Tikar Unik di Tomia Dibuat dari Daun Pandan Hutan

TOMIA- Maryam adalah Pengrajin Daun Pandan Hutan menjadi Tikar yang berdedikasi dan kreatif. Maryam adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Lamanggau, Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi, Sultra.
Ia memiliki latar belakang sebagai pengrajin tradisional yang telah diajarkan oleh ibunya sejak kecil. Maryam telah memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun dalam mengolah daun pandan hutan menjadi tikar. Ia telah mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang luas tentang cara mengolah daun pandan hutan menjadi produk yang berkualitas tinggi.
Pengrajin Daun Pandan hutan menjadi tikar unik adalah salah satu contoh usaha yang berbasis pada sumber daya alam dan kearifan lokal. Usaha ini bergerak dalam pengolahan daun pandan hutan menjadi tikar yang unik dan bernilai ekonomis. Daun pandan hutan yang digunakan sebagai bahan baku adalah daun pandan yang tumbuh secara alami di hutan dan memiliki kualitas yang baik.
"Membuat tikar dari daun Pandan hutan saya tekuni sejak 25 tahun yang lalu. Sebelum memulai proses pembuatan tikar harus mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan, seperti daun pandan hutan yang sudah dikeringkan dan diwarnai. Saya juga harus mempersiapkan alat-alat yang diperlukan, seperti anyaman dan pisau." kata Maryam pada koran ini, minggu 9/2/2025.
Ketua PKK Desa Lamanggau, Dania Satriani SPd ketika diwawancarai mengapresiasi dan mendukung Usaha Mikro, Maryam (Publiksatu/Suparman)
Proses pengolahan daun pandan hutan menjadi tikar unik ada beberapa tahap, yaitu Pemilihan Daun Pandan yang berkualitas baik, lalu pembersihan Duri Daun Pandan, selanjutnya pengeringan daun pandan untuk menghilangkan kelembaban kemudian penganyaman daun pandan menjadi tikar dan terakhir penambahan hiasan atau motif untuk meningkatkan nilai estetika.
Target Pasar untuk penjualan Tikar ditujukan kepada Masyarakat lokal, wisatawan, dan pasar online. Setiap tikar yang telah di buat memiliki harga yang bervariasi, jika tikar memiliki motif berwarna maka akan dihargai Rp 250.000 dengan ukuran panjang 250 cm dan lebar 150 cm. Adapun Tikar yang tidak memiliki motif berwarna memiliki harga Rp 200.000.
Maryam, sebagai pengrajin tikar daun pandan, memiliki beberapa tantangan dalam menghadapi pasar yang kompetitif. Disisi lain Maryam kesulitan dalam pengambilan bahan dasar untuk pembuatan tikar. Ini karena semakin berkurangnya Daun Pandan hutan yang diakibatkan terbakarnya hutan setempat.
“Ini merupakan tantangan bagi saya sebagai seorang pengrajin Tikar, harus bersaing dengan para pengusaha lain yang memiliki kualitas tikar yang bagus, dan tikar impor yang berbahan kapas. Terkadang saya sulit mendapatkan bahan dasar untuk pembuatan tikar, karena hutan sering kebakaran dan ditebang oleh okun-oknum yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.
Usaha Mikro pengrajin Daun pandan Hutan menjadi tikar memiliki daya tarik untuk wisatawan yang datang dari Luar Negeri ke Desa Lamanggau kecamatan Tomia kabupaten Wakatobi. Dengan pembuatan tikar secara masal akan membantu pertumbuhan perekonomian masyarakat Desa Lamanggau dan bisa mingkatkan pendapatan perkapita masyarakat setempat. Pemerintah desa setempat megapresiasi dan memberikan dukungan penuh kepada Maryam yang berkratifitas dalam pembuatan Daun Pandan hutan menjadi Tikar yang unik dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
“Kami sebagai ketua PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Desa Lamananggau, sangat mendukung dan mengaspresiasi Ibu Maryam sebagai Ibu Rumah Tangga yang memiliki kemampuan dalam mebuat Tikar yang berbahan dasar dari Daun Panan Hutan untuk membantu perekonomian keluarganya. Kami juga akan memfasilitasi potensi Ibu Maryam dan membuat kelompok pengrajin Tikar di Desa Lamanggau guna menumbuhkan Perekonomian masyarakat Desa Lamanggau dalam bidang usaha Mikro,” ujar Dania Satriani SPd, Senin 10/2.
Usaha Mikro Pengrajin Daun Pandan Hutan menjadi tikar yang unik memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat. Namun, usaha ini juga harus menghadapi tantangan seperti persaingan pasar, keterbatasan bahan baku, dan perubahan selera konsumen. Dengan meningkatkan kualitas produk, mengembangkan strategi pemasaran, dan mengembangkan produk baru, usaha ini dapat meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat.(p12)