Berita Terkini
Entertaiment

Ibnu Taha Fauzi: Ingin Berkontribusi Lestarikan Budaya Buton

Oleh Admin Publiksatu · Kamis, 10 Juni 2021 15:50 WIB · 3 menit baca
Ibnu Taha Fauzi: Ingin Berkontribusi Lestarikan Budaya Buton

PENYANYI lagu daerah Buton “Toudani Tana Wolio”, Ibnu Taha Fauzi belum lama ini merilis single terbarunya “Liwu Mo Bhajinga” melalui channel youtube V.S Record Baubau Official.

Lagu yang kembali diciptakan oleh Voril Marpap, seniman muda Baubau ini menceritakan keindahan alam dan kekayaan budaya di Buton Selatan. Pembuatan video klip lagu berbahasa Ciacia ini mengambil lokasi di Taman Batauga dan beberapa spot wisata di Buton Selatan seperti Savana Lapandewa, Bukit Lamando, Pantai Bahari dan Bandar Batauga. Video klip menjadi sangat atraktif dengan dukungan para penari latar dari Sanggar Seni Sungku’a Buso Sampolawa.

Ditemui disela-sela kesibukannya sebagai Kepala Seksi Verifikasi, Akuntansi dan Kepatuhan Internal di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Baubau, Fauzi panggilan akrabnya mengungkapkan latar belakang ketertarikannya menyanyikan lagu Buton meskipun dirinya bukan berdarah Buton. “Kalau bagi saya menyanyikan lagu daerah Buton adalah bentuk kecintaan terhadap budaya Buton. Selain itu sebagai bentuk kontribusi dalam melestarikan bahasa daerah yang sedemikian banyaknya di Kepulauan Buton dan bentuk perwujudan kompetensi Sosial Kultural yang wajib dimiliki oleh ASN” ujar pria asal Purwokerto/Banyumas yang juga kota kelahiran Prof. Dr. Susanto Zuhdi, guru besar sejarah UI penulis buku Perang Buton vs Kompeni Belanda 1752-1776: mengenang kepahlawanan La Karambau.

Menurutnya, sejarah dan budaya Buton sangat menarik untuk dipelajari. Beberapa benteng peninggalan Kesultanan Buton yang tersebar di Kepulauan Buton sudah berhasil ia eksplorasi mulai dari Kabaena sampai Wakatobi. “Seringkali saya traveling pada hari libur dengan mengunjungi benteng-benteng peninggalan Kesultanan Buton dan berinteraksi dengan masyarakat di sekitar benteng tersebut,” ungkap Fauzi.

“Saya juga ingin memiliki kenangan di Tanah Butuuni melalui lagu daerah, tempat saya pernah bertugas dalam perjalanan karier saya sebagai ASN di Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan, seperti diketahui sebagai PNS instansi vertikal membawa konsekuensi harus sanggup ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia sehingga selalu rutin mengalami mutasi,” tambah pria yang pernah menjuarai Performance Kesenian Daerah dalam Jambore Perbendaharaan di Akademi Militer Magelang tahun 2016 dan Performance Budaya Tradisional Terbaik dalam event yang sama di tahun 2018.

Saat ditanya, mengapa tidak menyanyikan lagu daerah Buton sejak tinggal di Baubau, Fauzi menjawab karena masih belum bisa fokus kembali mengembangkan bakat seninya. Selama dua tahun menjadi PIC program Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di KPPN Baubau, dirinya bertanggung jawab dalam mengawal institusi tersebut untuk meraih predikat WBK. “Alhamdulillah pada bulan Desember 2020 kemarin, KPPN Baubau berhasil meraih predikat WBK dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Saya sangat bersyukur dan bisa bernafas lega meskipun harus tetap menjaga kesinambungan capaian tersebut untuk persiapan penilaian WBBM di tahun 2022,” tandas Fauzi.

“Setelah predikat WBK tersebut diraih, saya langsung ngegas rekaman lagu daerah Buton dan alhamdulillah sampai dengan saat ini sudah dua single yang berhasil diproduksi,” ujar pria yang sangat mengagumi kualitas suara penyanyi Victor Hutabarat ini. Fauzi menuturkan dirinya tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti dalam menyanyikan lagu daerah yang bukan bahasa ibunya karena pelafalan itu bisa dipelajari dengan latihan vokal secara rutin. Apalagi dirinya bukan orang luar Buton pertama yang menyanyikan lagu daerah Buton. Sebelum Ibnu Taha Fauzi, Shirley Malinton dan Hemi Pesolima juga pernah tercatat menyanyikan lagu berbahasa Buton.(p21)