Masyarakat Wakatobi Butuh Panutan untuk Menghadapi Perubahan Iklim, Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

Wakatobi, merupakan Kabupaten yang dibentuk tahun 2003 yang seluruh wilayahnya berada di Taman Nasional Wakatobi (2002) dan Cagar Biosfer (2012). Keberadaan penduduk yang tinggal di dalam wilayah yang kemudian menjadi Kabupaten Wakatobi ini menjadikan TN Wakatobi, Taman Nasional yang berpenduduk ketiga terbanyak secara Nasional.
Kekayaan alam bahari dalam segi tiga terumbuk arang dunia yang luar biasa membawa Wakatobi dengan perairan yang tinggi tingkat kejernihannya, kepentas dunia melaluikegiatan pariwisata penyelamansejakakhir millennium yl. Pemerintah pun menetapkan sebagai Kawasan Startegis Pariwisata Nasional dalam PP 50-2011, salah satu diantara 88 KSPN lainnya yang tersebar di seluruh nusantara.
Namun demikian kawasan ini sangat rentan terhadap berbagai gangguan alami maupun akibat ulah manusia. Perubahan iklim punya dampak signifikan terhadap perairan maupun ancaman bagi penduduk yang sebagian besar bermukim di pesisir, dan di atas perairan.
Gangguan lain adalah kiriman sampah dari berbagai daerah lain di Indonesia, dan bahkan dari luar negeri yang tiba di perairan melalui berbagai ‘modus’ yang tidak bisa lagi disebut alami. Kegiatan penduduk dan pengunjung di Kabupaten kepulauan ini serta praktek/teknik pembangunan sarana dan prasarana juga merupakan contributor gangguan terhadap ekosistem perairan yang menjadi habitat banyak jenis ikan, terumbu karang maupun menjadi ruang kegiatan penduduk dan wisatawan.
Pencemaran ini merupakan ancaman atau paling tidakt antangan bagi sektor pariwisata yang sedang digencarkan pemerintah untuk menjadikan Wakatobi destinasi premium, di pojok nusantara, yang relative sukar dijangkau, dengan layanan transportasi yang ada saat ini. Keterbatasan layanan transportasi ini antara lain disebabkan oleh skala ekonomi yang belum/tidak mendukung. Akibatnya pasokan berbagai produk kebutuhan yang harus didatangkan dari luar, sering kali terkendala. Tak terkecuali adalah pasokan BBM, termasuk yang diperlukan oleh kapal patrol Taman Nasional yang bertugas untuk menjaga keamanan perairan dari pemanfaatan yang tak resmi/bertanggung jawab.
Wakatobi juga dihadapkan kepada pelayanan dasar yang masih terkendala untuk mendukungnya sebagai destinasi premium: pasokan listrik yang masih kurang, jaringan telekomunikasi yang terbatas, maupun kondisi prasarana dasar yang terkait dengan penyediaan air bersih, sanitasi dan drainase juga masih perlu ditingkatkan dan disempurnakan. Anomali cuaca dengan gelombang badai dan putting beliung makin sering terjadisejak tahun-tahun terakhir
Hari SegitigaTerumbu Karang
Tanggal 9 Juni telah ditetapkan menjadi Coral Triangle Day (CTD) atau Hari Terumbu Karang (HTK), yang diperingati oleh enam negara: Indonesia, Filipina, Brunei, Timor Leste, Papua Nugini dan Kep. Solomon. CTD/HTK merupakan suatu open source event, di mana setiap individu atau organisasi dapat menyelenggarakan kegiatan terkait dengan Segitiga Terumbu Karang. CTD/HTK pertama dirayakan pada 9 Juni 2012, berbarengan dengan World Ocean Day yang jatuh pada 8 Juni. Tujuannya adalah untuk memosisikan Segitiga Terumbu Karang sebagaI suatu ‘globally-significant-ecoregion’ – suatu ikon pada zaman modern tentang lingkungan alam - agar makin banyak orang memahami tentang signifikan sinya terhadap kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat pesisir, yang memerlukan pemberdayaan untuk dapat melakukan konservasi dan melindungi kekayaan alam di dalamnya.
Wakatobi yang menyatakan diri sebagai Kabupaten konservasi, berada dalam STK dunia ini, bersama dengan berbagai daerah lain di seluruh Sulawesi, Maluku dan Bali serta Nusa Tenggara. Di dalamnya terletak beberapa destinasi bahari lainnya: Bunaken & Lembeh di Sulawesi Utara, Raja Ampat di Papua Barat, Labuan Bajo – Komodo di NTT dan juga Bali. Wakatobi meski sudah dikenal oleh para penyelam dunia sejak akhir meileniumyl, perkembangan kepariwisataannya masih terkendala, antara lain karena lokasi geografik dan konektivitasnya. Hal ini tentu tidak mengurangi arti penting kehadiranWakatobi dalam pariwisata nasional, yang saat ini sedang menapaki periode pemulihan, setelah dua tahun penuh terkendala oleh pandemic Covid-19.