Berita Terkini
Buteng

Melihat Pelaksanaan Picundupia Masyarakat Takimpo

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 2 Desember 2019 18:30 WIB · 5 menit baca
Melihat Pelaksanaan Picundupia Masyarakat Takimpo
Gubernur Sultra, H Ali Mazi saat mengikuti prosesi Adat Picundupia, masyarakat Takimpo Kambulambulan, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton

PICUNDUPA adalah merupakan prosesi adat yang di dalamnya tersimpan satu energi besar yang mempersatukan masyarakat di wilayah adat Takimpo dan Kambulabulana, Kecamatan Pasarwajo. Mereka mengikutsertakan anak-anak bahkan bayi pertama (Cumpe) untuk datang di Wajo dengan menempuh jalan yang cukup menantang. Pun mereka harus jalan kaki.

Laporan: Darmono Djunuhi--- Buton Pos

MASYARAKAT sebagai peserta ritual mereka berjalan kaki dari kawasan pasar lama dengan menyusuri tepian pantai atau bahkan menggunakan perahu serta ada yang harus melalui jalan terjal dan curam untuk mengikuti acara prosesi adat Picundupia. Perjalanan mereka berakhir di Pantai Wajo, Kecamatan Pasarwajo sebagai tempat digelarnya pesta.

Sebelum pelaksanaan pesta adat tahunan, warga Takimpo Kambulambulan biasanya menggelar ritual adat Picundupia.

Menurut cerita latar belakang didadaknnya ritual karena munculnya keajaiban di Teluk Pasarwajo. Dimana sebuah kapal yang besar yang saat itu berlayar menyusuri pesisir lautan menuju ke daratan Buton yang mengalami perubahan. Penampakan dari kejauhan seperti perahu pinisi kemudian berubah menjadi perahu lambo. Selanjutnya perahu lambo ini berubah menjadi sampan dan saat bersandar pada salah satu gua di Wajo (Bolonco) kemudian berubah menjadi Kocibho (Pelepah Pinang), pada saat kejadian tersebut pada waktu itu terdengar suara tangisan bayi sehingga menarik perhatian seorang ibu yang bernama Wa Mbeka untuk mencari dimana sumber tangisan bayi tersebut.

Ternyata bayi itu berada pada salah satu liang batu yang keadaannya baru saja lahir disertai dengan plasentanya atau ari-ari yang masih lengkap. Kemudian Wa Mbeka membawa bayi tersebut untuk dirawat. Tak lupa Wa Mbeka memisahkan plasenta bayi tersebut dan plasenta ditanam di area Wajo. Waktu itu bayi ini menangis tidak henti hentinya, sehingga Wa Mbeka harus merayu dan dibelai supaya bayi tersebut dalam memberhentikan tangisannya, namun usaha tersebut tidak memberhentikan tangisan sang bayi yang baru sata didapatnya itu.

Sehingga Wa Mbeka kemudian mengambil perahu lalu mendayung sambil menyanyikan lagu kabanti sambil mengelilingi teluk Pasarwajo. ada hal aneh dan bin ajaib waktu itu, dimana terjadi bermunculan penyu atau kura-kura di permukaan sembari mengawal perahu yang dibawa Wa Mbeka sehingga Ia tidak capek lagi untuk mendayung perahu sembari menenangkan sang bayi. Dimana dalam beristirahatnya perahu dan penyu itu tersebut airnya yang tadinya asin menjadi tawar yang dimulai dari daerah Wajo, Lia (di sekitar Pasar Lama), Bente (disekitar SMPN 1 Pasarwajo) dan Batumatongka dan di Asa. Namun berbeda dengan di tepi pantai lainnya di teluk Pasarwajo.

Aris, salah seorang pembaca syair khabanti seraya mendendangkan, Erante Nombose Mboseno Mboseno Bhay Oh Sandarano. Rato-rato Nipukuno Wajo, Kabhae Bhaeno Wantobho Dhae Landea Larenco. Nomo Meko Santano Gola Dhae Nangku Bhai Yaya, Marinjendena Nangku Bai Yaya

"Artinya bersama berdayung, berdayung dayung bersama-sama. Ditujuan kita bersandar sampai, sampai tepuan di Wajo Pasir Putih Berasnya Wantobho denga teman berteman kasian La Renco. Manisnya Seperti Santan Dengan Gula, dengan Ibu yang ada datanglah jangan tinggalkan aku, Ibu yang ada," jelasnya dari ulasan khabanti tersebut.

Sambungnya, setelah mendendangkan lagu syair Khabanti Wa Mbeka, barulah anak tersebut berhenti dari tangisnya dan berdayung pulang kerumahnya sambil dikawal dengan seekor penyu. Kemudian beberapa hari kemudian anak tersebut di beri nama Salim sekaligus diadakan ritual Picundupia yakni di potongkan ayam dua ekor yakni ayam jantan dan betina juga dilengkapi dengan air LACIBHABU ( sumber Mata Air sekitar LAPODI ) dan air di WAJO di campur dengan darah ayam juga dengan tanah di tempat itu.

"Ayam tersebut dibersihkan dan selanjutnya yang diambil hanya hatinya dan kemudian di buat Kandarha (Sate) dagingnya di panggang dan tidak dijadikan syarat ritual," ringkasnya.

Menurut informasi, syarat rutual adalah air Lacibhabu dan air Wajo, darah ayam dan tanah yang sudah dicampur dioleskan pada jidat bayi yang hadir di Picundupia dalam bahasa Takimpo Kambulabulana Pasarwajo.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Salim telah tumbuh menjadi anak sehat yang berwatak baik.

Menurut penuturan tradisi lisan beberapa tahun kemudian sampai pada umur empat tahun bayi yang diberi nama Salim menghilang dengan ajaib di tempat Picundupia ini. kegiatan Picundupia di wasiatkan pada seluruh masyarakat Takimpo Kambulabulana, Pasarwajo setiap lahir anak pertama ( CUMPE ) maupun masyarakat Takimpo Kambulabulana Pasarwajo yang ada diperantauan. Diman bila Ia sudah kembali atau lahir di perantauan biar sudah dewasa maupun sudah berumah tangga wajib untuk melakukan prosesi Picundupia karena sudah wasiat yang ditandaskan leluhur masyarakat Takimpo Kambulabulan, Pasarwajo

Gubernur Sulawesi Tenggara H Ali Mazi SH mengatakan, terlepas dengan adanya perbedaaan kecil proses Picundupia yang dituturkan secara lisan dan secara turun temurun, didalamnya terdapat harapan, motivasi, serta semangat besar yang terkandung dalam ritual Picundupia ini hendaknya menjadi dorongan untuk bersama berusaha dan memohon kehadirat Allah SWT.

"Bayi yang mengikuti ritual ini bila besar nantinya didoakan menjadi anak yang baik, menghormati orang tua/wali dan guru dalam arti luas dalam proses perkembangan kehidupannya. Menjadi anak yang mencintai keluarga, masyarakat dan menyayangi teman. Serta enjadi anak yang mencintai tanah air, bangsa dan Negara. Kemudian didoakan menjadi anak yang menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya dan melaksanakan etika dan ahlak yang mulia, berkepribadian yang tinggi sebagai kehidupan bayi ajaib dilingkungan Kambuambulana Pasarwajo Untuk itu peran kita semua, orang tua, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh Generasi Muda , pemerintah untuk memberikan contoh dan perilaku yang baik sebagai rujukan bagi anak anak ini yang akan mengantarkan mereka menjadi generasi yang berguna," pungkasnya. (***)