Berita Terkini
Buteng

285 Pengungsi Korban Kerusuhan Buteng Kesulitan MCK

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 2 Desember 2019 18:39 WIB · 3 menit baca
285 Pengungsi Korban Kerusuhan Buteng Kesulitan MCK
Posko pengungsian korban kerusahan di Desa Wadiabero, Buteng

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Sebanyak 285 korban kerusuhan pembakaran rumah-rumah warga di Desa Wadiabero, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), saat ini dikumpulkan dalam satu posko pengugsian di desa setempat pasca kerusuhan, Rabu malam (27/11/2019).

Derita para pengungsi yang kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak tersebut, mendapat empati dari berbagai pihak yang turun memberikan bantuan langsung kepada mereka, sehari pasca kejadian. Mulai dari Pemkab Buteng sendiri, desa-desa sekitar, komunitas dan kerukunan, lembaga kepemudan dan masyarakat, hingga bantuan personal para dermawan.

Hanya saja, para korban terkendala dengan air bersih atau fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) di lokasi tenda pengungsian mereka. Terpaksa mereka menumpang di rumah-rumah warga desa setempat yang tidak terbakar atau di sekolah terdekat. Kondisi ini belum dipastikan kapan akan berakhir, sebelum rumah-rumah mereka direhabilitasi pemerintah.

Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Darurat dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buteng, Syahar Ibnu Isnain, mengatakan dikumpulkannya para pengungsi dalam satu posko untuk memudahkan penyaluran bantuan dan pemeriksaan tim medis memeriksa kesehatan mereka.

"Kondisi dan perkembangan pengungsi senantiasa dalam pemantauan tim dari pemerintah daerah. Kebutuhan logistik, alhamdulillah tercukupi. Hanya saja, mereka terkendala dengan fasilitas air bersih untuk keperluan MCK," ungkap Syahar di lokasi pengungsian, Sabtu (30/11).

Kendala MCK ini, kata dia, sudah dikoordinasikan pihaknya dengan PDAM dan Dinas Sosial untuk pengadaan Tandon air di posko pengungsian. Sementara fasilitas kakus memanfaatkan jamban sekolah dan rumah-rumah warga terdekat, sembari menanti rehabilitasi rumah mereka dari pemerintah.

Sekretaris Desa (Sekdes) Wadiabero, Imran, mengaku sejak Jumat (29/11) pagi, pihaknya mulai mendapatkan bantuan dari desa-desa sekitar maupun kerukunan keluarga di Kota Baubau, serta bantuan pribadi lainnya. "Bantuan yang masuk baru berupa pakaian dan sembako. Ada juga logistik lainnya dan obat-obatan serta tenaga kesehatan dari Pemkab Buteng," tuturnya.

-

SALURKAN BANTUAN - Kwarcab Pramuka Buteng saat menyalurkan bantuan di posko pengungsian Desa Wadiabero.

Ditanya, berapa kerugian materi akibat dari kerusuhan yang terjadi di desanya? Imran mengaku belum merampungkan karena masih terus menerima laporan yang masuk. Ada beberapa warga yang melapor tidak sempat mengambil uangnya saat rumahnya dibakar sekelompok massa dari Desa Tolandona.

"Ada korban yang datang melapor Rp 5 juta, Rp 10 juta, dan Rp 14 juta lebih. Belum lagi surat-surat berharga lainnya dan ijazah. Belum semua yang datang melapor, karena rata-rata mereka keluar menyelamatkan diri hanya pakaian di badan saja," bebernya.

Imran kemudian meralat informasi yang sebelumnya dilaporkan sementara sebanyak 25 rumah. Setelah pihaknya bersama aparat keamanan melakukan pendataan secara terperinci dan mendetail, ternyata lebih dari itu.

Ia merincikan, rumah yang terbakar rusak berat atau rata dengan tanah beserta isinya sebanyak 29 buah dengan korban 127 jiwa dan rusak sedang atau ringan 28 buah dengan korban 174 jiwa. Jumlah pengungsi 64 KK sebanyak 285 jiwa.

Kerusakan lainnya yang ditimbulkan antara lain, usaha bengkel dua unit hancur total, Toko usaha satu unit, kios 11 unit, sepeda motor 13 unit, perahu katinting beserta mesinnya dua unit, perahu nelayan yang baru diterima dari dana desa dua unit, rumput laut yang siap jual empat karung, dan kerusakan tali rumput laut.(uzi)