Terkena Pelebaran Jalan, Warga Buteng Relakan Rumah Panggungnya Dipotong

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Dukungan masyarakat Kabupaten Buton Tengah (Buteng) terhadap program pemerintah terhadap pelebaran jalan perlu diapresiasi. Bagaimana tidak, rumah panggungnya yang terkena dampak pelebaran jalan direlakan untuk dipotong demi kelancaran pembangunan.
Seperti halnya terjadi di Desa Bungi, Kecamatan Mawaangka Timur (Mastim), Jumat (21/12/2018). Sebuah rumah panggung milik Dirmawan (70), merelakan bagian rumahnya dipotong warga secara gotong royong yang rencana sebelumnya hendak digotong ramai-ramai untuk diangkat dan digeser sekitar dua meter.
Namun karena memikirkan resiko sudah mendekat tebing pantai, warga pun kemudian bersepakat untuk memotong bagian samping rumah yang menjorok ke bahu jalan sekitar 1,5 meter setelah mendapat persetujuan dari si empunya rumah.
"Sebenarnya bisa saja diangkat ramai-ramai di geser ke arah tebing kalau sudah dibuatkan talud atau tiang dari semen sebagai penyanggah tiangnya. Tapi itu harus membutuhkan waktu lama, sementara pekerjaan pelebaran jalan dan fondasi taludnya sudah harus selesai akhir tahun ini," tutur Kades Bungi Nuzula, ditemui di kediamannya, Sabtu (22/12).
Nuzula mengaku, pemilik rumah yang sementara merantau di Ambon tidak keberatan rumahnya dipotong sebagian setelah dihubungi melalui telepon. Demi pembangunan dan kebersamaan, ia rela rumahnya dipotong asalkan barang-barangnya diamankan dengan baik.
"Justru pak Dirmawan merasa risih sama warga desa yang bergotong royong memotong rumahnya tersebut tidak bisa menyiapkan makanan dan minuman sebagaimana lazimnya kebiasaan gotong royong di desa ini. Tapi kami sudah sampaikan, tidak usah khawatir dengan itu karena semuanya sudah ditanggung pihak kontraktor," bebernya.
Kades Nuzula menuturkan, kebiasaan gotong royong di desanya masih sangat tinggi. Jika pembawa info sudah meneriakan akan ada gotong royong dengan berkeliling desa sehari sebelumnya, maka keesokan harinya warga sudah ramai berkumpul.
"Alhamdulillah rasa kegotong royongan di desa kami ini masih sangat kental. Seperti membangun fondasi rumah, tidak perlu menyewa tukang. Kita kerja ramai-ramai langsung selesai satu hari. Pemilik rumah cukup meyiapkan makan minum ala kadarnya," terang Nuzula.
Tak hanya rumah Dirmawan yang terkena dampak pelebaran jalan. Tetangganya yang bersebelahan rumah, Nasrah (45) juga terkena imbas. Dapur rumahnya yang menjorok ke jalan, sebagian harus dibongkar. Termasuk pohon mangga, alpukat, dan pohon kelapanya ikut ditebang.
"Tidak ada masalah buat saya pak. Selama itu untuk pembangunan dan kemajuan kampung, kita harus dukung. Anggap saja sebagai sumbangan saya untuk pembangunan daerah dan amal jariyah saya di akhirat nanti," ungkap Nasrah ditemui di kediamannya.
Apalagi putranya merupakan bendahara desa, maka ia harus memberikan contoh kepada warga lainnya agar program pemerintah bisa berjalan dengan baik.
"Ada juga hikmahnya waktu rumah pak Dirmawan dipotong kemarin, jualan saya laku terjual dan pihak kontraktor pesan roti Rp 200 ribu," ucapnya tanpa beban.(uzi)