Berita Terkini
Buteng

Lahan Kena Pembangunan Pintu Gerbang, Warga Lakapera Minta Dibuatkan Drainase Pencegah Banjir

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Sabtu, 27 Juni 2020 14:42 WIB · 2 menit baca
Lahan Kena Pembangunan Pintu Gerbang, Warga Lakapera Minta Dibuatkan Drainase Pencegah Banjir
Bupati Buteng H Samahuddin berpose bersama warga Desa Lakapera yang lahannya terkena pembangunan pintu gerbang perbatasan dengan Kabupaten Muna.jpg

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Tahun 2020 ini Pemerintah Kabupaten Buton Tengah (Pemkab Buteng) melalui bantuan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) akan membangun lagi pintu gerbang perbatasan dengan Kabupaten Muna di Desa Lakapera, Kecamatan Gu.

Model dan bentuknya akan dibuat mirip seperti pintu gerbang di Wamengkoli yang sudah rampung di Desa One Waara, Kecamatan Lakudo. Pintu gerbang di Wamengkoli tersebut tinggal diperindah dengan pembuatan taman wisatanya.

Sayangnya, untuk pintu gerbang di Desa Lakapera tidak bisa dibangun tepat di titik perbatasan dengan Kabupaten Muna. Pasalnya, di pinggir jalan lokasi tersebut terhalang dengan rumah penduduk. Hal itu mengharuskan Pemkab Buteng mencari lahan kosong untuk menggeser titik pembangunan pintu gerbangnya dan kena 100 meter masuk ke wilayah Buteng.

Hanya saja, lahan kosong yang menjadi titik pembangunan pintu gerbang tersebut milik beberapa warga. Beruntung saat Bupati Buteng H Samahuddin dan Kadis Cipta Karya Bina Konstruksi Tata Ruang Pemprov Sultra, Fahri Yamsul, bersama rombongan melakukan pengukuran penentuan lokasi, para pemilik lahan ada di tempat tersebut, Rabu (24/6/2020).

Samahuddin yang terbiasa duduk dengan rakyat dibawah pohon dan dimana saja, tak menemui kesulitan untuk meminta izin kepada para pemilik lahan. Ia yang dulunya berasal dari "akar rumput" langsung bisa membaur dengan berbahasa daerah setempat.

Setelah mendapat pemahaman yang baik dan mengena akan pentingnya pembangunan pintu gerbang tersebut, para pemilik lahan kemudian merelakan sebagian tanahnya dikena pembangunan pintu gerbang. Asalkan di pinggir lokasi tersebut dibuatkan drainase air, karena bila hujan selalu banjir.

Bupati menyanggupi permintaan tersebut dan memanggil konsultan dan kontraktor untuk membuat drainase pencegah banjir. Mereka kemudian langsung melakukan pengukuran sampai ke tempat pembuangan di sebuah kali yang tak jauh dari kebun warga.