Berita Terkini
Busel

Ritual Adat, Sepenggal Kisah Gajah Mada di Busel

Oleh Nusma Nagara Muli · Selasa, 4 Februari 2025 01:17 WIB · 2 menit baca
Ritual Adat, Sepenggal Kisah Gajah Mada di Busel

BATAUGA--Kisah penuturan Patih Kerajaan Majapahit Gajah Mada di Kabupaten Buton Selatan di Provinsi Sulawesi Tenggara hingga kini melenggenda. Menyimpan jejak sejarah bagi masyarakat Kelurahan Majapahit, Kecamatan Batauga.

Diyakini jejak sejarah menjadi inspirasi jejak sejarah di Busel. Agar kisah itu tetap terawat warga setempat menggelar ritual adat tiap memasuki musim tanam maupun musim panen. Seperti yang terjadi kemarin.

Jejak penuturan sejarah yang hingga melegenda adalah dua mata air Hara Mpangi dan Hara Benua di Kelurahan Majapahit, Kecamatan Batauga. Dua mata air itu menjadi saksi sejarah.

Konon, saat Patih (Perdana Menteri) yang juga Panglima Perang Kerajaan Majapahit, Gajah Mada tiba di wilayah itu pernah mengkonsumsi dua mata air itu. Saat rombongan kerajaan terbesar itu mencari kebutuhan air bersih.

Parabela Majapahit, La Saludin menuturkan, penamaan kedua mata air ini berawal dari kedatangan Gajah Mada di daratan pulau Buton. Diyakini saat pertama kali mendarat di pantai Masiri sebelah selatan. Setelah itu berlanjut rombongan Gajah Mada mendiami kawasan hutan Ombo.

Dua mata air Hara Mpangi dan Hara Benua menjadi sumber kehidupan bagi Gajah Mada dan prajuritnya. Hingga kini dua sumber air bersih itu menjadi pasokan utama kebutuhan air masyarakat setempat.

Tahun 1586, masa pemerintahan Sultan Buton Laelangi (Dayunu Ikhsanudin), tercatat adanya perjanjian yang diberi nama tutura kano sara. Perjanjian ini berisi larangan merusak kedua mata air tersebut, dengan ancaman kutukan bagi siapa saja yang melanggarnya.

"Kutukan menyatakan bahwa jika pelanggar pergi ke laut, ia akan ditelan ikan, dan jika pergi ke hutan, akan ditelan ular. Kutukan ini diyakini berasal dari tanah Buton, yang dikenal dengan nama Sodompute dan Laentube," ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya untuk menjaga kelestarian kedua sumber mata air tersebut, masyarakat setempat secara turun-temurun merawatnya dengan penuh perhatian. Tiap tahunnya digelar acara ritual cucurangi.(aga)