Berita Terkini
Opini

Pemuda Zaman Now di Tengah Revolusi Industri 4.0

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 31 Oktober 2018 16:03 WIB · 8 menit baca
Pemuda Zaman Now di Tengah Revolusi Industri 4.0
Rendy Saputra

Di tahun 2008 lalu publik dihipnotis dengan rilisnya film Iron Man generasi pertama, tokoh

super hero eksentrik dengan kekuatan teknologi canggih yang diadaptasi dari serial Marvel

Comics. Film ini mengisahkan Tony Stark (Robert Downey Jr) sebagai seorang milyuner

pemimpin perusahaan Stark Industries.

Film ini menyajikan kisah heroik yang dipadukan kecanggihan teknologi yang digunakan

oleh Tony Stark mulai dari baju armor yang menjadi kekuatan utama hingga JARVIS,

karakter kecerdasan buatan (artificial intelegence) yang menjadi asisten pribadi Tony Stark.

Tidak butuh waktu lama, perkembangan teknologi dewasa ini membuat beberapa teknologi

canggih dalam film Iron Man tersebut akhirnya terwujud. Beberapa perusahaan kemudian

mencoba mewujudkan baju Iron Man tersebut. Dari beberapa hasil pengembangan baju

armor tersebut, model yang dirasa paling mendekati adalah XSOS2 (exos).

Baju armor XSOS2 ini sedang dalam tahap pengembangan oleh departemen teknologi

pertahanan AMerika bersama sebuah perusahaan bernama Raytheon Sarcos. Baju ini

memungkinkan para tentara untuk mengangkat beban hingga 70 kg tanpa kesulitan

sedikitpun bahkan dapat mematahkan empat lapis kayu dengan satu pukulan.

Terinspirasi dari film tersebut pula, CEO Facebook Mark Zuckenberg juga mengembangkan

JARVIS, konsep kecerdasan buatan yang menjalankan tugas sebagai asisten virtual pribadi.

Fungsi JARVIS-nya Mark ini sama dengan JARVIS milik Tony Stark dalam film Iron Man.

JARVIS di program oleh Mark untuk membantu urusan rumah tangga CEO Facebook

tersebut. Mark cukup mengucapkan perintah, maka JARVIS akan meresponnya.

Beberapa contoh perkembangan teknologi yang sedemikian cepat tersebut merupakan tanda

dari apa yang kini disebut dengan revolusi industri 4.0. Revolusi 4.0 atau revolusi generasi

keempat itu oleh Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution ditandai

dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kecerdasan buatan, rekayasa genetik,

hingga kendaraan tanpa pengemudi.

Dalam prosesnya, dunia industri telah mengalami empat kali fase revolusi. Revolusi pertama

melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin.

Beberapa diantaranya adalah kemunculan mesin uap, lokomotif, kereta api penumpang, dll

pada abad ke 17. Revolusi ini tercatat dalam sejarah berhasil membuat perekonomian naik

secara drastis dimana ketika itu pendapatan perkapita banyak negara naik hingga enam kali

lipat.

Lalu selanjutnya, revolusi industri kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga

listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber). Penemuan ini memicu

kemunculan mobil, pesawat terbang, telepon, dan sebagainya yang mengubah wajah dunia

secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga yang mulai muncul di abad ke

19 ditandai dengan penggunaan elektronik dan teknologi digital serta internet yang membuat

mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia.

Nah, di zaman revolusi industri generasi keempat sebagaimana telah disinggung diatas, dunia

mengalami perubahan cepat yang sangat fundamental atau memasuki era disrupsi. Sebuah era

di mana manusia mulai menggeser aktivitas-aktivitasnya dari dunia nyata ke dunia maya.

Sebuah era yang tidak saja menghadirkan efisiensi, kecepatan, dan kenyamanan, tapi disisi

yang lain juga diikuti dengan implikasi negatif seperti pengangguran, kompetisi manusia vs

mesin, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi yang pada akhirnya menelan korban

karena ketidaksiapan individu dalam menghadapi perubahan.

Salah satu contoh adalah hadirnya 4 perusahaan digital yang digawangi anak-anak muda

yang masuk dalam level Unicorn. Perusahaan yang masuk kategori unicorn tersebut adalah

Traveloka yang digawangi oleh Ferry Unardi (30), Gojek dengan bosnya Nadiem Makarim

(33), Tokopedia dengan founder-nya William Tanuwijaya (36), dan Bukalapak yang

didirikan oleh Achmad Zaky (31). Unicorn Start Up sendiri adalah sebutan bagi barisan start

up atau perusahaan rintisan yang telah memiliki angka valuasi atau nilai perusahaan diatas

USD 1M atau setara dengan Rp. 13.5 triliun.

Dewasa ini perusahaan rintisan digital memang tengah berkembang dan berlomba-lomba

menjadi unicorn di kelasnya. Ini tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.

Untuk kawasan Asia Tenggara, baru terdapat 7 perusahaan rintisan digital berlevel unicorn. 4

diantara ada di Indonesia. Fenomena perusahaan digital yang menembus level unicorn ini

tidak saja mengancam perusahaan lama yang masih menggunakan pola tradisional dan

enggan beralih ke digital, tetapi juga menggeser aktivitas keseharian kita.

Keberadaan 4 unicorn Indonesia tersebut cukup fenomenal. Dalam waktu yang tidak terlalu

lama, perusahaan yang digawangi para anak muda tersebut melesat bak anak panah hingga

menembus level unicorn. Para anak-anak muda pendiri perusahaan tersebut jeli membaca

tanda zaman dan menghadirkan terobosan di tengah kehidupan keseharian kita. Yang mereka

tawarkan sesungguhnya bukan produk, tetapi mereka menghadirkan “kemudahan”. Mereka

menggeser aktivitas berbelanja konvensionalyang memakan waktu dan energi menjadi lebih

efisien. Ya, mereka membuat kita berbelanja hanya dengan ujung jari!

Itulah realitas kekinian zaman now di era revolusi industri 4.0 yang tidak hanya merubah

tatanan dunia industri semata tetapi juga telah merambat secara eksponensial ke dalam setiap

lini kehidupan dan secara cepat maupun lambat akan menggerus mereka yang tidak siap.

Sementara saat yang bersamaan, di lapis-lapis realitas kehidupan sosial disekitar kita masih

ditemukan betapa begitu banyak orang terutama anak muda yang belum begitu siap

menghadapi perubahan dunia yang sudah sedemikian cepat itu. Yang sudah melakoni

perubahan itu juga ada tetapi yang masih belum siap karena beragam faktor juga masih sangat

banyak. Mereka masih enggan keluar dari zona nyaman serta cenderung menghindari

perubahan yang oleh Rhenald Khasali disebut sebagai pemuda bermental passenger

(penumpang) atau pemuda yang cenderung menjadi pengekor.

Pemuda dan Mindset Perubahan

“Beri aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya. Beri

aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Penggalan kalimat Bung karno diatas merupakan gambaran bagaimana dahsyatnya para

pemuda sebagai agen perubahan. Bahwa bersama 10 pemuda, putra sang fajar tersebut

mampu mengguncang Dunia. Betapa sungguh anak-anak muda sangat diharapkan perannya

pada setiap lapisan masyarakat dalam upayanya menyiapkan diri sebagai pemimpin masa

depan. Tentu saja anak muda yang dimaksud adalah mereka yang berpikiran positif,

visioner, serta berprestasi.

Para founder 4 unicorn Indonesia menghadirkan fakta bahwa era revolusi industri bukanlah

ancaman, jika kita jeli menangkap tanda-tanda perubahan zaman lalu kemudian

menyesuaikan diri. Sebab memasuki era disrupsi dimana waktu seolah terpangkas seperti saat

ini, kita membutuhkan pemuda dengan mindset perubahan yang kuat. Pemuda yang dengan

daya imajinasi, kreativitas, serta mampu menangkap peluang.

Disrupsi menjadikan masa depan datang lebih awal (tomorrow is today). Sehingga sebagai

(calon) pemimpin masa depan, sedari awal pemuda dituntut untuk menyiapkan diri sebagai

generasi pelanjut bangsa ini sekaligus melakukan penyesuaian sesuai tuntutan perubahan.

Lantas apakah para pemuda di era kekinian bisa menjadi bagian dari 10 pemuda yang

dimaksud oleh Bung Karno? Tentu saja bisa! Kedatangan era disrupsi adalah sebuah

keniscayaan sehingga yang harus dilakukan adalah menyambutnya dengan penuh persiapan.

Mengutip seorang ilmuwan India Vijay Govindarajan, Rhenald Khasali mengungkap strategi

yang digunakan oleh korporasi dalam menghadapi gempuran di era disrupsi seperti saat ini.

Strategi itu merupakan penggabungan karakter tiga dewa tertinggi yang disebut Trimurthi.

Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara, Dewa Shiwa sebagai dewa penghancur, dan Dewa

Brahma sebagai sang Pencipta. Strategi tersebut juga sangat relevan diacu oleh pemuda

dalam menghadapi era disrupsi.

Pertama seperti Dewa Shiwa, kita tidak perlu takut untuk menghancurkan segala hal yang

hanya relevan dengan masa lalu. Ini artinya bahwa secara selektif, kita perlu menghancurkan

metode, pendekatan, bahkan tata nilai yang sudah membuat kita tidak produktif lagi. Kita

tidak perlu takut meninggalkan zona zaman yang cenderung sudah kita kenali hanya karena

menapaki hal baru sangat tidak nyaman sebab berkonsekuensi pada ketidakpastian, serta

ketidakjelasan.

Kedua seperti halnya Dewa Wisnu, kita wajib merawat serta mempertahankan hal-hal yang

masih relevan. Segala hal yang baik dan berguna tentu harus senantiasa kita pertahankan.

Selanjutnya yang ketiga layaknya Dewa Brahma kita harus berani menjadi insan pencipta.

Insan yang sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang

ada, dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik. Dalam

artian seorang pemuda yang bisa terus mekakukan inovasi guna mendorong lahirnya hal baru

yang bisa bermanfaat bagi kehidupan kita.

Perubahan mustinya adalah hal yang biasa sehingga adaptasi ketiga karakter dewa yakni

penghancur, pemelihara, serta pencipta tersebut diatas hanyalah strategi serta langkah

bagaimana kita sebagai pemuda menjalani laku kehidupan untuk membuat sebuah perubahan.

Sebab seyogyanya setiap manusia dapat menerima perubahan apapun sekalipun kecepatan

menerima setiap orang berbeda-beda. Sehingga tantangan besar mengelola sebuah perubahan

sesungguhnya adalah merubah mindset atau pola pikir. Karena siapapun yang tidak mampu

merubah pola pikir tidak akan dapat mewujudkan sebuah perubahan.

Perubahan pola pikir akan mendorong proses belajar untuk memperoleh pengetahuan baru

yang bermanfaat. Selain itu pola pikir yang adaptif terhadap perubahan akan mendorong

setiap kita untuk pribadi yang tangkas (agility). Yang tidak hanya bermakna kelincahan fisik

belaka melainkan kecepatan memahami persoalan, kemampuan merencanakan kinerja,

hingga keberanian untuk melakukan eksekusi terhadap rencana tersebut.

Dalam perubahan zaman yang demikian cepat, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan

adalah koentji! Perubahan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, sebingga kemampuan

untuk beradaptasi menjadi jalan penolong untuk tidak tergilas dari perubahan dunia yang

berlangsung sedemikian cepat. Tetapi kemampuan beradaptasi setiap orang bukan didapat

dari proses berdiam diri, melainkan harus keluar untuk berinteraksi dengan orang lain dan

dunia luar yang diawali dengan perubahan mindset. Sehingga dengan terbangunnya mindset

perubahan dalam diri setiap pemuda, maka tumbuh generasi yang tahan banting menghadapi

setiap perubahan zaman.

Olehnya itu pemuda zaman now harus pandai membaca peluang dan tantangan zaman lalu

kemudian mendorong dirinya untuk melakukan langkah-langkah cepat untuk merespon

perubahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Charles Darwin bahwa bukanlah yang terkuat

yang akan mampu bertahan, bukan pula yang terpintar, tetapi yang mampu beradaptasi

dengan perubahan!

Siapkah kita?