Berita Terkini
Ragam

Wakatobi, Kebanggaan Negara dan Bangsa Indonesia

Oleh penyunting · Kamis, 19 Mei 2022 17:50 WIB · 8 menit baca
Wakatobi, Kebanggaan Negara dan Bangsa Indonesia

Seperti diketahui, sejak Kabinet yl, Wakatobi telah mendapat posisi khusus sebagai destinasi prioritas untuk pengembangan pariwisata nasional, di luar Jawa dan Bali.

Ada beberapa faktor yang menjadikan Wakatobi terpilih. Pertama karena dalam PP 50-2011 memang disebut sebagai Kawasan Stratgeis Pariwisata Nasional; kedua letaknya di segitiga Terumbu Karang Dunia dengan kekayaan sumberdaya bawah laut luar biasa dan kejernihan perairan, surga bagi para penyelam. Meski tak sering disebutkan secara eksplisit, ada hal lain yang menyebabkan Wakatobi istimewa. Kabupaten ini, seluruh wilayahnya ‘berada’ di Taman Nasional dan Cagar Biosfer. Meski secara administratif pemerintahan Kabupaten terpisah dari Pengelolaan Taman Nasional, dan atau Cagar Biosfer, namun secara ekosistem, Kabupaten dan Taman Laut tersebut tentu tak terpisahkan.

Posisi strategisnya terletak kepada bentuknya sebagai kepulauan, untuk mendukung pariwisata bahari yang sejak pertengahan dekade yl, terus digencarkan, mengangkat potensi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar. Namun hal ini tak berarti bahwa jumlah kehadiran wisatawan kemudian menjadi tolok ukur keberhasilan. Banyak destinasi di Indonesia sudah berkembang sebagai destinasi pariwisata masal, termasuk Bali bagian selatan, yang kemudian menggeser lahan-lahan subur, menghilangkan lansekap budaya (saujana) yang menjadi salah satu kekaguman wisatawan. Perkembangan pariwisata Bali terus menuju ke bagian utara, terutama bagi wisatawan yang tidak lagi nyaman dengan pariwisata masal.

Wakatobi memiliki karakter yang sangat berbeda, dan perbedaan itulah yang seharusnya menjadi nilai tambah. Perjalanan duapuluh tahun yl, membuktikan bahwa jarak yang jauh dari pasar mancanegara tidak menjadi hambatan, karena konektivitas langsung dari Bali yang dimungkinkan. Mereka tak mencari destinasi dengan pariwisata masal, yang banyak dapat ditemukan di tempat lain.

Konektivitas memang penting untuk meningkatkan kunjungan, tetapi apakah jumlah kunjungan memang merupakan satu-satunya tolok ukur keberhasilan?

Tahun ini Wakatobi genap berusia 10 tahun sebagai Cagar Biosfer, dan perlu membuktikan kemampuannya dalam merawat Cagar Biosfer yang diakui oleh UNESCO. Selain itu sejak 2005, Wakatobi juga terdaftar sebagai salah satu tentative list untuk World Heritage dan pada 2017 mendapat pengakuan sebagai ASEAN Heritage Park. Berbagai posisi yang membanggakan tersebut, tentu sudah melewati kerja keras selama pengusulan sampai pengakuannya; dan memerlukan kerja yang tak kalah keras untuk mempertahankannya. Indonesia dan Pemerintah Daerah setempat, provinsi maupun Kabupaten, pantas untuk berbangga atas pengakuan ini, dan marilah kita pertahankan.

Posisinya sebagai destinasi prioritas sekarang merupakan kesempatan emas untuk membuktikan bagaimana pariwisata dapat menjadi kendaraan untuk percepatan konservasi lingkungan, untuk memerkuat posisi tersebut, bukan sekedar untuk mengejar jumlah wisatawan.

Perlu dikemukakan, bahwa capaian selama ini jauh dari harapan dan target yang dicanangkan, kalau dilihat dari jumlah kunjungan maupun kontribusinya terhadap PDRB, Jumlah wisatawan, wisnus maupun wisman, sebelum Covid, memang meningkat, pertumbuhan sektor ini juga terlihat dari peningkatan pendapatan dari sektor akomodasi dan restoran, namun kontribusi sektor ini terhadap PDRB Kabupaten tetap sangat kecil, dengan kaitan ekonomi ke depan maupun ke belakang yang sangat terbatas. Hal ini merupakan petunjuk bahwa pariwisata sukar untuk dijadikan andalan ekonomi atau pendorong ekonomi daerah. terlebih lagi kalau ternyata berbagai upaya pembangunan atas nama pariwisata menunjukkan kekurang ramahan terhadap lingkungan yang secara ekologis sangat peka disertai masalah lingkungan akibat sampah dilaut dari berbagai penjuru, maupun di darat.

Namun ada kesempatan emas lain. Memosisikan pariwisata sebagai kendaraan untuk pelestarian lingkungan dan mengunggulkan posisinya sebagai bagian dari ekosistem TN Wakatobi dan sebagai Cagar Biosfer maupun sebagai ASEAN Heritage Park merupakan suatu pola pikir strategis untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional maupun harkat dan martabat warga Wakatobi secara internasional maupun nasional. Posisi yang akan menjadikan Wakatobi memiliki keuntungan kompetitif, dan bukan sekedar keuntungan komparatif dan dapat menjadi contoh best practice seperti yang pernah diraih ………

Dengan kondisi dan posisinya serta kerentanan sumberdaya yang dimilikinya, jumlah kunjungan tidak sejogyanya menjadi ukuran keberhasilan, tanpa disertai dengan bukti kelestarian lingkungan dan praktek pembangunan berkelanjutan di Wakatobi yang menyatu dengan Taman Nasional, Cagar Biosfer dan Taman Pusaka ASEAN. Marilah kita manfaatkan momentum Hari Pariwisata DUnia yang akan diperingati 27 September yad. Indonesia akan akan menjadi tuan setalah puluhan tahun menjadi anggauta UNWTO. Temanya RETHINKING TOURISM – mari kita rethink, bukan hanya untuk pulih dari gangguan pandemi COvid-19, tetapi untuk mengubah pola pikir tentang pariwisata dan menjadi unggul karena kualitas, bukan karena kuantitas. Marilah kita mulai program pariwisata melalui program konservasi diseantero Wakatobi sesuai dengan amanat menjadikan Wakatobi Kabupaten konservasi maritime. Janganlah atas nama pembangunan pariwisata yang diunggulkan kita lupakan upaya konservasi sebagai program pokok Taman Nasional, Taman Pusaka ASEAN dan Cagar Biosfer.

Myra P. Gunawan

Anggauta Tim ITMP WakatobiWakatobi, kebanggaan negara dan bangsa Indonesia Seperti diketahui, sejak Kabinet yl, Wakatobi telah mendapat posisi khusus sebagai destinasi prioritas untuk pengembangan pariwisata nasional, di luar Jawa dan Bali. Ada beberapa faktor yang menjadikan Wakatobi terpilih. Pertama karena dalam PP 50-2011 memang disebut sebagai Kawasan Stratgeis Pariwisata Nasional; kedua letaknya di segitiga Terumbu Karang Dunia dengan kekayaan sumberdaya bawah laut luar biasa dan kejernihan perairan, surga bagi para penyelam. Meski tak sering disebutkan secara eksplisit, ada hal lain yang menyebabkan Wakatobi istimewa. Kabupaten ini, seluruh wilayahnya ‘berada’ di Taman Nasional dan Cagar Biosfer. Meski secara administratif pemerintahan Kabupaten terpisah dari Pengelolaan Taman Nasional, dan atau Cagar Biosfer, namun secara ekosistem, Kabupaten dan Taman Laut tersebut tentu tak terpisahkan. Posisi strategisnya terletak kepada bentuknya sebagai kepulauan, untuk mendukung pariwisata bahari yang sejak pertengahan dekade yl, terus digencarkan, mengangkat potensi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar. Namun hal ini tak berarti bahwa jumlah kehadiran wisatawan kemudian menjadi tolok ukur keberhasilan. Banyak destinasi di Indonesia sudah berkembang sebagai destinasi pariwisata masal, termasuk Bali bagian selatan, yang kemudian menggeser lahan-lahan subur, menghilangkan lansekap budaya (saujana) yang menjadi salah satu kekaguman wisatawan. Perkembangan pariwisata Bali terus menuju ke bagian utara, terutama bagi wisatawan yang tidak lagi nyaman dengan pariwisata masal. Wakatobi memiliki karakter yang sangat berbeda, dan perbedaan itulah yang seharusnya menjadi nilai tambah. Perjalanan duapuluh tahun yl, membuktikan bahwa jarak yang jauh dari pasar mancanegara tidak menjadi hambatan, karena konektivitas langsung dari Bali yang dimungkinkan. Mereka tak mencari destinasi dengan pariwisata masal, yang banyak dapat ditemukan di tempat lain. Konektivitas memang penting untuk meningkatkan kunjungan, tetapi apakah jumlah kunjungan memang merupakan satu-satunya tolok ukur keberhasilan? Tahun ini Wakatobi genap berusia 10 tahun sebagai Cagar Biosfer, dan perlu membuktikan kemampuannya dalam merawat Cagar Biosfer yang diakui oleh UNESCO. Selain itu sejak 2005, Wakatobi juga terdaftar sebagai salah satu tentative list untuk World Heritage dan pada 2017 mendapat pengakuan sebagai ASEAN Heritage Park. Berbagai posisi yang membanggakan tersebut, tentu sudah melewati kerja keras selama pengusulan sampai pengakuannya; dan memerlukan kerja yang tak kalah keras untuk mempertahankannya. Indonesia dan Pemerintah Daerah setempat, provinsi maupun Kabupaten, pantas untuk berbangga atas pengakuan ini, dan marilah kita pertahankan. Posisinya sebagai destinasi prioritas sekarang merupakan kesempatan emas untuk membuktikan bagaimana pariwisata dapat menjadi kendaraan untuk percepatan konservasi lingkungan, untuk memerkuat posisi tersebut, bukan sekedar untuk mengejar jumlah wisatawan. Perlu dikemukakan, bahwa capaian selama ini jauh dari harapan dan target yang dicanangkan, kalau dilihat dari jumlah kunjungan maupun kontribusinya terhadap PDRB, Jumlah wisatawan, wisnus maupun wisman, sebelum Covid, memang meningkat, pertumbuhan sektor ini juga terlihat dari peningkatan pendapatan dari sektor akomodasi dan restoran, namun kontribusi sektor ini terhadap PDRB Kabupaten tetap sangat kecil, dengan kaitan ekonomi ke depan maupun ke belakang yang sangat terbatas. Hal ini merupakan petunjuk bahwa pariwisata sukar untuk dijadikan andalan ekonomi atau pendorong ekonomi daerah. terlebih lagi kalau ternyata berbagai upaya pembangunan atas nama pariwisata menunjukkan kekurang ramahan terhadap lingkungan yang secara ekologis sangat peka disertai masalah lingkungan akibat sampah dilaut dari berbagai penjuru, maupun di darat. Namun ada kesempatan emas lain. Memosisikan pariwisata sebagai kendaraan untuk pelestarian lingkungan dan mengunggulkan posisinya sebagai bagian dari ekosistem TN Wakatobi dan sebagai Cagar Biosfer maupun sebagai ASEAN Heritage Park merupakan suatu pola pikir strategis untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional maupun harkat dan martabat warga Wakatobi secara internasional maupun nasional. Posisi yang akan menjadikan Wakatobi memiliki keuntungan kompetitif, dan bukan sekedar keuntungan komparatif dan dapat menjadi contoh best practice seperti yang pernah diraih ……… Dengan kondisi dan posisinya serta kerentanan sumberdaya yang dimilikinya, jumlah kunjungan tidak sejogyanya menjadi ukuran keberhasilan, tanpa disertai dengan bukti kelestarian lingkungan dan praktek pembangunan berkelanjutan di Wakatobi yang menyatu dengan Taman Nasional, Cagar Biosfer dan Taman Pusaka ASEAN. Marilah kita manfaatkan momentum Hari Pariwisata DUnia yang akan diperingati 27 September yad. Indonesia akan akan menjadi tuan setalah puluhan tahun menjadi anggauta UNWTO. Temanya RETHINKING TOURISM – mari kita rethink, bukan hanya untuk pulih dari gangguan pandemi COvid-19, tetapi untuk mengubah pola pikir tentang pariwisata dan menjadi unggul karena kualitas, bukan karena kuantitas. Marilah kita mulai program pariwisata melalui program konservasi diseantero Wakatobi sesuai dengan amanat menjadikan Wakatobi Kabupaten konservasi maritime. Janganlah atas nama pembangunan pariwisata yang diunggulkan kita lupakan upaya konservasi sebagai program pokok Taman Nasional, Taman Pusaka ASEAN dan Cagar Biosfer.

Myra P. Gunawan (Anggauta Tim ITMP Wakatobi)