Berita Terkini
Buteng

UHO Temukan Penyebab Turunnya Produktivitas Jambu Mete di Buteng

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 12 Desember 2018 15:04 WIB · 3 menit baca
UHO Temukan Penyebab Turunnya Produktivitas Jambu Mete di Buteng
Bupati Buteng H Samahuddin berpose bersama tim peneliti UHO dari Fakultas Pertanian dan Kehutanan di kantor bupati

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Setelah kurang lebih tiga bulan melakukan

penelitian tentang mulai menurunnya produktivitas jambu mete di Kabupaten

Buton Tengah (Buteng), tim peneliti Universitas Haluoleo (UHO) Kendari

akhirnya menemukan beberapa penyebabnya.

Hal itu dilaporkan tim peneliti UHO dalam seminar akhirnya yang digelar di

aula Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupatern Buteng, belum

lama ini.

Ketua Tim Peneliti UHO Prof Dr Ir Hj Husna, menerangkan penyebab turunnya

produktivitas jambu mete di Kabupaten Buteng dipengaruhi faktor umur pohon

yang sudah tua rata-rata 25-35 tahun. Sementara diketahui, umur produktif

jambu mete yang tinggi itu pada saat umur 15-20 tahun.

Penyebab lainnya, ada pada petaninya sendiri yang rata-rata tidak melakukan

budidaya yang baik, seperti pemeliharaan rutin maupun pemupukan. Para petani

biasanya baru membersihkan pohon jambunya dari gulma nanti saat berbunga

saja.

"Kita sudah petakan, perkebunan jambu mete terbanyak itu di Kecamatan

Mawasangka, disusul Kecamatan Lakudo dan Kecamatan Gu. Paling sedikit itu di

Kecamatan Sangia Wambulu dan Kecamatan Talaga Raya," bebernya.

Untuk mengatasi penyebab menurunnya produktivitas jambu mete ini, kata Prof

Husna, pihaknya sudah melahirkan beberapa rekomendasi yang harus dilakukan

petani dan Pemkab Buteng sendiri.

Bagi pohon jambu mete yang sudah tua, harus dilakukan peremajaan dengan

pemangkasan dan penjarangan. Setelah dilakukan peremajaan, daunnya kemudian

disemprot menggunakan pupuk atau diistilahkan penyemprotan pemupukan pada

daun.

Selain itu, harus disiapkan pembibitan lokal dari biji yang berkualitas

dengan rasa gurih dan manis. Pada saat ditanam harus memperhatikan jarak

tanamnya, atau ditanam diantara pohon jambu tua yang satu dengan lainnya.

Bibit tanaman baru tersebut kemudian harus menggunakan pupuk hayati Mikoriza.

"Peremajaan dan pembibitan ini sudah harus digarap dan dikembangkan 2019

nanti oleh Pemkab Buteng melalui Dinas Pertanian, Bidang Perkebunan. Bibit

unggul lokal tersebut nantinya akan dijual Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu,"

katanya.

Tak hanya rekomendasi solusi mengatasi penyebab menurunnya produktivitas

jambu mete, Tim UHO juga merekomendasikan pemanfaatan produksi biji jambu

mete dan buah semunya. Bagaimana kulit jambu mete bisa dibuat sebagai minyak

dan buah semunya bisa diproduksi menjadi sirup maupun selei. "Selama ini,

kulit jambu mete dan buah semunya itu dibuang saja, sehingga menjadi limbah

lingkungan," tukasnya.

Pihaknya berencana, jika HUT Buteng 2019 nanti bertepatan dengan musim buah

jambu mete, timnya akan mempromosikan sirup dan selesai dengan berbagai rasa

yang bahannya dari buah semu jambu mete. "Kalau sambutan pasar baik, bisa

diproduksi dalam skala besar. Tentu ini akan menciptakan lapangan kerja baru

bagi masyarakat," tutupnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bappeda Kabupaten Buteng LM Syamsudin Pamone

mengatakan, pihaknya menggandeng UHO untuk meneliti turunnya produktivitas

jambu mete merupakan wujud dari visi misi pemerintahan Samahuddin-La Ntau

(SamaTau) dalam mengembangkan tiga sektor unggulan di Kabupaten Buteng.

"Ada tiga sektor unggulan yang akan dikembangkan, yakni pariwisata,

perikanan, dan pertanian. Pengembangan teknologi jambu mete nantinya

sebagaimana rekomendasi tim peneliti UHO merupakan salah satu upaya dalam

mendorong gerak maju sektor pertanian di bidang perkebunan, disamping

pengembangan potensi pertanian lainnya," paparnya.

Bappeda sendiri akan memberikan suport pada Dinas Pertanian, khususnya Bidang

Perkebunan dalam menyiapkan road map dalam mengembangkan perkebunan di

Kabupaten Buteng yang salah satunya adalah pengembangan teknologi jambu mete

sebagai program dalam mengaktualisasikan visi misi bupati.

"Saya kira tak hanya Bappeda, tapi semua OPD terkait harus berperan.

Bagaimana Disperindag menyiapkan produk-produk pertanian dengan label

Butengnya dan menjamin pemasarannya, Dinas Nakertrans dapat merekrut tenaga

kerjanya dan lain sebagainya. Semua dilakukan secara terpadu untuk mewujudkan

Buteng yang "Berkah" sebagaimana visi misi bupati," pungkas Samsudin.(uzi)