Hadiri Hari Jadi Baubau ke-485, Syarifuddin Saafa: Teman Dari Buton, Kita Saling Mendukung
Bagikan

PUBLIKSATU, bAUBAU -- Wakil Bupati Buton, Syarifuddin Saafa, S.T., menghadiri peringatan Hari Jadi Kota Baubau ke-485 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Kota Baubau sebagai daerah otonom, (17/10).
Dalam kesempatan tersebut, Syarifuddin menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar Kota Baubau semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, serta penyelenggaraan pemerintahan berjalan dengan baik.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Buton, saya mengucapkan selamat dirgahayu Kota Baubau yang ke-485 dan hari jadi sebagai daerah otonom. Semoga semakin sukses, sejahtera masyarakatnya, dan pemerintahnya berjalan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ia menegaskan, hubungan antara Kabupaten Buton dan Kota Baubau tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Kesultanan Buton. Karena itu, menurutnya, kedua daerah perlu terus membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung dalam mendorong kemajuan kawasan.
“Tentu sebagai sahabat, sebagai teman dari Buton, kita saling mendukung karena kita bicara Buton secara historis, di dalamnya juga ada Baubau,” katanya.
Syarifuddin menjelaskan, wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Baubau, Kabupaten Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Wakatobi, hingga Bombana memiliki keterkaitan dengan sejarah Kesultanan Buton.
Menurutnya, kesadaran terhadap akar sejarah tersebut penting untuk terus dipelihara sebagai landasan memperkuat persaudaraan dan kebersamaan antardaerah.
“Makanya disebut Kerajaan Buton, Kesultanan Buton. Jadi, Buton ini induknya, walaupun sekarang ada Baubau, Busel, Buteng, Buton Utara, Wakatobi, dan Bombana, tetapi dahulu berada dalam sejarah Kesultanan Buton,” ungkapnya.
Ia menambahkan, peringatan hari jadi seperti yang dilaksanakan di Kota Baubau menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan sejarah sekaligus meneladani nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Menurutnya, peradaban Buton memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari pakaian adat hingga tradisi lisan seperti kabanti dan syair yang mencerminkan tingginya nilai seni dan intelektualitas masyarakat pada masa lalu.
“Nilai-nilai itu harus kita jaga. Acara seperti ini mengingatkan kita bagaimana meneladani generasi terdahulu, apalagi mereka mewariskan nilai yang luar biasa,” tuturnya.
Syarifuddin juga menyoroti tradisi literasi dalam sejarah Buton. Ia menyebut Sultan Buton ke-26, La Jampi, yang dikenal dengan nama Sultan Muhammad Kaimuddin, sebagai salah satu tokoh yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan tradisi keilmuan dan literasi di Buton.
Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Buton telah memiliki perhatian terhadap pengetahuan dan budaya membaca sejak masa lampau.
Ia berharap, semangat sejarah, budaya, dan literasi tersebut dapat terus dikembangkan untuk mendorong kemajuan masyarakat di wilayah bekas Kesultanan Buton.
“Insyaallah, ini menjadi tanda bahwa Buton akan semakin maju, pemikirannya semakin terbuka, dan insyaallah akan lebih maju,” pungkasnya. (p4)
