Rahasia Udu Bersaudara Meraih Mimpi
Bagikan

UDU bersaudara penuh lompatan. Betapa tidak, setelah keduanya mendapatkan gelar doktor yang hampir bersamaan pada tahun 2016 di dua Universitas ternama di negeri ini, yakni di Universias Gajah Mada, Yogyakarta dan Universitas Udaya, Bali. Udu bersaudara, Dr. Sumiman Udu, M.Hum dan Dr. Hamiruddin Udu, M.Hum kini terpilih dan dipercaya untuk menduduki dua jabatan penting di dua lembaga yang berbeda.
Hamiruddin Udu (adik) saat ini telah dipilih dan dipercaya untuk kedua kalinya sebagai Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Tenggara, yakni Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Tenggara Periode 2013 - 2018 dan Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Tenggara Periode 2018 - 2023. Sementara Dr. Sumiman Udu M.Hum, hari ini tanggal 14 September 2019 resmi dilantik menjadi pimpinan tertinggi di Universitas Muslim Buton, yakni sebagai Rektor Universitas Muslim Buton Periode 2019 - 2023. Dua lembaga berpengaruh, yang tentu tidak semua orang bisa mendapatkan kepercayaan berada di sana.
Lalu pertanyaan muncul dibenak kita, siapa dan bagaimana Udu bersaudara ini berproses? Udu bersaudara sebagaimana tulisan Rudihont Wakatobi pada blog: https://larudiwakatobi.blogspot.com/2016/10/belajar-dari-spirit-perubahan-udu.html adalah anak-anak kampung di pesisir timur Pulau Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.
Udu bersaudara telah ditempa berbagai tantangan. Keduanya terlahir dari keluarga yang tak punya apa-apa. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sejak kecil mereka sudah berkenalan dengan ganasnya ombak laut Banda, tajamnya batu karang di pesisir timur Pulau Wangi-Wangi dan kerasnya bebatuan di lahan tandus Pulau Wangi-Wangi.
Udu bersaudara harus turun melaut betapapun ganasnya ombat laut Banda hanya untuk membuat dapur ibunya tetap berasap serta lari ke kebun untuk memastikan ibunya tetap memasak kasoami dan sayuran. Mereka juga harus lari ke hutan untuk mencari kayu bakar. Aktivitas tersebut dilakukannya setiap saat sejak Udu bersaudara masih usia belia, usia dimana anak-anak kota tidak menemukan aktivitas itu bahkan dalam mimpi.
Sejak bersekolah di SD, Udu bersaudara telah dilibatkan dalam berbagai aktivitas usaha keluarga untuk mereka tetap bertahan hidup. Tidak seperti anak-anak lainnya di perkotaan, Udu bersaudara hampir tidak memiliki waktu untuk bermain. Udu bersaudara menjadikan pesisir laut Banda yang berombak itu sebagai tempat bermain, menjadikan lahan tandus dan kerasnya bebatuan di kebun ibunya sebagai tempat melatih daya tahan, menjadikan bunyi deruh kerasnya ombak sebagai nyanyian pengobat rindu.
Tidak hanya sekali dua kali tangan dan kaki mereka terluka, melepuh dan bengkak akibat kerasnya kehidupan. Tangan luka dan kadang melepuh karena harus berpegang kuat mengayun sampan ketika turun melaut dan/atau melepuh karena kuatnya memegan parang dan kapak ketika membabak pohon pada saat membuka lahan membantu kedua orang tuanya di kebun.
Udu bersaudara tidak hanya sekali dua kali membiarkan punggung bengkak dan berdarah hanya untuk memikul membawa pulang hasil kebun. Mereka seolah tidak mengenal kata menyerah, terus maju dan maju hanya untuk bisa bertahan hidup. Menurutnya, hidup ini adalah perjuangan. Dari sanalah Udu bersaudara belajar berjuang, dan tidak mau meninggalkan sekolah pergi bekerja di Malaysia dan Singapura seperti anak-anak lainnya, yang ketika mudik membawa uang puluhan hingga ratusan juta.
Dalam dunia pendidikan, Udu bersaudara menempuh pendidikan hampir bersamaan. Udu kakak lebih duluan dua tahun. Udu kakak kelas III SD dan Udu adik mulai masuk sekolah. Sejak saat itu, Udu bersaudara selalu jalan bersama, bergandeng tangan, dan saling melindungi. Setelah menamatkan pendidikan di SD Longa, mereka melanjutkan pendidikan ke sekolah agama, yakni MTsN Wanci yang berjarak kurang lebih 22 km.
Sejak melanjutkan pendidikan di MTsN Wanci, tantangan hidup keduanya makin berat. Di samping tetap membantu kedua orang tuanya sebagaimana telah dideskripsikan sebelumnya, Udu bersaudara harus mengayuh sepeda ke sekolah sejauh 22 km setiap hari bila tidak menginap di gubuk yang mereka bangun di dekat sekolah.
Untuk ke MTs tersebut, Udu bersaudara harus bersiap diri sejak sekitar pukul 04:00 wita dini hari, shalat subuh di tengah perjalanan ke sekolah, biasanya di Desa Waelumu, sebuah desa yang berada di antara kampung dan sekolah. Dan keduanya tiba kembali di rumah paling cepat pada sekitar pukul 16:30 wita. Tidak ada waktu tidur siang untuk keduanya. Waktu tidur siang dihabiskan di atas sepeda yang mereka ayun. Itu pun bila sepeda mereka normal atau tidak rusak.
Apabila sepeda keduanya atau salah satunya rusak, maka keduanya tiba di rumah kadang kala setelah magrib dengan kondisi perut yang tetap kosong. Tidak ada uang jajan bagi keduanya selama menempuh pendidikan. Itulah sebabnya pada suatu sore di pendakian Onowa, Udu adik ditemukan seorang petani tergeletak, terbaring di tengah jalan, jatuh pingsan karena lapar dan kecapean.
Walau demikian, semangat mereka untuk tetap melanjutkan pendidikan tidak pernah luntur. Keesokan harinya, dini hari sekitar pukul 04:00 wita harus berangkat lagi ke sekolah dengan mengayuh sepeda panjul warisan kakak tertuanya, La Malihu. Di masa itu, hanya mereka berdua yang melanjutkan sekolah ke ibu kota kecamatan dari kampungnya.
Perjalanan antara rumah dan sekolah di saat pagi dan saat siang hingga sore bagi mereka adalah tempat bermain. Karena sejak sekolah di MTs dan SMA/Madrasah Aliyah, hari minggu digunakan untuk pergi ke kebun atau melaut dan pulang dari kebun atau laut harus digunakan untuk mencuci pakaian sendiri, menjemurnya sendiri dan menyetrikanya sendiri bila masih punya waktu. Pada malam hari, mereka sudah kecapean sehingga harus istrahat. Dan bangun Senin dini hari untuk memulai lagi mengayuh sepeda ke sekolah yang berjarak 22 KM itu.
Jalur ke MTs melalui pendakian Onowa dilalui Udu bersaudara apabila sepeda mereka tidak rusak. Akan tetapi, apabila sepeda mereka rusak dan tidak bisa diperbaiki sendiri pada hari minggu maka Udu bersaudara harus berjalan kaki melalui pendakian Osi. Keduanya berjalan kaki menembus hutan belantaran, melewati padang alang-alang yang luas, naik-turun gunung, melewati sejumlah perkampungan di daerah pegunungan Pulau Wangi-Wangi baru sampai di Gubuk mereka di dekat sekolah.
Waktu tempuh melewati semua daerah itu sekitar 5-6 jam. Untuk itu, apabila sepeda rusak maka Udu bersaudara harus berangkat ke sekolah pada hari minggu sekitar pukul 14:00 wita dengan berjalan kaki, dan sampai di gubuk mereka pada sekitar magrib atau jelang shalat Isya. Baju basah dengan keringat. Perjalanan itu dilaluinya baik saat hujan maupun matahari panas. Udu bersaudara sudah tidak menganggap itu sebagai hambatan ikhtiar mereka meraih mimpi.
Apabila menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melalui pendakian Osi, di atas punggung Udu bersaudara terdapat kaopi dan tas baju yang harus dipikul secara bergantian. Kaopi merupakan titipan ibunya untuk bekal mereka selama seminggu di gubuk. Untuk bisa bertahan hidup di Wanci, di gubuk mereka, tempat yang tanpa orang tuanya disaat usia keduanya masih sangat belia, Udu bersaudara bekerja paruh waktu mengharapkan gaji dengan menjadi kuli di pelabuhan, ketika ada kapal yang bongkar muatan, memaculkan tanah pertanian di kebun orang, dan/atau menjual es lilin milik tetangga di sekolah.
Dalam setiap ruang waktu perjuangan tersebut, Udu bersaudara bermandikan air keringat. Dan pada momen lain, baju basah keringat itupun kering di badan sebagai tanda bahwa mereka tidak bekerja dan berjuang di tempat ber-AC. Mereka berdua menahan panasnya terik mentari dan dinginnya malam. Tamat di SMU/Madrasah Aliyah, Udu bersaudara harus mengutang uang neneknya untuk melanjutkan studi di Universitas Halu Oleo, Kendari. Tempat yang semakin jauh dari rumah kedua orang tuanya.
Selama melanjutkan studi S1 dan S2, apa yang pernah dihadapi pada saat SD, MTs dan SMA/Madrasah Aliyah tidak jauh berbeda. Baju basah karena keringat dan kering di badan masih mewarnai hari-hari dari perjuangannya. Dan tentu disela-sela perjuangan itu, tidak sedikit orang yang mengulurkan tangannya untuk membantu, mereka membangun persahabatan dan cinta untuk mengisi setiap celah ruang perjuangan keduanya.
Lalu pertanyaan selanjutnya, apa rahasia Udu bersaudara bisa meraih mimpi? Yang saat ini keduanya telah mengukir banyak prestasi. Mulai dari kesempatan melanjutkan studi S1 hingga S3 dengan beasiswa, bersama-sama dipercaya menjadi tim riset di Universitas Leiden Belanda dengan dana dari pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda.
Bersama atau sendiri-sendiri dipercaya mewakili kampus tempatnya kuliah dan tempatnya bekerja membawakan makalah pada seminar internasional di dalam dan luar negeri, mewakili Indonesia mengikuti sejumlah workshop di dalam dan luar negeri, menjadi penulis sejumlah buku yang sebagian telah dipentaskan di sejumlah panggung teater/drama, dan/atau menjadi narasumber di sejumlah bimtek dan rakor tingkat nasional, dan masih banyak lagi.
Disamping jabatan mereka saat ini, misalnya Udu adik sebagai Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Tenggara dua periode dan Udu kakak yang hari ini dilantik sebagai Rektor Universitas Muslim Buton. Rahasia Udu bersaudara dalam mengukir sejumlah prestasi itu tidak lain adalah kerja keras, komitmen mewujudkan mimpi dan integritas diri yang tetap dijaga dan dipegang teguh. Di samping pengaruh berkah kebiasaan membaca kitab suci Al-Quran, doa istri dan terutama doa kedua orang tua yang terus-menerus mengalir disetiap sepertiga malam.
Hadits Nabi SAW yang hingga kini masih terpasang kokoh di diding kamar kecil mereka di kampung, di rumah orang tua yang berbunyi “matinya orang yang mencari ilmu adalah mati syahid” menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam spirit yang menyemangati Udu bersaudara untuk tetap berjuang meraih mimpi.
Dan diakhir tulisan ini, penulis ingin mengucapkan selamat kepada Udu kakak yang dilantik hari ini sebagai Rektor Universitas Muslim Buton periode 2019-2023, dan selamat serta rasa kagum penuh hormat kepada orang tua yang berotak profesor dan berhati ulama, yang saat ini sementara menyaksikan Udu kakak dilantik menjadi rektor, La Udu dan Wa Yai yang telah menurunkan gen cerdas pada kedua anaknya, yang kini keduanya mengukir prestasi di Bumi Anoa, Bumi Sulawesi Tenggara.
Semoga kalian berdua selalu diberi kesehatan dan umur panjang untuk tetap menyaksikan kedua putra kalian bekerja dan bersinergis meraih bintang. Sekali lagi selamat.(***)