Berita Terkini
Wakatobi

Dari Dekat Puncak Festival Lalo'a Wangiwangi

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 15 Oktober 2019 01:13 WIB · 3 menit baca
Dari Dekat Puncak Festival Lalo'a Wangiwangi

Meriah, Replika Raksasa Ikan Baronang Sepanjang 9 Meter, Diarak 3.500 Peserta Karnaval

WAKATOBI memang kaya akan kegiatan pariwisata dan budaya. Salah satunya Festival Lalo'a Wangiwangi. Bagaimana kemeriahannya?

Laporan: Irwansyah Amunu, Wakatobi

HARI ketiga Festival Lalo'a, tepatnya Minggu (13/10) merupakan puncak acara. Menurut panitia pelaksana, Lalo'a berasal dari kata kalo dalam bahasa masyarakat adat Liya, Wakatobi, yang berarti lewat atau melalui. Akhiran 'a' pada kata Kalo:a menunjukkan kata kerja. Jadi lalo'a dapat dimaknai sebagai sesuatu yang lewat atau tempat lewat (jalan).

Kabag Humas dan Protokol Setkab Wakatobi, Drs La Ode Ifi menerangkan tradisi Lalo'a ditandai dengan kedatangan (migrasi) ikan baronang (rabbit fish) atau borona (nama lokal) yang tak terhingga jumlahnya ke kawasan pesisir, di wilayah laut desa adat (kadie) Liya. Peristiwa ini terjadi pada bulan September sampai November tiap tahun, setiap tanggal 9 sampai 11 bulan hijriah.

Fenomena alam dan kearifan masyarakat pada musim Lalo'a kemudian menginspirasi masyarakat adat kadie Liya menyelenggarakan Festival Lalo'a. Festival ini merupakan bentuk perayaan musim migrasi ikan baronang yang dimaksudkan sebagai sarana pendidikan tentang tradisi Lalo'a dan persembahan masyarakat adat Kadie Liya untuk ketahanan pangan dan perikanan berkelanjutan.

Karnaval Lalo'a merupakan gambaran migrasi masak ikan baronang saat musim Lalo'a. Peserta parade adalah semua pengunjung festival. Dimulai dengan berjalan bersama-sama dari lokasi 'adopai telur ikan baronang' di Desa Liya Bahari, menuju lokasi bakar ikan Sepenjang jalan Desa Liya Mawi. Masing-masing peserta memegang tongkat kecil yang pada ujungnya dilekatkan duplikat ikan baronang dari kardus bekas atau bahan bekas lainnya.

-

Replika raksasa ikan Baronang dengan dimensi panjang 9 meter, setinggi 4,5 meter dan berat 75 kg dari material besi yang dibuat selama 15 hari ini merupakan karya seniman lokal. Sebanyak 3500 peserta, terdiri atas 1400 siswa SD hingga SMA se-Liya dan 2100 masyarakat lokal dipimpin langsung Bupati Wakatobi, Forkopimda dan Menantu u Liya terlibat mengarak langsung replika ikan ini.

Dalam acara tersebut, Bupati Wakatobi, H Arhawi memberikan apresiasi, penghargaan, dan ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada panitia pelaksana dan seluruh elemen masyarakat yang membantu pelaksanaan iven sehingga festival bisa berlangsung sukses.

"Dari kondisi geografis, keanekaragaman hayati dan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di dalam masyarakat, ditambah dengan adanya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka Wakatobi ditetapkan sebagai Taman Nasional, Cagar Biosfer, dan 10 destinasi pariwisata prioritas nasional," bebernya.

Ketua Golkar Wakatobi itu juga mengajak untuk tetap konsisten memelihara dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai modal kultural dalam kehidupan bermasyarakat. "Karena saya sangat yakin, dengan budaya kita dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan kita, dengan budaya kita akan mampu meningkatkan perekonomian kita, dengan budaya kita akan dikenal oleh dunia," pungkasnya.(***)