah seperti : di Jawa Timur yaitu Madiun, Banyuwangi, Kediri, Ngawi, Nganjuk, Ponorogo, dan Bojonegoro.

Di Jawa Tengah seperti Blora dan Wonogiri, Bogor untuk wilayah Jawa Barat, Kulonprogo di DIY, Humbang Hasundutan di Sumatra Utara, Pandeglang Banten, serta Gowa dan Pangkep di Sulawesi Selatan. Saat ini porang telah dikembangkan di lahan eksisting seluas 47,4 ribu ha di 15 propinsi dan ditargetkan bisa mencapai 100ribu ha di Tahun 2024 (Katadata.co)

Buton sendiri bukanlah daerah sentra tanaman porang, bahkan mungkin terbilang baru. Namun timbulnya minat budi daya porang ini menggelitik kami untuk menelusuri kegiatan masyarakat Buton yang bukan hanya mengembangkan porang dari varietas yang sudah dilepas seperti Madiun 1 tetapi menggunakan bibit-bibit porang yang ditemukan di hutan Lambusango dan hutan-hutan kecil lain di sekitarnya. Sangat mungkin akan terjadi kesalahpahaman di masyarakat ketika ternyata yang dikembangkan kemudian adalah bukan tanaman porang. Namun yang pasti plasma nutfah yang ditemui di lapangan bisa mengidentifikasi jenis “porang” yang akan dikembangbiakkan.

Ciri khusus dari tanaman porang adalah menghasilkan bulbil atau lebih dikenal dengan istilah katak yang akan muncul pada pertemuan cabang atau ketiak daun. Katak ini akan muncul pada akhir musim pertama saat tanaman porang memasuki masa dorman di musim kemarau. Porang akan berjatuhan seiring dengan tanaman porang yang mengering menunggu datangnya musim kedua biasanya ditandai dengan datangnya musim penghujan.