Hugua Sambangi LPTK Wakatobi
Bagikan

PUBLIKSATU, WAKATOBI-
Disela-sela kegiatannya yang demikian padat, pada masa resesnya di Propinsi Sulawesi Tenggara, Hugua, Anggota Fraksi PDIP DPR RI, Sabtu (21/12) menyempatkan diri berkunjung ke Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) yang merupakan unit Kerja Pusat Riset Kelautan - Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (PRK-BRSDM KP), yang berkedudukan di Kabupaten Wakatobi.
Untuk diketahui, LPTK dibentuk dan dibangun di Kabupaten Wakatobi tahun 2011, pada saat Hugua menjabat sebagai Bupati Wakatobi selama dua periode kepemimpinan (2006-20011 dan 2011-2015). Bahkan selama masa kepemimpinannya di Wakatobi, LPTK olehnya dijadikan sebagai etalase Kabupaten Wakatobi. Melalui Hugua, hampir semua tamu penting yang datang ke Kabupaten Wakatobi dipastikan berkunjung ke LPTK sebagai Center of Excellent.
Pada kunjungannya kali ini ---yang merupakan kunjungan pertama sejak resmi menjadi anggota DPR RI Periode 2019–2024--- Hugua diterima Akhmatul Ferlin (Kepala LPTK BRSDM KP), didampingi Efi Noferya (Kasubsie Pelayanan Teknis LPTK), Sunarwan Asuhadi (Ketua Kelompok Peneliti dan Perekayasa LPTK), dan Arief Rahman (Fungsional Perekayasa LPTK).
Hadir pula pada momen tersebut, Manafi, merupakan salah satu anggota Tim Tujuh Pemekaran Wakatobi sebagai kabupaten, serta pernah menduduki sejumlah jabatan penting pada masa kepemimpinan Hugua sebagai Bupati Wakatobi periode 2006-2011.
Akhmatul Ferlin, pria kelahiran Batulo Buton ini, nampak bersemangat memperkenalkan dua inovasi unggulan LPTK di hadapan Hugua. Inovasi unggulan LPTK tersebut, secara khusus di-branding dengan akronim Wakatobi, baik pada inovasi rancang bangun riset teknologi pengawasan laut maupun konservasi laut.
Teknologi Konservasi Laut disebut dengan Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota Sea Bamboo disingkat Wakatobi - Sea Bamboo, yang risetnya telah dimulai sejak tahun 2016.
"Riset ini merupakan amanah dari Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 46/KEPMEN-KP/2014 Tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Bambu Laut (Isis spp.)," beber Akhmatul Ferlin
Hugua yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Maritim 6 Negara CTI/Maritim Local Government Network (Maritim LGN) memberikan apresiasi terkait riset Wakatobi-Sea Bamboo, apalagi bambu laut dikenal sebagai salah satu komoditas ekspor yang memiliki banyak manfaat, seperti bahan kosmetika, kerajinan tangan, bahan porselin, senyawa anti virus, bahkan dikenal sebagai ginseng laut.
"Saya akan mendorong ini kepada teman-teman yang ada di fraksi yang relevan serta kepada mitra kami di kementerian agar menaruh perhatian pada pengembangan riset ini," beber Hugua.
Setelah memperkenalkan Teknologi Wakatobi-Sea Bamboo, Akhmatul Ferlin kembali memperkenalkan teknologi inovasi unggulan LPTK yang disebut dengan WakatobiAIS yang merupakan akronim dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis AIS, yang risetnya telah dimulai sejak tahun 2017.
"WakatobiAIS dipersembahkan oleh LPTK untuk mengisi kekosongan teknologi keselamatan dan keterpantauan nelayan kecil yang selama ini merupakan segmentasi terbanyak yang mengalami kecelakaan laut. Kelebihan lain WakatobiAIS adalah memiliki tombol SOS yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menyampaikan keadaan darurat baik pada Base Station di darat maupun kapal-kapal lainnya yang ada di sekitar kejadian," tutur pria yang juga dipanggil Ferlin ini.
Menanggapi penyampaian Kepala LPTK tersebut, Hugua berujar,"Agar WakatobiAIS ini dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat luas, khususnya para nelayan, saya berharap LPTK segera menyelesaikan tahapan sertifikasi, sehingga WakatobiAIS dapat segera diproduksi massal melalui pihak industri."
Kunjungan Hugua di LPTK kali ini ditutup dengan sesi santai di ruang balkon LPTK yang terletak persis menghadap Laut Banda, sebuah kawasan yang menjadi ekosistem maritim bersama bagi Kawasan Indonesia Timur.(iwn)