GAGASAN “GERAKAN ASPAL BUTON MENGGANTIKAN ASPAL IMPOR”, LAYU SEBELUM BERKEMBANG?

Oleh: Indrato Sumantoro (Pemerhati aspal Buton)
Apa yang salah dengan gagasan “Gerakan Aspal Buton Menggantikan Aspal Impor”? Mengapa masyarakat menyambutnya dengan dingin tanpa antusias ? Mengapa warga Buton sendiri menyikapi ide ini tanpa greget, bagaikan angin lalu? Apa yang salah dengan gagasan ini, sehingga seolah-olah gagasan ini tidak penting? Apakah aspal Buton menggantikan aspal impor ini tidak penting? Apakah gagasan ini merupakan “prank”? Sebuah lelucon yang memang perlu dan harus ditertawakan?
Menurut hemat kami, yang sebenarnya harus ditertawakan adalah kebijakan pemerintah yang sudah puluhan tahun mengimpor aspal. Padahal Indonesia sudah memiliki aspal alam Buton. Sudah banyak pejabat tinggi negara yang datang berkunjung ke Pulau Buton untuk menyaksikan tambang-tambang aspal Buton. Dan sudah banyak janji-janji “angin surga” yang diberitakan di Media-media massa. Antara lain, bahwa Pulau Buton akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus aspal. Tetapi mirisnya, semua itu hanya “lip service”, yang hanya manis di bibir saja. Apakah ini tidak lucu?
Marilah kita “flash back” dan menengok ke belakang sejenak. Berita ini dikutip dari sumeks.co tanggal 22 Januari 2019, dengan judul “Pemuda Buton Potong Tangan di Depan Istana”. Beritanya antara lain, La Ode Tasrifin, salah satu pemuda asal Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, terpaksa harus melukai dirinya sendiri. Dengan menggunakan silet, Tasrifin memotong tangan kirinya sebagai bentuk kekecewaan terhadap Presiden Joko Widodo. Massa aksi kecewa dengan janji Presiden Joko Widodo yang sampai saat ini belum direalisasi. Janji yang dimaksud adalah terkait dengan pengelolaan aspal Buton.
Membaca artikel berita di atas, apakah kita masih bisa tertawa?. Haruskah untuk memperjuangkan aspal Buton, darah dan air mata harus menetes?. Para pemuda unjuk rasa ini datang jauh-jauh dari Pulau Buton ke Jakarta, hanya untuk menerima kekecewaan. Mengapa bukan Bapak Presiden Joko Widodo yang datang ke Pulau Buton? Mengapa harus rakyat Pulau Buton yang datang ke Jakarta? Jarak dari kota Kendari ke kota Bau-Bau di Pulau Buton tidaklah jauh. Mengapa Presiden Joko Widodo sudah sering kali datang mengunjungi kota Kendari, tetapi tidak pernah mau mampir sebentar ke kota Bau-Bau di Pulau Buton? Pulau Buton adalah bukan pulau biasa. Pulau Buton adalah pulau yang sangat istimewa. Di Pulau Buton terdapat tambang aspal alam Buton yang merupakan tambang aspal alam satu-satunya di Indonesia. Yang sekarang nasibnya “hidup segan, matipun tak mau”. Apakah Pak Jokowi tidak merasa iba dan kasihan?
“Gerakan Aspal Buton Menggantikan Aspal Impor” adalah gagasan untuk mengundang Bapak Presiden Joko Widodo datang ke Pulau Buton. Kalau Pak Jokowi jadwalnya sangat padat dan selalu sibuk, tidaklah mengapa Pak Jokowi dan keluarga datang ke Pulau Buton untuk berlibur. Banyak objek-objek wisata yang dapat dinikmati. Selain pemandangan alamnya yang sangat mempesona, ada benteng Keraton bersejarah dan terbesar di dunia. Kemudian selain tambang-tambang aspal alam Buton, budaya dan ramah tamah penduduknya akan membuat Pak Jokowi kangen untuk ingin berkunjung kembali ke Pulau Buton. Jangan berkata sudah pernah mengunjungi Pulau Buton, kalau belum pernah bertemu dengan cantiknya gadis Buton bermata biru. Dan masih banyak lagi objek wisata yang menarik di Pulau Buton, selain aspal Buton.