Baubau

SMAN 4 Baubau Pelopor Pembelajaran Mendalam Sebelum Kurikulum Nasional

Oleh Murdin · Jumat, 5 Desember 2025 02:02 WIB · 2 menit baca
Bagikan
SMAN 4 Baubau Pelopor Pembelajaran Mendalam Sebelum Kurikulum Nasional
Hasan, S.Pd, Kepala SMA Negeri 4 Baubau. ( (Foto Murdin))

PUBLIKSATU, BAUBAU – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI baru menetapkan kurikulum nasional dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) pada November 2025, khusus untuk jenjang SMA/SMK/MA.

Namun, jauh sebelum kebijakan ini berlaku secara nasional, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), telah lebih dulu mengimplementasikan pendekatan metode ini sejak tahun 2023.

Kepala SMA Negeri 4 Baubau, Hasan S.Pd, menyatakan bahwa saat ini seluruh kepala sekolah di Baubau tengah menjalani pelatihan Pembelajaran Mendalam selama kurang lebih tiga bulan. Hasan, yang juga merupakan salah satu fasilitator khusus dalam pelatihan bagi para kepala sekolah, menjelaskan bahwa tahapan on-job training (OJT) 1, 2, dan 3 telah rampung.

"Tersisa satu tahap lagi pelatihan PM, yakni tahap In-2 (In-service Training 2), yang akan dilaksanakan mulai tanggal 9 selama empat hari," ujar Hasan.

Pembeda guru mengajar dan proses pembelajaran, ujar dia, Pelatihan Pembelajaran Mendalam ini juga diikuti oleh para guru, dengan SMA Negeri 4 Baubau turut menjadi lokasi penyelenggaraan, melibatkan guru-guru dari sekolah lain. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Balai Guru Penggerak Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dalam pelatihan tersebut, Hasan menekankan pentingnya bagi guru dan kepala sekolah untuk memahami perbedaan mendasar antara "guru mengajar" dan "proses pembelajaran", karena keduanya memiliki cara dan hasil yang berbeda.

Poin krusial dari Pembelajaran Mendalam, kata Hasan, adalah penumbuhan Growth Mindset baik pada guru maupun murid.

"Di Pembelajaran Mendalam itu diharapkan juga kita bisa menumbuhkan Growth Mindset guru, kemudian Growth Mindset murid juga, sehingga akan terbentuk kelas yang Growth Mindset," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa guru dengan Growth Mindset dapat menumbuhkan Growth Mindset pada siswanya. Sebaliknya, "kelas yang diajarkan guru yang tidak memiliki Growth Mindset atau Fixed Mindset itu kelas itu akan hancur." Hal ini menegaskan peran sentral pola pikir pendidik dalam keberhasilan implementasi kurikulum.

Peliput: Murdin

Bagikan