Kearifan Lokal Suku Bajo Lamanggau

TOMIA - Suku Bajo adalah kelompok etnis yang tinggal di pesisir dan laut, dan dikenal sebagai penjelajah lautan. Suku ini memiliki budaya maritim yang kuat dan tersebar di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan brunei.
Mereka dikenal sebagai "pengembara laut" karena gaya hidup mereka yang sebagian besar dihabiskan di atas perahu atau rumah panggung yang terapung di laut. Selain itu, mereka juga memiliki keahlian luar biasa sebagai penyelam handal.
Suku Bajo tersebar di beberapa wilayah di Nusantara salah satunya suku bajo yang berada di Desa Lamanggau Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tengara. Di Desa Lamanggau Suku Bajo lebih banyak beraktifitas di pesiair dan di laut untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Bebeberapa kearifan lokal yamg terdapat di bajo lamanggau diantaranya :
1. Pengetahuan tentang perikanan dan laut. Suku Bajo memiliki pengetahuan yang luas tentang laut dan perikanan, mereka dapat memprediksi pergerakan ikan dan musim penangkapan ikan dengan baik.
Berdasarkan keterangan dari salah seorang Nelayan Suku Bajo Lamanggau, La Abo pada Kamis (5/2), dia mengatakan kalau musim ikan Kurapu (Tiger) dan ikan Sunu itu biasanya mulai dari bulan oktober samapi dengan bulan Maret.
"Nah itu biasanya dari berakhirnya Angin Timur sampai masuknya Angin Barat. Biasanya juga ditandai dengan mekarnya Bunga Merah pada Pohon Kayu Garisi dan berlimpahnya buah-buahan seperti Mangga, Kosambi, Jeruk dan Kendondong Hutan atau Ollo , nah !!! , kalau sudah ada tanda-tanda alam seperti itu berarti ikan kurapu (tiger) dan sunu itu banyak," terang La Abo .
2. Penggunaan Alat Tradisional , Suku Bajo Lamanggau menangkap ikan dan hewan laut menggunalan alat yag ramah lingkungan dan bersifat tradision. " kami kaluar pergi melaut menggunakan tali pancing yang diguling di purunga kayu, panjangnya sekitar 200-500 meter dan mata kail dengan ukuran berfariasi tergantung ukuran ikannya, kami juga menggunakan tombak atau panah untuk menangkap ikan. Kalu kami mau cari banttunang (cacing pasir ) kami menggunakan linggis atau besi cor yang di tajamkan ujungnya" ungkap La Mmpehu pada kamis (6/2).
3. Tradisi dan Ritual, Bajo Lamanggau memiliki tradisi dan ritual yang unik, seperti ritual nikahan, lahiran bayi, ritual kematian dan ritual memohon keselamatan dan kemakmuran, salahsatu cotonya ketika ada bayi yang baru dilahirkan Kepala suku atau keluarga dari dari bayi tersebut akan meletakan bayinya di permukaan air laut dan direndam.
Ritual Rendam Bayi atau "Ritual Mandi Bayi" yang dilakukan oleh masyarakat Bajo Lamanggau di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Dalam tradisi ini, bayi yang baru lahir direndam dalam air laut sebagai simbol pembersihan dan penyucian. Ritual ini dipercaya dapat membersihkan bayi dari segala kekotoran dan membawa keberkahan serta keselamatan bagi bayi tersebut.
Berikut adalah prosesi ritual rendam bayi :
(1) Bayi yang baru lahir dibawa ke pantai oleh keluarga dan tetua adat.
(2 )Tetua adat melakukan doa dan ritual untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi bayi.
(3) Bayi kemudian direndam dalam air laut oleh tetua adat atau orang tua bayi.
(4) Setelah direndam, bayi dibawa kembali ke rumah dan diberi pakaian baru sebagai simbol kebaruan dan kesucian.
4. Ritual Madua tululi atau menenggelamkan sesajian kedalam air laut . Muduai Tuli merupakan kebiasaan atau tradisi suku bajo lamanggau yang di percaya bisa menyembuhkan orang sakit. "Tradisi Maduai tuli dilakukan tokoh adat atau para tetuah di bajo yang tau akan bacaan doa yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang suku bajo. Tujuannya dilakukan ritual tersebut untuk menyembuhkan orang yang sudah lama sakit tapi tidak kunjung sembuh, walaupun sudah di bawa kerumah sakit , suku bajo meyakini bahwa terlalu lama menderita sakit itu karena orangtua atau keluarganya tidak mengingat saudara atau kakak (ari-ari) dari anak yang sakit itu " terang Tasrianto SPd perwakilan Pemuda Suku bajo Lamanggau pada sabtu (8/2).