Nur Fajar, Bocah Asal Buton Tengah Butuh Darah AB di RSU Raha

PUBLIKSATU, MUNA - Sekilas dari raut wajah Nur Fajar (5), bocah asal Lombe, Kecamatan GU, Kabupaten Buton Tengah (Buteng) tampak sehat-sehat saja. Namun, siapa sangka, ternyata bocah itu sedang mengidap penyakit yang cukup berbahaya.
Diusianya yang masih belia, Fajar harus menahan sakitnya ditusuk jarum infus ditangannya. Sudah empat hari, Fajar dirawat di ruangan Anggrek 2 RSU Raha dengan bantuan oksigen.
Oleh dokter yang menanganinya, Fajar yang sejak usia 1 tahun ditinggal kedua orang tuanya merantau di Ambon itu didiagnosa mengalami kekurangan darah. Hemoglobinya (HB) hanya 2,5. Hal itu membuat seluruh tubuh anak itu pucat. Kedua kaki dan pipi bengkak-bengkak. Ia membutuhkan darah lima kantong. Saat ini yang tersedia baru satu kantong.
Kini, balita itu hanya bisa menahan rasa sakit. Kendati demikian, Ia masih terlihat aktif. Sesekali Ia menangis ketika terbangun tidur. Di RSU, Fajar hanya ditemani sang nenek, Wa Labi dan tiga orang tetangganya.
Wa Labi menuturkan, cucunya sakit sudah lebih 13 hari. Awalnya, Fajar sakit ambeien (wasir). Setelah diobati sembuh.
Kemudian pantatnya luka, tak bisa makan dan saat buang air besar bukannya kotoran yang keluar, melainkan lendir bercampur darah. Neneknya lalu membawanya ke Puskesmas GU. Karena, keterbatasan peralatan medis, pihak Puskesmas mengeluarkan surat rujukan ke RS.
Wa Labi pun kebingungan. Mau dirujuk ke Baubau, namun tak punya biaya dan sanak saudara disana (Baubau). Beruntung, ada rekan ayah Fajar di Muna yang meminta agar dibawa ke RSU Raha.
"Kami tiba di sini (RSU) naik angkutan umum. Untung saja, sopirnya tidak meminta ongkos," katanya.
Fajar dititipkan ayahnya, Anwar sejak berusia 1 tahun pada ibunya Wa Labi yang tinggal di Desa Waliko, Lombe. Anwar menitipkan anaknya, karena istrinya, Wa Anu mengalami gangguan jiwa di Ambon. Usai menitipkan Fajar, ayahnya kembali ke Ambon. Kini, ayahnya telah menikah lagi. Sejak dititipkan itulah, Fajar tak mengenalai kedua orang tuanya.
"Kalau di kampung (Lombe), Fajar memanggil tetangga bernama Arlan, dengan sebutan bapak. Saat ini, kebetulan dia (Arlan) yang temani Fajar. Karena, setiap bangun tidur harus digendong oleh Arlan," ceritanya.
Dimata Fajar, Arlan dianggap sebagai ayahnya. Hal itu disebabkan, setiap hari keduanya berinteraksi. Di kampung, Fajar terbilang anak yang aktif bermain seperti anak-anak pada umumnya. Kini, Fajar membutuhkan uluran tangan para dermawan dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) agar bisa sembuh dari penyakitnya. Karena keterbatasan ekonomi, Fajar saat ini tercatat sebagai pasien BPJS. (cr1)