Harga Bensin Eceran di Mubar Naik

PUBLIKSATU, MUBAR - Warga Kabupaten Muna Barat (Mubar) mengeluhkan harga bahan bakar minyak (BBM) berupa premium yang naik secara mendadak. Dari Rp 8.000, naik menjadi Rp 10.000 per liter. Naiknya harga BBM bensin ini terjadi pada penjual eceran yang berlaku sejak tiga hari lalu.
"Saya heran harga BBM sekarang tiba-tiba naik. Padahal tidak ada kebijakan pemerintah untuk menaikan harga premium. Anehnya, di Mubar langsung naik harga sebesar Rp 2.000 dari harga sebelumnya Rp 8.000 menjadi Rp 10.000," ungkap Adin, warga Desa Kampobalano, Kecamatan Kusambi.
Kata dia, naiknya harga bensin itu terjadi sejak tiga hari lalu. Seluruh penjual bensin eceran di Mubar saat ini menjual dengan harga rata-rata Rp 10.000 per liter. Namun ada juga yang masih menjual Rp 9.000 per liter.
"Saya kaget tiba-tiba harga bensin sekarang menjadi Rp 10.000 per liter. Saya tidak tau apa masalahnya, sementara belum ada kebijakan pemerintah pusat atau presiden menaikan harga premium itu," katanya.
Adin menyayangkan sikap pemerintah yang apatis dengan kenaikan harga bensin eceran tersebut. Seharusnya pemerintah pusat mengontrol penjualan premium di tingkat kabupaten/kota, utamanya di desa-desa. Sebab, kebiasaan para penjual ini yang doyan memainkan harga minyak itu.
"Terkadang itu ada permainan harga di tingkat para penjual. Jadi pemerintah harus sering-sering melakukan pengawasan. Banyak ditemukan di lapangan, permainan harga yang dilakukan oleh para penjual eceran itu," cetusnya.
Sementara itu, salah satu penyalur bensin tingkat desa, Saleh mengaku, naiknya harga bensin itu karena susahnya mendapatkan bensin di pertamina. Kemudian, sering ditemukan kekosongan tanki di setiap pertamina.
"Tidak ada kaitannya dengan isu kenaikan BBM baru-baru ini. Hanya saja untuk mendapatkan bensin di pertamina susah. Kita harus pintar bermain agar mendapatkan suplai bensin dari pertamina," akunya.
Ia mengaku, tidak ada kenaikan harga premium di tingkat pertamina. Per liter itu tetap dijualkan Rp 6.450. Kenaikan itu hanya terjadi pada penyaluran di tingkat penjual eceran.
"Kalau penjual eceran menaikkan harga itu wajar. Karena dari kami juga penyalur menaikan harga. Biasanya mereka ambil Rp 120 ribu per jerigen besar ukuran 15 liter, menjadi Rp 150 ribu per jerigen. Naiknya harga bensin ini karena dipengaruhi sulitnya mendapatkan bensin di pertamina untuk dijual di desa-desa," tandasnya. (p5)