Berita Terkini
Hukum

KPK Tetapkan Karen Tersangka Korupsi Pengadaan LNG, Karen Tuding Dirut Pertamina 2018 Bertanggung Jawab

Oleh Ramli Akhmad, Publik Satu · Rabu, 20 September 2023 22:45 WIB · 3 menit baca
KPK Tetapkan Karen Tersangka Korupsi Pengadaan LNG, Karen Tuding Dirut Pertamina 2018 Bertanggung Jawab
Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina tahun 2009-2014, Galaila Karen Kardinah (GKK) alias Karen Agustiawan (KA) di Gedung Merah Putih KPK, Selasa malam (19/9) (rmol)

PUBLIKSATU, JAKARTA - Di masa pandemi Covid-19, PT Pertamina (Persero) seharusnya mengalami keuntungan dari pengadaan Liquefied Natural Gas (LNG) jika dikelola dengan baik. Sebaliknya, justru mengalami kerugian mencapai Rp 2,1 triliun.

Hal itu disampaikan langsung mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina tahun, Galaila Karen Kardinah alias Karen Agustiawan, setelah diumumkan sebagai tersangka dalam korupsi pengadaan LNG oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Gedung Merah Putih KPK, Selasa malam (19/9).

Baca Juga: Prabowo Kemukakan 17 Program Prioritas Untuk Capai Target Indonesia Emas 2045

Karen mengatakan, pengadaan LNG yang dimulai di eranya itu dilakukan berdasarkan Perpres 2006, Inpres 1/2010 dan Inpres 14/2014, dan surat UKP4 sebagai pemenuhan proyek strategis nasional.

"Kalau misalnya tadi bilang marak bahwa ada kerugian, kerugian itu diakibatkan karena masa pandemi di tahun 2020 dan 2021, akan tetapi sebetulnya, pandemi atau tidak pandemi, Pertamina harusnya untung. Karena berdasarkan dokumen yang ada, tahun 2018 bulan Oktober, Pertamina itu bisa menjual ke BP dan juga ke Trafigura dengan nilai positif 71 sen per mm litium," kata Karen kepada wartawan.

Baca Juga: Windy Idol Kembali Diperiksa KPK Dalami Aliran Uang yang Diterima Hasbi

Menurut Karen, sejak 2009-2025, Pertamina seharusnya sudah untung Rp 1,6 triliun jika dikelola dengan baik.

"Dan satu lagi yang ingin saya sampaikan, bahwa ini semua sudah dilakukan sebaik mungkin. Dan Pertamina pun tidak perlu rugi kalau memang menjalankan tender yang hasilnya di bulan Oktober 2018," jelas dia.

"Makanya tadi saya bilang, yang 2010-2011 yang tadi katanya rugi, tidak perlu rugi kalau itu dijalankan. Cuma saya tidak tahu, mungkin rekan-rekan media yang perlu tanya ke Pertamina, kenapa pada saat tahun 2018 bulan Oktober hasilnya sudah bagus, kenapa tidak dilaksanakan?" tegasnya.

Karen menilai, kerugian keuangan negara dalam pengadaan LNG seharusnya yang bertanggung jawab adalah Dirut yang menjabat pada Oktober 2018. Berdasarkan penelusuran, pada saat itu Dirut Pertamina sudah dijabat oleh Nicke Widyawati yang sudah menjabat sejak 19 April 2018.

"Saya tidak tau siapa pada saat itu yang menjabat di 2018. Saya sudah resign di tahun 2014," tegasnya saat ditanya siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab.

Baca Juga: Tergantung Verval, Panselnas Sulit Tentukan Jam Pendaftaran CPNS 2023 & PPPK Dibuka

Sebelumnya, Ketua KPK, Firli Bahuri secara resmi mengumumkan Karen sebagai tersangka dan dilakukan penahanan untuk 20 hari pertama di Rutan KPK. Dalam pengadaan ini, KPK menduga tersangka Karen telah merugikan keuangan negara mencapai Rp 2,1 triliun.

"Dari perbuatan GKK alias KA menimbulkan dan mengakibatkan kerugian keuangan negara sejumlah sekitar 140 juta dolar AS yang ekuivalen dengan Rp2,1 triliun," kata Firli kepada wartawan di Gedung Juang pada Gedung Merah Putih KPK, Selasa malam (19/9).

Firli menjelaskan, pada 2012 PT Pertamina memiliki rencana untuk mengadakan LNG sebagai alternatif mengatasi terjadinya defisit gas di Indonesia. Perkiraan defisit gas akan terjadi di Indonesia di kurun waktu 2009-2040, sehingga diperlukan pengadaan LNG untuk memenuhi kebutuhan PT PLN Persero, Industri Pupuk dan Industri Petrokimia lainnya di Indonesia.