Tajdid Bagi Pendidikan Muhammadiyah
Bagikan

Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta merupakan medium yang sakral bagi kemunculan gagasan strategis Muhammadiyah dalam memasuki gelombang kedua dari gerakan pembaruan yang diusungnya bagi segenap bangsa dan masyarakat Indonesia. Salah satu bagian terpenting dari gagasan tadjid (pembaruan) Muhammadiyah adalah penyelengaraan pendidikan oleh Muhammadiyah yang diyakini sebagai sarana dalam menjembatani disparitas realitas sosial kebangsaan Indonesia dengan masyarakat utama yang dicita-citakan Muhammadiyah sejak berdirinya satu abad lampau.
Dalam konteks nasional gagasan mengenai cita-cita Muhammadiyah itu sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan ke dalam peryataan luhur, ‘’membentuk manusia Indonesia yang sempurna, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, inovatif.”
Maka pada tataran filosofis pragmatisnya perlu dilakukan kajian yang merefleksikan kebutuhan dan sekaligus tantangan bagi pendidikan Muhammadiyah ke depan, sekaligus juga sebagai koreksi Muhammadiyah terhadap pendidikan nasional yang semakin menjauh dari cita-cita konstitusi.
Bagaimana seharusnya pembaruan pendidikan dijalankan Muhammadiyah?
Secara umum dapat dipahami, kesadaran Muhammadiyah dalam memilih strategi dakwahnya mengambil jalan kultural mencerminkan keyakinan bahwa masyarakat utama hanya dapat diwujudkan melalui kerja-kerjas strategis berupa pembaharuan dan pemberdayaan dalam menyelenggarakan dan memajukan pendidikan di tengah-tengah masyarakat. Kecenderungan Muhammadiyah yang selama ini diam dan melakukan kerja-kerja regular semata sebagai respon atas berbagai kebijakan pendidikan yang diputuskan pemerintah menyebabkan perkembangan pendidikan Muhammadiyah berada dalam posisi yang aman. Namun mengandung resiko berupa kehilangan watak pembaruannya, yang dalam tataran ideologis dapat menghambat terselenggaranya pencapaian masyarakat utama yang dicita-citakan.
Kondisi ini dialami oleh pendidikan Muhammadiyah sebagai pantulan dari dominasi negara dalam mengelola kepentingan pendidikan. Muhammadiyah perlu mengambil posisi yang berbeda dengan sebelumnya, melalui permunculan gagasan baru berupa cetak biru pembaruan pendidikan sebagai bentuk tanggung jawab ideologis dan sosiologis bagi umat, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Misi Pembaruan Pendidikan
Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dalam salah satu ucapan mengatakan bahwa pengetahuan tentang kesatuan hidup merupakan pengetahuan yang besar meliputi bumi dan kemanusiaan dan jika manusia mengabaikan prinsip kemanusiaan tersebut, maka manusia akan menjadi hancur dan menghancurkan. Pernyataan Ahmad Dahlan secara kontekstual menuntut Muhammadiyah untuk terus-menerus merevitalisasikan penyelenggaraan pendidikannya.