Samahuddin, Bupati yang Lebih Banyak Kerja di Lapangan

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Menyadari fondasi dasar pembangunan di Kabupaten Buton Tengah (Buteng) berada di tangannya, Bupati Samahuddin lebih banyak turun ke lapangan melakukan peninjauan dan pemantauan langsung. Hal itu dilakukan untuk memastikan setiap pekerjaan pembangunan yang sementara dikerja berkualitas dan memuaskan masyarakat.
Maka tak heran, bupati yang sudah dua tahun menjabat ini lebih banyak bekerja di lapangan ketimbang berkantor di ruangannya yang adem ber-AC. Keikhlasannya membangun tanah tumpah darahnya, dibuktikannya di lapangan dengan tak memperdulikan panas terik matahari, hujan gerimis, hingga sampai larut malam yang seharusnya digunakan untuk istrahat setelah bekerja seharian.
Pembawaan yang santai dengan kepribadian sederhana, membuat rakyat Buteng tak segan-segan berbincang lepas dengannya saat turun lapangan maupun di kantornya. Ia juga tak pernah canggung duduk bersama dengan warga di kolong-kolong rumah mereka, sehingga nampak terlihat tak ada sekat antara bupati dengan rakyatnya.
"Dari niat awal saya mencalonkan diri menjadi bupati, sudah menggadaikan diri saya untuk kepentingan rakyat, mengabdikan diri saya untuk tanah tumpah darah, dan berkomitmen untuk mewujudkan Buton Tengah yang "Berkah" sebagaimana visi misi saya bersama wakil bupati," ungkap Samahuddin disela-sela memantau pengerjaan bundaran Labungkari, pekan lalu.
Apa yang sudah diamanahkan rakyat kepadanya, akan ia pertanggungjawabkan dunia akhirat. Pun dirinya sebagai pengusaha sukses sebelumnya, sudah merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan. Menjadi bupati saat ini, semata-mata untuk membangun dan memajukan Buteng agar seperti daerah lainnya yang sudah maju.
-
Bupati Buteng H Samahuddin saat mengarahkan kontraktor dalam pengerjaan bundaran Labungkari
"Jabatan bupati ini hanya lima tahun. Setelah itu, belum tentu menjadi bupati lagi. Makanya, saya hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk daerah ini dengan pengabdian yang ikhlas. Kita bekerja dan bekerja saja seperti ini, nanti rakyat yang menilai," tutur pria dengan nama beken La Ramo ini dengan santai.
Mantan kontraktor ini mengaku, Kabupaten Buteng sebagai Daerah Otonom Baru (DOB) harus diperkuat dulu infrastruktur dasarnya sembari memperkuat sektor-sektor lainnya melalui program-program SKPD dalam mengejewantahkan visi misinya yang sudah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
"Tahun pertama saya menjadi bupati adalah memprioritaskan infrastruktur jalan yang ditambah dengan pelebarannya. Termasuk membuka akses jalan-jalan baru seperti menuju ibukota Labungkari dari Desa Wadiabero dan dari RSUD menuju Labungkari yang saat ini tengah dirintis," tukasnya.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur jalan ini sangat penting dalam membuka koneksitas antar wilayah dan mempelancar kegiatan usaha masyarakat. Sehingga dengan sendirinya ikut menggerakan dan memperlancar perputaran roda ekonomi masyarakat.
"Sebagin jalan-jalan yang sudah kita perlebar sudah diaspal dan akan kita tuntaskan 2019 nanti. Setelah itu, baru kita membangun perkantoran dan itu sudah kita awali dengan membuka akses masuk ke Labungkari. Semua ada tahapan dan prosesnya, karena membangun itu tidak semudah membalikan telapak tangan, karena harus disesuaikan juga dengan kemampuan keuangan daerah," timpalnya.
Namun dengan kondisi keterbatasan tersebut, sebagai kepala daerah dirinya tak mau berpangku tangan behitu saja. Berbagai koneksi dimanfaatkannya dengan baik untuk membangun daerah. Hasilnya, Samahuddin mendapat bantuan dari provinsi untuk membangun gerbang sebagai salah satu icon Kabupaten Buteng dan pipa air sepanjang 3,4 KM.
"Icon lain yang sedang kita bangun juga saat ini adalah bundaran Labungkari dan terus digenjot penyelesaiannya. Rencana saya, perayaan tahun baru 2019 kita gelar disini. Makanya, pulang kerja selalu lewat sini untuk memantau progres penyelesaiannya," pungkasnya.(uzi)