Berita Terkini
Muna

Perangkat Adat Mubar Siapkan Kejutan untuk Gubernur dan Bupati

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 9 Oktober 2018 13:59 WIB · 2 menit baca
Perangkat Adat Mubar Siapkan Kejutan untuk Gubernur dan Bupati
La Ode Andi Muna

PUBLIKSATU, MUNA BARAT - Hari ini (Selasa, red) Kabupaten Muna Barat (Mubar), genap berusia empat tahun. Memperingati hari jadi daerah mekaran Kabupaten Muna itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mubar menggelar upacara bertempat di lapangan Marobea, Kecamatan Sawerigadi.

Dalam upacara peringatan HUT Mubar, Gubernur Sultra, Ali Mazi, diagendakan bakal hadir. Momentum ini akan dimanfaatkan oleh lembaga adat Mubar. Rencananya, Ali Mazi akan diberi gelar kehormatan khusus dari para pemangku adat di daerah itu.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Mubar, La Ode Andi Muna mengatakan, momen peringatan HUT Mubar hari ini (Selasa), ada acara sakral yang akan dilakukan lembaga adat yakni penganugrahan gelar kehormatan kepada gubernur Sultra.

"Ada penyamatan PIN, pemberian gelar kepada pak Ali Mazi. Termasuk Bupati Mubar akan diberi gelar kehormatan. Ini murni diinisiasi oleh para lembaga ada kita," ungkapnya.

Sayangnya La Ode Andi Muna belum mau membeberkan gelar yang akan diberikan para tokoh ada tersebut kepada gubernur dan bupati Mubar. Katanya, gelar yang akan diberikan suprise. Nanti pada saat pemberian PIN atau plakat baru bisa diketahui.

"Pemberian gelar ini sebagai bentuk kehormatan, rasa syukur dan terima kasih kepada pemimpin. Ide pemberian gelar ini lahir dari inspirasi melalui musyawarah adat. Gelar itu dalam bentuk nama," katanya.

Nama gelar yang akan disandang oleh Ali Mazi dan LM Rajiun Tumada ini akan berlaku umum. Artinya, kapan pun dan dimanapun bisa digunakan oleh yang bersangkutan. Sebab, yang memberikan gelar adalah pemangku adat daerah.

"Orang Muna memberikan gelar pada pemimpin pada umumnya bukan yang pertama. Tetapi sejak zaman dulu, pemberian gelar kepada pemimpin sudah digaungkan. Hanya saat ini sudah jarang dilakukan," ujarnya.

Makanya lanjut dia, pemberian gelar kembali dihidupkan di bumi Laworoku melalui falsafah daerah, yakni pomoasi-moasigho, popia-piara dan poadja-adjati. Yang artinya, saling sayang menyangi, memelihara, dan saling menghargai.

"Kearifan lokal tidak bisa kita tinggalkan. Mudah-mudahan ini menjadi jembatan penyambung bagi generasi masa yang akan datang. Kemudian memberikan spirit kepada pemimpin agar bijak, serta adil, dalam menjalankan roda pemerintahan terkhusus di Mubar," tandasnya. (p5)