Berita Terkini
Opini

Nyawa Mahasiswa

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 24 September 2019 18:41 WIB · 2 menit baca
Nyawa Mahasiswa
Abu Syah Jihad FS*)

SETELAH cukup lama diam, akhirnya mahasiswa bereaksi. Ibarat manusia, negeri ini memang sedang sakit, bila tidak cepat diobati akan mati.

Mungkin inilah yang berkecamuk di dada mahasiswa. Sehingga muncul aksi solidaritas dari sejumlah mahasiswa diberbagai wilayah. Mulai dari Jakarta, Malang, Yogyakarta, Makassar, Samarinda, Baubau, Bogor, Riau, Kediri, dan lain-lain.

Masalah negeri ini kompleks. Diantaranya indikasi pelemahan KPK, KUHP yang dinilai lebih parah dari zaman kolonial, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak kunjung selesai, dan masih banyak lagi persoalan lainnya.

Banyaknya masalah yang melilit Ibu Pertiwi butuh solusi fundamental agar persoalan tak berulang. Bukan solusi tambal sulam yang justru menimbulkan masalah baru.

Sebab jika bukan solusi tepat, maka yang terjadi adalah menyelesaikan masalah dengan masalah. Alih-alih mendapatkan solusi, justru yang terjadi malah membuat masalah terus bertambah dan tak kunjung tuntas.

Maka itu, mahasiswa harus diarahkan pada gerakan yang ideologis, bukan pragmatis. Sebab jika tidak, gerakan mahasiswa mudah ditunggangi dan dibajak kepentingan tertentu.

Akibatnya gerakan mahasiswa hanya dimanfaatkan, bukan menjawab masalah rakyat. Diantaranya, kesulitan ekonomi, lapangan pekerjaan, supremasi hukum, biaya kesehatan mahal, dan seabrek masalah lainnya.

Alhasil, untuk membuat gerakan mahasiswa lebih bernyawa, maka faktor ideologi yang harus diperkuat. Agar aksi lebih bertaji. Punya militansi. Berisi.

Pertanyaan berikut, ideologi apa? Islam.

Ya, Islam sebagai solusi. Bukan opsi, tapi obligasi.

Sekularisme terbukti gagal membawa negeri ini pada kesejahteraan. Sebaliknya malah membawa kita pada lubang kebangkrutan.

Sosialisme. Masa lalu kelam yang tak perlu diulang.

Akhirnya, kita berharap mahasiswa bergerak memiliki ruh perubahan, bukan lagi perbaikan.

Reformasi terbukti gagal membawa Indonesia pada kebangkitan.

Ayo mahasiswa terulah bergerak. Jangan layu sebelum berkembang.(**)

Khadim Majelis Nafsiyah Islamiyah