Berita Terkini
Buteng

Antre Dapatkan Air Hingga Tengah Malam, Warga Desa Lowu-Lowu "Seruduk" PDAM Buton Unit Lombe

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 11 Desember 2019 16:24 WIB · 3 menit baca
Antre Dapatkan Air Hingga Tengah Malam, Warga Desa Lowu-Lowu "Seruduk" PDAM Buton Unit Lombe
Warga Desa Lowu-Lowu saat melakukan aksi demonstrasi di Kantor PDAM Buton Unit Lombe,

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Sudah mengalami krisis air bersih selama bertahun-tahun dan kini diperparah lagi harus mengantre hingga tengah malam untuk mendapatkan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), membuat warga Desa Lowu-Lowu, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), kehilangan kesabaran.

Bagaimana tidak, secara sepihak PDAM Buton Unit Lombe telah memutus pipa cabang yang menuju ke rumah-rumah warga dan membiarkan warga antre di pipa induk. Apalagi, airnya sengaja dialirkan menjelang malam hari. Akibatnya mereka harus mengantre hingga tengah malam untuk mendapatkan air PDAM tersebut.

Mendapatkan kenyataan ini, mereka pun kesal dan marah. Puncak kemarahan warga Desa Lowu-Lowu itu, ditunjukan dengan menyeruduk Kantor PDAM Unit Lombe dan mendatangi kantor bupati di Lakudo untuk mendapat perhatian serius serta solusi terbaik dari Pemkab Buteng agar segera dialirkan air bersih secara normal, Selasa (10/12/2019).

Aksi puluhan warga Desa Lowu-Lowu tersebut, diawali dengan orasi dan bakar ban di perempatan Kantor Camat Gu. Kemudian beramai-ramai menggeruduk Kantor PDAM Buton Unit Lombe untuk menormalkan aliran air di desa mereka hingga ke rumah-rumah warga pelanggan.

Sayangnya, di kantor kecil tersebut tak ada Kepala Unitnya. Hanya ada seorang operator dan satu pencatat pembayar tagihan pelanggan. Keduanya mengaku tak punya kapasitas dan kewenangan penuh untuk menjawab tuntutan warga.

Tak puas dengan jawaban itu, massa aksi kemudian mencoba menyegel pintu kantor dan salah seorang diantaranya meninju pintu hingga bolong. Beruntung, Kapolsek Gu AKP Suriadi yang sejak awal melakukan pengawalan cepat meredam emosi mereka untuk tidak berlaku anarkis dan merusak fasilitas kantor.

"Kalau kantor ini (PDAM Unit Lombe, red) disegel dan tidak beroperasi, akan merugikan pelanggan dari warga Lombe dan sekitarnya karena tidak akan dialiri air. Kalau itu terjadi, siapa yang akan bertanggungjawab," tanyanya.

Suriadi pun menelpon Kepala Unit PDAM Lombe dan mendapat jawaban akan turun keesokan harinya bersama tim dan pihak terkait lainnya untuk memastikan kerusakan pipa yang ada di Desa Lowu-Lowu. Kemudian secepatnya mengatasinya agar bisa normal kembali.

Mendengar jaminan tersebut, Korlap Aksi, Rijal menarik massanya untuk mundur. Ia mengancam, jika pihak PDAM Unit Lombe mengingkari janji, maka warga Lowu-Lowu akan datang menyegel Kantor PDAM Buton Unit Lombe dan mahasiswa akan melakukan aksi demontrasi di Kantor Pusat PDAM Buton di Baubau. Selanjutnya, ia mengarahkan massanya menuju Kantor Bupati Buteng di Lakudo.

Operator PDAM Unit Lombe, Arwan, ditemui rekan media usai aksi mengakui jika pipa sambungan ke rumah-rumah warga di Desa Lowu-Lowu sudah banyak yang rusak, bocor, dan meterannya dilepas warga. "Karena meterannya sudah banyak dilepas, terpaksa kami putus. Walaupun begitu, kami tetap mengalirkan air ke pipa induk dan kita gratiskan. Hanya saja resikonya warga harus antre," tuturnya.

Arwan mengaku, pemutusan aliran air dari pipa induk ke pipa sambungan tersebut sudah berlangsung satu bulan. "Pelanggan kita di Desa Lowu-Lowu hanya berkisar 32 rumah. Sehingga, ketika diputus dan dialirkan air ke pipa induk untuk melayani satu kampung, justru tambah rugi. "Makanya, air dialirkan hanya malam hari saja," singkatnya.(uzi)