KPK Mengajukan Banding Atas Putusan Terhadap Mantan Gubernur Papua Lukas Enembe

PUBLIKSATU, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajukan banding atas putusan mantan Gubernur Papua, Lukas Enembe (LE). Banding dilakukan, karena ada fakta hukum yang belum terakomodir di pengadilan tingkat pertama.
Baca Juga: Rumah yang Digeleda di Kertanegara, Nurul Ghufron: KPK Tak Punya Safe House
Menurut Jurubicara Bidang Penindakan dan Kelembagaan KPK, Ali Fik Kasatgas Penuntutan KPK, Wawan Yunarwanto telah menyatakan upaya hukum Kasasi dengan terdakwa Lukas Enembe, melalui Panitera Muda Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (24/10).
"Tim Jaksa berpendapat kaitan adanya fakta hukum yang belum sepenuhnya terakomodir dalam putusan tingkat pertama," jelas Ali Fikri kepada wartawan, Jumat (27/10).
Fakta hukum dimaksud di antaranya terkait isi pertimbangan putusan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat yang menyatakan penerimaan terdakwa Lukas Enembe dari terpidana Rijatono Lakka tidak terbukti. Padahal, kata Ali, dalam putusan terpidana, Rijatono Lakka dinyatakan terbukti.
"Uraian lengkap alasan pengajuan banding akan disampaikan dalam memori banding," pungkas Ali.
Baca Juga: Pimpinan KPK Minta Polda Metro Jaya dan Dewas Jalankan Prosedur yang Ditentukan
Dalam perkara dugaan suap dan gratifikasi terkait pekerjaan proyek infrastruktur di Provinsi Papua, Lukas Enembe divonis 8 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 4 bulan kurungan. Serta pidana uang pengganti sebesar Rp19,69 miliar subsider 2 tahun kurungan, dan pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik selama 5 tahun usai menjalani pidana pokoknya.
Majelis hakim meyakini, Lukas Enembe terbukti menerima suap sebesar Rp17.700.793.900 (Rp17,7 miliar). Uang itu berasal dari Piton Enumbi selaku Direktur sekaligus pemilik PT Melonesia Mulia, PT Lingge-Lingge, PT Astrad Jaya, dan PT Melonesia Cahaya Timur sebesar Rp10.413.929.500 (Rp10,4 miliar).
Selanjutnya, uang tersebut berasal dari Rijatono Lakka selaku Direktur PT Tabi Anugerah Pharmindo, Direktur PT Tabi Bangun Papua sekaligus pemilik manfaat CV Walibhu sebesar Rp7.286.864.400 (Rp7,2 miliar).
Uang itu diberikan agar terdakwa Lukas bersama-sama dengan Mikael Kambuaya selaku Kepala Dinas PU Pemprov Papua tahun 2013-2017, dan bersama Gerius One Yoman selaku Kepala Dinas PUPR Pemprov Papua tahun 2018-2021, mengupayakan perusahaan-perusahaan yang digunakan Piton Enumbi dan Rijatono Lakka dimenangkan dalam proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemprov Papua TA 2013-2022.
Baca Juga: Nurul Gufron Bantah Ada Lobi-lobi Perkara Korupsi SYL, Semua Pimpinan KPK Setuju saat Ekspose Naik Penyidikan
Tak hanya itu, Lukas juga terbukti menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp1,99 miliar dari Budi Sultan selaku kontraktor yang berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban dan tugasnya selaku Gubernur Papua periode 2013-2018.
Sehingga, total uang suap dan gratifikasi yang diterima Lukas adalah sebesar Rp19.690.793.900 (Rp19,69 miliar).
Putusan tersebut diketahui lebih ringan dari tuntutan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK. Di mana, JPU KPK menuntut agar Lukas dipidana penjara selama 10,5 tahun dan denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Serta uang pengganti sebesar Rp47.833.485.350 (Rp47,8 miliar) dan pencabutan hak untuk dipilih dalam jabatan publik selama 5 tahun.