11 Sekolah di Buteng Masuk Daerah Tertinggal

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Dari 132 sekolah SD dan SMP yang tersebar di Kabupaten Buton Tengah (Buteng), 11 sekolah diantaranya masuk kategori sekolah tertinggal. Predikat ini didapatkan 11 sekolah tersebut disebabkan keberadaannya di desa tertinggal sesuai putusan Kementerian Desa RI.
Disebutkan, desa tertinggal di Kabupaten Buteng yakni Desa Dahiango, Desa Polindu, Desa Gumanano, dan Air Bajo (Kecamatan Mawasangka). Desa Kokoe, Desa Wulu, dan Desa Talaga Besar (Kecamatan Talaga Raya). Desa Lagili, Kecamatan Mawasangka Timur (Mastim) dan Desa Kamama Mekar (Kecamatan Gu).
11 sekolah yang masuk di desa-desa tertinggal tersebut yakni SDN 6 Mawasangka, SDN 16 Mawasangka, SDN 20 Mawasangka, SDN 8 Talaga Raya, SDN 16 Talaga Raya, dan SDN 3 Mastim. Untuk tingkat SMP yakni SMPN Satu Atap 21 Buteng, SMPN 24 Buteng, SMPN Satu Atap 28 Buteng, SMPN Satu Atap 29 Buteng, SMPN satua Atap 30 Buteng, SMPN Satu Atap 32 Buteng, dan SMPN Satu Atap 34 Buteng.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Buteng, Abdullah, mengatakan berdasarkan hasil keputusan dari Kementerian Desa itu, ASN guru yang mengajar di 11 sekolah tertinggal tersebut berhak mendapatkan tunjangan daerah tertinggal yang besaran tunjangannya sebesar gaji pokok yang mereka terima setiap bulannya.
"Dari catatan kami, jumlah guru yang menerima tunjangan daerah tertingal ini sebanyak 59 orang. Rinciannya, 27 Guru Garis Depan (GGD) dan 32 guru ASN di 11 sekolah tertinggal tersebut," ungkap Abdullah ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Hanya saja, dalam perolehan besaran tunjangan berbeda-beda karena sekolah mereka ada yang baru terdaftar dan ada yang sudah lama terdaftar. "Rinciannya, 13 guru mendapatkan tunjangan hanya enam bulan atau satu semester dan 46 guru lainnya mendapatkan tunjangan full satu tahun," beber Abdullah.
Ketua PGRI Kabupaten Buteng ini menambahkan, berdasarkan peraturan menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2018, dua tahun kedepan penerima tunjangan daerah tertinggal bakal dievaluasi kembali. Pasalnya, sebagian besar GGD yang mendapatkan tunjangan saat ini tidak lagi berada di daerah tertinggal di Buteng,
"Dari 27 GGD sebelumnya, hanya lima orang yang masih mengajar di daerah tertinggal di Buteng. Selebihnya sudah pindah mengajar di sekolah lain di luar daerah tertinggal di Buteng," jelas mantan Kadis BKKBN Kabupaten Buteng ini.
Kepada GGD yang masih mengajar di daerah tertinggal, Abdullah berharap agar mereka terus meningkatkan kedisiplinan dalam melaksanakan tugasnya untuk mencerdaskan anak bangsa, khususnya di daerah tertinggal Kabupaten Buteng.(uzi)