Pemuda Zaman Now di Tengah Revolusi Industri 4.0

Di tahun 2008 lalu publik dihipnotis dengan rilisnya film Iron Man generasi pertama, tokoh
super hero eksentrik dengan kekuatan teknologi canggih yang diadaptasi dari serial Marvel
Comics. Film ini mengisahkan Tony Stark (Robert Downey Jr) sebagai seorang milyuner
pemimpin perusahaan Stark Industries.
Film ini menyajikan kisah heroik yang dipadukan kecanggihan teknologi yang digunakan
oleh Tony Stark mulai dari baju armor yang menjadi kekuatan utama hingga JARVIS,
karakter kecerdasan buatan (artificial intelegence) yang menjadi asisten pribadi Tony Stark.
Tidak butuh waktu lama, perkembangan teknologi dewasa ini membuat beberapa teknologi
canggih dalam film Iron Man tersebut akhirnya terwujud. Beberapa perusahaan kemudian
mencoba mewujudkan baju Iron Man tersebut. Dari beberapa hasil pengembangan baju
armor tersebut, model yang dirasa paling mendekati adalah XSOS2 (exos).
Baju armor XSOS2 ini sedang dalam tahap pengembangan oleh departemen teknologi
pertahanan AMerika bersama sebuah perusahaan bernama Raytheon Sarcos. Baju ini
memungkinkan para tentara untuk mengangkat beban hingga 70 kg tanpa kesulitan
sedikitpun bahkan dapat mematahkan empat lapis kayu dengan satu pukulan.
Terinspirasi dari film tersebut pula, CEO Facebook Mark Zuckenberg juga mengembangkan
JARVIS, konsep kecerdasan buatan yang menjalankan tugas sebagai asisten virtual pribadi.
Fungsi JARVIS-nya Mark ini sama dengan JARVIS milik Tony Stark dalam film Iron Man.
JARVIS di program oleh Mark untuk membantu urusan rumah tangga CEO Facebook
tersebut. Mark cukup mengucapkan perintah, maka JARVIS akan meresponnya.
Beberapa contoh perkembangan teknologi yang sedemikian cepat tersebut merupakan tanda
dari apa yang kini disebut dengan revolusi industri 4.0. Revolusi 4.0 atau revolusi generasi
keempat itu oleh Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution ditandai
dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kecerdasan buatan, rekayasa genetik,
hingga kendaraan tanpa pengemudi.
Dalam prosesnya, dunia industri telah mengalami empat kali fase revolusi. Revolusi pertama
melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin.
Beberapa diantaranya adalah kemunculan mesin uap, lokomotif, kereta api penumpang, dll
pada abad ke 17. Revolusi ini tercatat dalam sejarah berhasil membuat perekonomian naik
secara drastis dimana ketika itu pendapatan perkapita banyak negara naik hingga enam kali
lipat.
Lalu selanjutnya, revolusi industri kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga
listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber). Penemuan ini memicu
kemunculan mobil, pesawat terbang, telepon, dan sebagainya yang mengubah wajah dunia
secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga yang mulai muncul di abad ke
19 ditandai dengan penggunaan elektronik dan teknologi digital serta internet yang membuat
mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia.
Nah, di zaman revolusi industri generasi keempat sebagaimana telah disinggung diatas, dunia
mengalami perubahan cepat yang sangat fundamental atau memasuki era disrupsi. Sebuah era
di mana manusia mulai menggeser aktivitas-aktivitasnya dari dunia nyata ke dunia maya.
Sebuah era yang tidak saja menghadirkan efisiensi, kecepatan, dan kenyamanan, tapi disisi
yang lain juga diikuti dengan implikasi negatif seperti pengangguran, kompetisi manusia vs
mesin, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi yang pada akhirnya menelan korban
karena ketidaksiapan individu dalam menghadapi perubahan.
Salah satu contoh adalah hadirnya 4 perusahaan digital yang digawangi anak-anak muda
yang masuk dalam level Unicorn. Perusahaan yang masuk kategori unicorn tersebut adalah
Traveloka yang digawangi oleh Ferry Unardi (30), Gojek dengan bosnya Nadiem Makarim
(33), Tokopedia dengan founder-nya William Tanuwijaya (36), dan Bukalapak yang
didirikan oleh Achmad Zaky (31). Unicorn Start Up sendiri adalah sebutan bagi barisan start
up atau perusahaan rintisan yang telah memiliki angka valuasi atau nilai perusahaan diatas
USD 1M atau setara dengan Rp. 13.5 triliun.
Dewasa ini perusahaan rintisan digital memang tengah berkembang dan berlomba-lomba
menjadi unicorn di kelasnya. Ini tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.
Untuk kawasan Asia Tenggara, baru terdapat 7 perusahaan rintisan digital berlevel unicorn. 4
diantara ada di Indonesia. Fenomena perusahaan digital yang menembus level unicorn ini
tidak saja mengancam perusahaan lama yang masih menggunakan pola tradisional dan
enggan beralih ke digital, tetapi juga menggeser aktivitas keseharian kita.
Keberadaan 4 unicorn Indonesia tersebut cukup fenomenal. Dalam waktu yang tidak terlalu
lama, perusahaan yang digawangi para anak muda tersebut melesat bak anak panah hingga
menembus level unicorn. Para anak-anak muda pendiri perusahaan tersebut jeli membaca
tanda zaman dan menghadirkan terobosan di tengah kehidupan keseharian kita. Yang mereka
tawarkan sesungguhnya bukan produk, tetapi mereka menghadirkan “kemudahan”. Mereka
menggeser aktivitas berbelanja konvensionalyang memakan waktu dan energi menjadi lebih
efisien. Ya, mereka membuat kita berbelanja hanya dengan ujung jari!
Itulah realitas kekinian zaman now di era revolusi industri 4.0 yang tidak hanya merubah
tatanan dunia industri semata tetapi juga telah merambat secara eksponensial ke dalam setiap
lini kehidupan dan secara cepat maupun lambat akan menggerus mereka yang tidak siap.
Sementara saat yang bersamaan, di lapis-lapis realitas kehidupan sosial disekitar kita masih
ditemukan betapa begitu banyak orang terutama anak muda yang belum begitu siap
menghadapi perubahan dunia yang sudah sedemikian cepat itu. Yang sudah melakoni
perubahan itu juga ada tetapi yang masih belum siap karena beragam faktor juga masih sangat
banyak. Mereka masih enggan keluar dari zona nyaman serta cenderung menghindari
perubahan yang oleh Rhenald Khasali disebut sebagai pemuda bermental passenger
(penumpang) atau pemuda yang cenderung menjadi pengekor.
Pemuda dan Mindset Perubahan
“Beri aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya. Beri
aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Penggalan kalimat Bung karno diatas merupakan gambaran bagaimana dahsyatnya para
pemuda sebagai agen perubahan. Bahwa bersama 10 pemuda, putra sang fajar tersebut
mampu mengguncang Dunia. Betapa sungguh anak-anak muda sangat diharapkan perannya
pada setiap lapisan masyarakat dalam upayanya menyiapkan diri sebagai pemimpin masa
depan. Tentu saja anak muda yang dimaksud adalah mereka yang berpikiran positif,
visioner, serta berprestasi.
Para founder 4 unicorn Indonesia menghadirkan fakta bahwa era revolusi industri bukanlah
ancaman, jika kita jeli menangkap tanda-tanda perubahan zaman lalu kemudian
menyesuaikan diri. Sebab memasuki era disrupsi dimana waktu seolah terpangkas seperti saat
ini, kita membutuhkan pemuda dengan mindset perubahan yang kuat. Pemuda yang dengan
daya imajinasi, kreativitas, serta mampu menangkap peluang.
Disrupsi menjadikan masa depan datang lebih awal (tomorrow is today). Sehingga sebagai
(calon) pemimpin masa depan, sedari awal pemuda dituntut untuk menyiapkan diri sebagai
generasi pelanjut bangsa ini sekaligus melakukan penyesuaian sesuai tuntutan perubahan.
Lantas apakah para pemuda di era kekinian bisa menjadi bagian dari 10 pemuda yang
dimaksud oleh Bung Karno? Tentu saja bisa! Kedatangan era disrupsi adalah sebuah
keniscayaan sehingga yang harus dilakukan adalah menyambutnya dengan penuh persiapan.
Mengutip seorang ilmuwan India Vijay Govindarajan, Rhenald Khasali mengungkap strategi
yang digunakan oleh korporasi dalam menghadapi gempuran di era disrupsi seperti saat ini.
Strategi itu merupakan penggabungan karakter tiga dewa tertinggi yang disebut Trimurthi.
Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara, Dewa Shiwa sebagai dewa penghancur, dan Dewa
Brahma sebagai sang Pencipta. Strategi tersebut juga sangat relevan diacu oleh pemuda
dalam menghadapi era disrupsi.
Pertama seperti Dewa Shiwa, kita tidak perlu takut untuk menghancurkan segala hal yang
hanya relevan dengan masa lalu. Ini artinya bahwa secara selektif, kita perlu menghancurkan
metode, pendekatan, bahkan tata nilai yang sudah membuat kita tidak produktif lagi. Kita
tidak perlu takut meninggalkan zona zaman yang cenderung sudah kita kenali hanya karena
menapaki hal baru sangat tidak nyaman sebab berkonsekuensi pada ketidakpastian, serta
ketidakjelasan.
Kedua seperti halnya Dewa Wisnu, kita wajib merawat serta mempertahankan hal-hal yang
masih relevan. Segala hal yang baik dan berguna tentu harus senantiasa kita pertahankan.
Selanjutnya yang ketiga layaknya Dewa Brahma kita harus berani menjadi insan pencipta.
Insan yang sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang
ada, dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik. Dalam
artian seorang pemuda yang bisa terus mekakukan inovasi guna mendorong lahirnya hal baru
yang bisa bermanfaat bagi kehidupan kita.
Perubahan mustinya adalah hal yang biasa sehingga adaptasi ketiga karakter dewa yakni
penghancur, pemelihara, serta pencipta tersebut diatas hanyalah strategi serta langkah
bagaimana kita sebagai pemuda menjalani laku kehidupan untuk membuat sebuah perubahan.
Sebab seyogyanya setiap manusia dapat menerima perubahan apapun sekalipun kecepatan
menerima setiap orang berbeda-beda. Sehingga tantangan besar mengelola sebuah perubahan
sesungguhnya adalah merubah mindset atau pola pikir. Karena siapapun yang tidak mampu
merubah pola pikir tidak akan dapat mewujudkan sebuah perubahan.
Perubahan pola pikir akan mendorong proses belajar untuk memperoleh pengetahuan baru
yang bermanfaat. Selain itu pola pikir yang adaptif terhadap perubahan akan mendorong
setiap kita untuk pribadi yang tangkas (agility). Yang tidak hanya bermakna kelincahan fisik
belaka melainkan kecepatan memahami persoalan, kemampuan merencanakan kinerja,
hingga keberanian untuk melakukan eksekusi terhadap rencana tersebut.
Dalam perubahan zaman yang demikian cepat, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan
adalah koentji! Perubahan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, sebingga kemampuan
untuk beradaptasi menjadi jalan penolong untuk tidak tergilas dari perubahan dunia yang
berlangsung sedemikian cepat. Tetapi kemampuan beradaptasi setiap orang bukan didapat
dari proses berdiam diri, melainkan harus keluar untuk berinteraksi dengan orang lain dan
dunia luar yang diawali dengan perubahan mindset. Sehingga dengan terbangunnya mindset
perubahan dalam diri setiap pemuda, maka tumbuh generasi yang tahan banting menghadapi
setiap perubahan zaman.
Olehnya itu pemuda zaman now harus pandai membaca peluang dan tantangan zaman lalu
kemudian mendorong dirinya untuk melakukan langkah-langkah cepat untuk merespon
perubahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Charles Darwin bahwa bukanlah yang terkuat
yang akan mampu bertahan, bukan pula yang terpintar, tetapi yang mampu beradaptasi
dengan perubahan!
Siapkah kita?