Muna

Gubernur Support Pariwisata Muna, Andalkan Liangkabori, Kembangkan Destinasi Purbakala

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 16 November 2018 15:53 WIB · 4 menit baca
Bagikan
Gubernur Support Pariwisata Muna, Andalkan Liangkabori, Kembangkan Destinasi Purbakala

PUBLIKSATU, MUNA — Bupati Muna, LM. Rusman Emba boleh jadi memimpin daerah miskin anggaran. Tetapi sebagai pemimpin, ia tidak boleh miskin ide. Gagasan membangun kabupaten berjuluk Bumi Sowite terus dikembangkan. Di tangan dinginnya, Muna akan di branding dengan konsep kepariwisataan yang berbeda.

Konsep LM. Rusman Emba berawal dari sebuah gua alam yang ukurannya tidak terlampau besar. Gua itu terletak di bawah gugusan perbukitan karst yang kekar dan kokoh. Ia membelah daratan Kecamatan Lohia dan membentang hingga Kecamatan Kontunaga. Luasan total area mencapai 70 kilometer persegi.

Gua itu bernama Liangkabori. Merupakan kompleks perbukitan dengan banyak mulut gua. Keistimewaanya terletak pada gambar purbakala. Ada 36 gua dengan gambar lukisan pra sejarah bervariatif. Mulai dari aktivitas bercocok tanam, berburu bahkan gambar layang-layang yang menjadi bukti otentik klaim asal muasal permainan itu.

Riwayat Liangkabori sudah melintasi ratusan generasi. Namun nasibnya tidak berbeda sejak 5 dekade lalu. Liangkabori tetap saja menyepi dari hiruk pikuk pembangunan. Di kepemimpinan Rusman, Liangkabori semakin dikenal dikancah nasional. Teranyar, Anugerah Pesona Indonesia milik Kementerian Pariwisata menjadikan Liangkabori sebagai salah satu nominasi situs sejarah terpopuler. Rusman kian terpacu menata Liangkabori. Potensi purbakalanya akan menjadi jualan pariwisata yang sulit ditemui di daerah lain. Rusman mengatakan, Muna akan menjadi daerah destinasi purbakala kelas wahid di Indonesia.

“Liangkabori itu bukan saja indah dari alamnya. Ia merupakan bukti peradaban kuno Muna sudah mencapai level yang tinggi. Ini akan kita kembalikan dengan menjadikan Liangkabori sebagai destinasi unggulan,” kata Rusman, Kamis (15/11). Ide Bupati Muna dijabarkan lagi oleh anak buahnya. Plt Kepala Dinas Pariwisata Muna, Amirudin Ako mengatakan, sekira Rp 1,5 miliar akan di arahkan untuk menata kawasan Liangkabori. Penataan itu meliputi pembuatan rumah adat dan panggung pertunjukan. “Liangkabori akan menjadi andalan Muna di sektor pariwisata,” ujar Amir, Kamis (15/11).

Penataan Liangkabori, lanjut Amir, sudah dimulai 2017 lalu. Pemkab memulai dengan menambah akses jalan menuju kompleks gua. Liangkabori kembali mendapat alokasi dana di tahun 2018. Sumbernya dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berupa pembangunan rumah adat dan 5 unit gazebo. Saat ini, wajah Liangkabori sedikit lebih tertata. “Penataan akan terus dilakukan, perkiraan kami sampai 10 tahun baru paripurna,” jelasnya.

Amir menambahkan, konsep pengembangan Liangkabori sudah siap. Pemkab bekerja sama dengan Balai Cagar Budaya dan Kepurbakalaan Makassar. Liangkabori akan didesain menjadi kawasan tradisional. Konsep itu untuk menegaskan Liangkabori sebagai destinasi purbakala. “Akan ada peternakan kuda dan pertanian tradisional. Kesan pra sejarahnya akan dipertahankan. Liangkabori tidak akan dibuat modern, melainkan kesan alami yang ditonjolkan,” paparnya.

Lebih jauh, Amirudin mengatakan alasan LM. Rusman Emba menjadikan Liangkabori sebagai ikon wisata Muna adalah peluang pemasarannya. Katanya, jika Muna membranding diri sebagai destinasi wisata bahari, akan kalah jauh dari Wakatobi dan Labengki. Dua destinasi itu sudah lebih dulu populer di Sultra.

“Kalau wisata pra sejarah, Sultra tidak ada selain Muna. Bahkan Indonesia, selain Sulsel dengan gua Leang lea. Ke depan, Liangkabori akan menjadi ikon dan ditunjang dengan kalster wisata laut seperti Meleura dan Napabale. Konsep ini sudah didukung penuh Gubernur,” ucapnya.

Selain Gua Liangkabori. Masih banyak lokasi wisata andalan lainnya. Diantaranya, Pantai Bakealu di Kecamatan Wakorsel, Danau Moko di Tongkuno, Danau Napabale di Lohia, Danau Ubur-ubur di Lohia, Pantai Walengkabola di Tongkuno, Pantai Meleura di Lohia.

Banyaknya destinasi wisata andalan di Muna mendapat perhatian serius Gubernur Sultra, Ali Mazi. Dia menegaskan siap mendukung (support) pengembangan wisata tersebut. “Pengembangan wisata sejalan dengan program nasional. Apa yang sudah dilakukan Pemkab Muna patut diapresiasi dan harus didukung,” kata Ali Mazi saat ditemui di Jakarta, Kamis (15/11).

Mantan Ketua Golkar Sultra berharap, pembangunan pariwisata dan budaya dapat disinergikan dengan daerah lain. “Muna, Muna Barat, Buton dan Wakatobi harus sinergi dengan baik. Sebab, sektor pariwisata ini, tak hanya menggerakan ekonomi, tapi juga bisa menarik lebih banyak wisatawan karena banyaknya pilihan,” jelasnya.

Pasangan Lukman Abunawas ini memastikan, Pemprov Sultra mendukung penuh pengembangan dan pembangunan sektor pariwisata tersebut. “Ini kan juga program nasional. Terlebih Wakatobi sudah ditetapkan sebagai 10 destinasi wisata nasional oleh Presiden Jokowi. Tentu ada banyak yang bisa diambil keuntungan dengan kebijakan tersebut. Daerah sekitar bisa memberikan pilihan-pilihan pariwisata kepada masyarakat,” terangnya.

Tidak hanya pariwisata, Ali Mazi juga mengharapkan Muna dapat mengembangkan budaya lokal sebagai bentuk kearifan lokal. Pasalnya, kearifan lokal dapat menjadi identitas masing-masing daerah. “Tidak hanya di Muna, daerah lain juga harus melakukan hal tersebut. Ini dapat memberikan dampak ekonomi lebih besar buat daerah tersebut,” imbuhnya. (b/ode/yog)

Bagikan