Masjid Tua Wawoangi Pilihan Tempat Beribadah di Busel
Bagikan

Laporan Nusman, BUTON SELATAN
SAAT ini untuk terus mempertahankan, melestarikan Masjid Tua Wawoangi ini, Pemkab Busel sudah masukan (sebagai situs) cagar budaya, dari 11 cagar budaya itu, sudah masuk 10 besar cagar budaya nasional.
Konon masjid ini merupakan yang pertama berdiri sejak pertama kali Syekh Abdul Wahid membawa syiar Islam di tanah Buton. Almukaram menyepi diatas bukit tinggi jauh dari pemukiman warga. Masyarakat sekitar meyakini masjid ini sangat berkat (Kabarakati Masigi Wawoangi) dan menyimpan cerita mistis. Sejumlah masyarakat setempat turun temurun meyakini masjid ini sangat agung.
Untuk menuju Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa sekitar 1 jam dari Kota Baubau. Setengah jam dari ibukota Kabupaten Busel, Batauga. Dan Masjid Tua itu terletak di atas bukit di Desa Wawoangi. Moda transportasi kendaraan roda dua maupun roda empat sudah bisa sampai di halaman masjid.
Dari pemukiman warga dusun Laguali, Desa Wawoangi, jarak masjid barakati itu mencapai 3 kilometer. Sarana jalannya pun sudah bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun empat. Namun medannya cukup menantang, seluruh jalanya sudah teraspal. Di sepanjang jalan ada kawasan pertanian umbi-umbian dan pisang serta pertanian jangka panjang milik masyarakat.
Dari Masjid Tua itu, pemandangan hampir seluruh wilayah desa di Sampolawa dapat dilihat dari bukit Wawoangi. Dari sisi kiri masjid dapat menyaksikan pemukiman warga Kelurahan Katilombu, Jayabakti dan sekitarnya. Tampak jelas pula Desa Tira sejumlah kapal Boti alias Phinisi tampak jelas berjejer terpakir menghiasi bibir perairan Desa Tira.
Tampak jelas juga pasir putih menghiasi mata keelokan pantai Lagundi Ratu empat Desa Bahari.
Tampak dari depan lautan bebas laut Flores, sisi bagian selatan jika cuaca mendukung terlihat pula pulau Batuatas. Di atas bukit itu pula tampak jelas barisan rumah warga Desa Bahari, pasir putih di sepanjang desa tersebut menghiasi pandangan mata. Begitupun lautan lepas laut Banda. Di bagian barat tampak jelas benteng yang hingga kini belum digarap potensi wisatanya dinas terkait.
Masjid Tua Wawoangi ini jauh dari kebisingan kendaraan, maupun pemukiman warga. Untuk menunaikan shalat pun dijamin khusu. Kerap tiap malam Jumat, masyarakat wilayah sekitar menunaikan ritual ibadah menghadap kepada sang khalik, sang pencipta alam semesta Allah SWT.
Pada saat ramadhan seperti saat ini banyak warga yang sengaja datang menyepi dan menunaikan salat sunat maupun salat wajib di masjid yang konon dibangun tahun 1572 itu.
Masjid yang kokoh berdiri di atas bukit, kesejukan alamnya, kerindangan pepohonan, menambah keheningan bila menunaikan ibadah. Angin sepoi-sepoi bertiup dari segala penjuru, udara yang masih segar alami menambah khusunya para jamaah yang ingin beribadah di Masjid Tua itu.
Di paling depan pintu masuk Masjid Tua ada makam yang diyakni Sultan Buton ke -7, La Ode Saparigau atau yang dikenal Syarifuddin Jamal. Selain itu juga ada makam La Ode Gafari (Sangia Rauro, ayah Sultan Buton ke-7, red). Dua makan tersebut berada tepat di depan dipintu utama masjid tertua tersebut. Dan beberapa makam lainya keluarga sahabat, prajurit pengawal Sultan. Di atas kuburan ini ditumbuhi cempaka.
Konon masjid Tua Wawoangi didirikan Syekh Abdul Wahid diperkirakan tahun 1527. Kala itu, menurut sejumlah riwayat yang diketahuinya disebutkan bahwa Islam pertama masuk di Buton melalui wilayah Batuatas kemudian perairan Burangasi, Kecamatan Lapandewa. Usai mendarat dan menginjakan kakinya pertama kali di selatan pulau Buton itu, beliau bergerak menuju Wawoangi. Disinilah ia berinteraksi dengan masyarakat setempat dan menyiarkan tauhid syiar islam.