Berita Terkini
Opini

Wanita, Antara Cita dan Berdaya

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 7 Desember 2018 15:37 WIB · 4 menit baca
Wanita, Antara Cita dan Berdaya
Liya Yuliana

WANITA, tanpa Islam sedemikian terhinanya. Sosok wanita di zaman sebelum Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, banyak dibunuh dan dikubur hidup-hidup. Demikian pula yang dialami putri Umar Bin Khattab, ia dikubur hidup-hidup oleh ayahnya (sebelum memeluk Islam). Setiap berita kelahiran bayi perempuan seakan aib tersendiri bagi keluarganya. Pasalnya, ketika anak wanita dilahirkan dan kalah dalam peperangan, maka ia nantinya menyandang status budak.

Datangnya Islam menjadikan wanita kembali mulia. Bahkan yang harus diutamakan seorang anak laki-laki pertama kali adalah ibunya. Namun untuk meraih kemuliaan, tidaklah mulus. Ada kerikil-kerikil tajam yang mengintai setiap detik kehidupan. Hedonis, kemewahan, egois, serangan fashion menjadikannya seakan kehilangan jati dirinya.

Bagaimana Perkembangan Wanita dari Masa ke Masa?

Dilihat dari jejak budaya di Indonesia, masa sebelum kemerdekaan, wanita belum memiliki kesempatan untuk menggali ilmu. Urusannya hanya berkutat persoalan rumah dan dapur, tanpa adanya pembinaan dan didikan ilmu pengetahuan. Mereka dibiarkan begitu saja menyelesaikan persoalan tanpa diajari bagaimana seharusnya mereka bersikap dan bertindak. Tak heran apabila generasi yang dihasilkan miskin keilmuan.

Seiring berjalannya waktu, lahirlah berbagai organisasi Islam yang turut mengawal pendidikan bagi kaum wanita. Mereka diberi kesempatan untuk menggali ilmu. Harapannya agar nantinya seorang ibu mampu mendidik putra-putrinya dengan baik.

Begitu juga tokoh wanita RA Kartini yang memperjuangkan agar kaum hawa memiliki kesempatan yang sama sebagaimana para lelaki dalam hal menuntut ilmu. Berbagai tokoh lainnya juga turut memperjuangkan literasi bagi tiang negara. Seperti Rohana Kudus, beliau adalah pionir jurnalis perempuan.

Perjuangan Kartini, Organisasi Islam membawa pengaruh besar. Mulailah kaum Hawa bersekolah. Meski hanya SR (Sekolah Rakyat) setara dengan Sekolah Dasar, setidaknya mereka bisa membaca dan menulis. Namun demikian angka buta huruf masih relatif tinggi. Banyak diantaranya yang putus sekolah sebelum lulus.

Zaman now, pendidikan kaum wanita setara dengan laki-laki. Tak jarang kaum hawa yang bergelar doktor bahkan profesor. Tak sedikit para intelektual dari kalangan wanita. Namun ada yang perlu dicermati. Yakni maraknya opini umum yang sengaja dijajakan oleh asing kepada kaum Hawa “wanita karier”. Para muslimah semakin percaya diri apabila menyandang status wanita karier. Fokusnya, Berkontribusi dalam pembangunan perekonomian negeri. Sebagai pekerja pabrik, karyawan, dan pemberdayaan ekonomi perempuan lainnya. Wanita dituntut meningkatkan perekonomian keluarga dan negara.

Akibatnya saking sibuknya wanita dan lelaki dalam mengejar karier, terkadang keluarga terabaikan. Tidak sedikit anak kurang mendapatkan perhatian. Lalu bagaimanakah seharusnya muslimah? Haruskah dia menjadi wanita karier di kantor, di rumah (bisnis online) ataukah menjadi ibu rumah tangga saja? Ataukah harus berkarier sekaligus sukses dalam memanagemen rumah tangga?

Wanita, diciptakan oleh Allah dengan segenap nalurinya. Mereka memiliki kelebihan, kekurangan dan keunikan masing-masing. Apa yang Allah berikan kepada muslimah, tentu ada aturan standart sehingga muslimah selamat dunia dan akhirat.

Sebagai seorang muslimah, tentu memiliki cita-cita yang luhur untuk diri, keluarga, anak dan negeri. Cita-cita seperti apa yang seharusnya diimpikan dan menanti untuk diwujudkan bagi muslimah? Dimana dengan cita-cita tersebut, dapat meraih cinta Rabb semesta alam. Bukan sekedar cita duniawi saja yang hilang dihempas oleh waktu. Namun cita yang abadi mengantarkan rida Ilahi.

Bagaimana seharusnya wanita (muslimah)?

Jika kita berpikir lebih mendalam dengan segala kelebihan dan kekurangan wanita, seorang muslimah memiliki andil yang sangat besar bagi peradaban. Ketika kaum feminis menuntut kesetaraan gender, kaum hawa dituntut memiliki hak yang sama dalam memimpin lelaki. Kepemimpinan tak hanya pada suami namun juga istri. Sebenarnya ada hal yang lebih penting bagi seorang wanita muslimah yakni bagaimana caranya mampu berkontribusi besar bagi peradaban. Bukan fokus untuk meningkatkan perekonomian negara namun lebih dari itu. Membangun peradaban manusia yang agung.

Seorang wanita selain mendidik putra-putrinya juga harus mewarnai masyarakat dengan Islam. Mendidik masyarakat dan mengajak mereka turut serta dalam pembangunan mental bangsa yang berkepribadian. Dengan begitu diharapkan menghasilkan output generasi yang hebat, berkarakter dan cerdas serta bijak memimpin negeri.

Ketika output pendidikan wanita hanya fokus pada pemberdayaan ekonomi, maka ini sungguh ironis. Sebab ada hal yang lebih urgen daripada itu. Yakni menghasilkan output peradaban yang agung bagi generasi mendatang. Wanita, kaum muslimah memiliki andil besar. Wanita harus berdaya guna untuk pembangunan generasi bangsa. Bukan menjadi mesin kerja yang hanya menguntungkan para kapital. Sementara keluarga menjadi korban. Saatnya kaum wanita bangkit, memperhatikan generasi masa depan, menggiring opini yang berkembang untuk kemajuan Islam dan negeri, menyelamatkan negeri dari segala bentuk penjajahan.

Wanita berdaya, tak hanya memikirkan diri dan keluarga namun juga negeri dan agama. Senantiasa meng-update berita, kritis dan responsif terhadap fakta dan opini yang berkembang, problem solver terhadap permasalahan, mendidik generasi agar semakin peduli. Ketika wanita memiliki cita, dan mampu memberdayakan segala potensi, maka bersiaplah menyongsong peradaban manusia yang gemilang.(***)